Poster MACABRE ART INSTALLATION (Foto: dok. Come and See Pictures)
Poster MACABRE ART INSTALLATION (Foto: dok. Come and See Pictures)

Joko Anwar Hadirkan Pameran Instalasi Horor, Terinspirasi Film Ghost in the Cell

Basuki Rachmat • 15 Mei 2026 21:51
Ringkasnya gini..
  • Joko Anwar hadirkan instalasi horor Ghost in the Cell ke dunia nyata lewat pameran MACABRE ART INSTALLATION.
  • MACABRE ART INSTALLATION tampilkan enam karya horor grotesk dari film Ghost in the Cell karya Joko Anwar.
  • Come and See Pictures gabungkan film, seni kontemporer, dan kritik sosial dalam pameran horor imersif di Jakarta.
Jakarta: Rumah produksi Come and See Pictures kembali menghadirkan eksplorasi unik dalam kampanye film Indonesia lewat gelaran bertajuk MACABRE ART INSTALLATION. Pameran instalasi seni ini terinspirasi dari film horor komedi Ghost in the Cell karya sineas Joko Anwar.
 
Pameran tersebut menghadirkan enam karya “macabre art” yang sebelumnya muncul di dalam film dan kini diwujudkan ke dunia nyata dalam bentuk instalasi fisik berskala penuh. Proyek ini menjadi kolaborasi lintas disiplin antara sineas, ilustrator, prosthetic artist, make-up artist, costume designer, sound artist, hingga tim artistik.
 
MACABRE ART INSTALLATION digelar di Nirmana Falatehan mulai 16 hingga 22 Mei 2026 dan terbuka untuk umum secara gratis setiap hari pukul 10.00–20.00 WIB.

Enam instalasi yang dipamerkan terdiri dari:

1. The Fan
2. Shower Head
3. The Stove
4. The Dancer
5. Flood Light
6. Lady Justice
Dalam narasi film Ghost in the Cell, karya-karya tersebut muncul sebagai bagian dari elemen horor sekaligus kritik sosial. Seluruh instalasi diceritakan berasal dari tindakan brutal sebuah entitas dari hutan Kalimantan yang habitatnya hancur akibat deforestasi dan aktivitas tambang nikel. Entitas tersebut kemudian membunuh manusia dengan aura paling negatif dan membentuk tubuh mereka menjadi objek seni grotesk.

Lewat pameran ini, karya-karya tersebut dipindahkan keluar dari medium layar dan dihadirkan secara langsung agar dapat dialami secara fisik dan personal oleh pengunjung.
 
“Film membuat penonton melihat. Ruang pamer membuat pengunjung berhadapan langsung dengan isu di dalam film,” ujar Joko Anwar selaku sutradara dan penulis Ghost in the Cell.
 
Melalui pengalaman ruang, suara, tekstur, pencahayaan, hingga skala fisik instalasi, pengunjung diajak masuk ke atmosfer yang sebelumnya hanya hadir dalam medium sinema. Pameran ini sekaligus membuka ruang dialog mengenai tubuh, kekerasan, konsumsi, kekuasaan, dan bagaimana manusia dapat berubah menjadi objek dalam sistem sosial yang brutal.
 
Tak hanya menjadi perluasan artistik dari film, proyek ini juga merupakan bagian dari upaya Come and See Pictures untuk memperkenalkan seni instalasi dan seni kontemporer kepada generasi muda melalui medium yang lebih dekat dengan keseharian mereka, yakni film dan budaya populer.
 
Rumah produksi tersebut juga menegaskan bahwa film bukan sekadar medium tunggal, melainkan titik temu berbagai bentuk seni. Lewat proyek ini, proses kreatif perfilman diperlihatkan secara terbuka sebagai hasil sinergi ilustrasi, sculpture, prostetik, tata rias, tata kostum, musik, tata suara, pencahayaan, desain ruang, hingga storytelling sinematik.
 
Seluruh karya instalasi diawali dari interpretasi visual para concept artist Indonesia sebelum diterjemahkan menjadi objek nyata melalui proses sculpting, molding, prostetik, tata artistik, hingga sound ambience khusus untuk masing-masing karya.
 
Sejumlah concept artist yang terlibat dalam proyek ini antara lain Anwita Citriya, Benediktus Budi, Benny Kusnoto, Coki Greenway, Hafidzjudin, dan Rudy Ao.
Sementara realisasi fisik instalasi dikerjakan bersama kolaborator lintas bidang seperti Dennis Sutanto (Art Director), Novie Ariyanti (Make-up Effects), Ical Tanjung (Lighting), Monika Paska (Costume Designer), M. Anwar (Prosthetic Artist), Aghi Narottama (Sound and Music Design), serta Tony Merle (Music Collaboration).
 
Dengan pendekatan visual yang memadukan horor, seni kontemporer, satire sosial, dan pengalaman imersif, MACABRE ART INSTALLATION menjadi salah satu eksplorasi lintas medium paling ambisius dalam kampanye film Indonesia belakangan ini.
 
Pameran ini diharapkan menjadi ruang temu antara penonton film, pecinta seni, komunitas kreatif, hingga generasi muda yang ingin melihat bagaimana sebuah dunia sinematik dapat hidup melampaui layar bioskop.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA