Jason Ranti dalam film Sesudah Pergaulan Blues (Foto: Sinema Pinggiran)
Jason Ranti dalam film Sesudah Pergaulan Blues (Foto: Sinema Pinggiran)

Film "Sesudah Pergaulan Blues" Tampilkan Sosok Jason Ranti di Balik Panggung

Hiburan film dokumenter jason ranti
Purba Wirastama • 20 Mei 2019 12:21
Jakarta: Jason Ranti dikenal sebagai musisi solo yang terkesan spontan dan slebor di atas panggung. Sesudah Pergaulan Blues, film dokumenter garapan sutradara Allan Soebakir, berusaha memotret sosok lain Jason yang jarang terlihat di publik.
 
Itu termasuk perhatian Jeje (panggilan akrab Jason) pada istri dan anaknya, momen tegang dan sendirian di tangga menuju panggung, serta kekecewaan dia pada Badan Ekonomi Kreatif (BEKRaf) dalam sebuah acara musik.
 
Potongan berbagai momen itu ditampilkan, bergantian dengan potongan penampilan lagu-lagu Jason dari album debutnya, Akibat Pergaulan Blues. Benang merahnya adalah membuat Jeje terasa lebih dekat dengan penonton. Terkait gaya, Allan memilih pendekatan "raw" atau terkesan kasar seadanya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Gue ingin penonton dekat dengan Jason dan (dokumenter) ini juga sebagai jembatan ke album kedua," kata Allan kepada wartawan Medcom.id usai pemutaran Sesudah Pergaulan Blues versi 70 menit di Kios Ojo Keos Jakarta, Minggu, 19 Mei 2019.
 
Bukankah Jeje sudah terasa akrab dengan penonton?
 
"Gue ingin lebih masuk lagi. Siapa yang tahu ketika dia dan Koko 'Woyoo' (anak Jeje) jalan-jalan naik mobil, dia masih suka bercanda? Atau ke pantai dengan Caroline, atau betapa dia benci dengan BEKRaf? Banyak hal yang kayaknya harus (diceritakan)," tutur Allan.
 
"Kalau lucu atau spontan, orang sudah tahu, tetapi pada saat tertentu, dia juga akan merespons hal yang dia tidak suka. Misalnya soal BEKRaf – dia enggak suka, dia langsung omong," imbuhnya.
 
Materi film dokumenter ini berasal dari rekaman Allan dan timnya selama beberapa pekan mengikuti Jeje dari panggung ke panggung musik, khususnya setelah Jeje merilis Akibat Pergaulan Blues. Menurut Allan, total footage video sekitar 1 Terabyte.
 
"Banyak banget. Gue bisa bikin (durasi dokumenter ini menjadi) dua jam, tetapi gue harus konsentrasi banget. Nanti kita lihat deh perkembangannya," kata Allan.
 
Proses pembuatan dokumenter ini terbilang tidak biasa. Semula, Allan meniatkan filmnya berdurasi 20 menit saja. Versi awal ini terasa sangat ringkas. Setelah dia menayangkan ke beberapa rekan dan mendapat masukan, filmnya berkembang menjadi 40 menit. Lalu ada berbagai masukan lain hingga menjadi 70 menit.
 
Versi terakhir ini juga masih belum benar-benar akhir. Setelah acara pemutaran di 10 kota serentak pada 19 Mei 2019, kemungkinan besar dia akan melakukan "revisi" lagi hingga menjadi durasi 90 menit. Dia berencana punya versi final sebelum mengirim filmnya ke Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan Festival Film Dokumenter (FFD).
 
"Targetnya di JAFF dan Festival Film Dokumenter. Sampai di situ, sampai kirim bulan depan, gue sudah harus matang. Namun secara garis besar (sudah seperti ini)," tukas Allan.

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif