Menjadi bagian dari perluasan semesta Cross-Universe Qodrat, film ini menjanjikan rentetan laga intens berbalut elemen gore yang brutal. Aktor yang akrab disapa Lio ini memerankan tokoh Darso, seorang pengamen jalanan yang kewarasannya runtuh seketika setelah sang istri, Darsi (Dayinta Melira), bersama calon bayi di kandungannya tewas mengenaskan akibat kebiadaban kawanan preman.
Lakoni Adegan Baku Hantam dengan Mata Tertutup
Peran Darso rupanya membawa paket tantangan ekstrem yang belum pernah dicicipi Lio di proyek film sebelumnya. Sepanjang syuting, ia dituntut untuk berlari sambil menggendong boneka, menari magis, hingga melakoni koreografi baku hantam dengan mata tertutup rapat layaknya orang yang sedang kerasukan entitas gaib.Lio pun mengaku sangat bersyukur karena proyek film arahan Charles Gozali ini disokong oleh tim stunt dan penata laga yang sudah sangat berpengalaman di industri perfilman.
"Untungnya kita dapet tim koreo dan tim stunt yang oke. Di sini kita ada Kang Cecep dan ada Bang Joe," ujar Marthino Lio di bioskop Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, pada Jumat, 22 Mei 2026.
Sambil berseloroh, Lio menceritakan momen-momen jenaka sekaligus menegangkan ketika ia tidak sengaja menghajar para pemain pengganti akibat akting berlaga dengan mata tertutup.
Marthino Lio saat perankan karakter Darso di film Badut Gendong (Foto: dok. MAGMA Entertainment)
"Anak-anak stunt-nya, mereka kuat-kuat karena banyak yang jadi korban gua. Tiba-tiba 'pak' ketabok, 'Eh, sorry,' terus melek 'pak' ketabok lagi. 'Maaf bang'," kenang Lio disambut gelak tawa awak media yang hadir di sesi press screening.
Gendong Boneka Seberat 6 Kg dan Workshop Ketat Selama 10 Minggu
Tak hanya dituntut bertarung tanpa melihat, beban fisik Lio kian terkuras karena ia harus menggendong boneka Badut Gendong asli yang memiliki bobot cukup berat di pundaknya selama berjam-jam proses syuting."Kalau berat, itu dibuat se-otentik mungkin ya, beratnya itu sekitar 5 sampai 6 kilo," tutur Lio.
Demi menjaga konsistensi emosi dan estetika gerak tubuh Darso agar tetap sakral, Lio memilih untuk menekan ego improvisasinya dan patuh pada arahan koreografi yang sudah disiapkan oleh sutradara dan tim koreo tari.
"Kalau untuk menari, aku full ikutin instruksi dari Mbak Eli sama Mas Charles. Benar-benar nggak ditambahin dikit-dikit sebagai improvisasi gitu, karena aku ingin menjaga 'rasa' yang sudah dibangun dari awal. Jadi benar-benar dari Mbak Eli sama Mas Charles," lanjutnya.
Menutup pernyataannya, Lio juga menerangkan bahwa dirinya harus menjalani proses workshop koreografi laga selama berbulan-bulan sebelum proses syuting berlangsung.
"Kalau untuk koreografer fight-nya itu ada Mas Panca dan tim. Terus kalau untuk proses berapa lama kita workshop menari, fighting, bela diri, itu kurang lebih sekitar 10 minggu ya. Pagi menari, langsung lanjut bela diri, terus lanjut lagi ke fighting-nya selama 10 minggu itu," tutup Marthino Lio.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News