Mengusung latar Indonesia pada 1964, Lobang Buaya menghadirkan kisah misteri pembunuhan berantai yang penuh teror. Film ini sekaligus menjadi ruang eksplorasi Hanung untuk mengangkat rasa “horror” kolektif yang kerap muncul di tengah masyarakat Indonesia setiap memasuki bulan September.
Tak sekadar menghadirkan ketegangan, film tersebut juga membawa kritik terhadap berbagai persoalan sosial yang masih relevan hingga saat ini. Pendekatan horor digunakan Hanung untuk menggambarkan ketakutan yang lahir dari persoalan kekuasaan, ketidakadilan, hingga penindasan.
Kengerian tersebut turut tergambar dalam final poster yang baru dirilis. Dalam poster tersebut, terlihat sebuah tangan misterius seolah menembus punggung berlubang seorang perempuan. Visual penuh teka-teki itu menjadi gambaran awal dari teror utama yang akan menghantui para karakter dalam film.
Sementara itu, official trailer memperkenalkan sosok Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra. Ia merupakan anggota militer yang ditugaskan menyelidiki serangkaian pembunuhan misterius yang terjadi setiap tanggal 30 di Desa Lobang Buaya.
Baskara mengatakan, penonton nantinya akan diajak mengikuti perjalanan Soegeng dalam mengumpulkan berbagai petunjuk untuk mengungkap dalang di balik rangkaian pembunuhan tersebut.
“Lewat film ini, kalian akan mengikuti setiap langkah Soegeng untuk ‘mencari dalang’ dibalik misteri pembunuhan berantai ini. Saya yakin dari setiap petunjuk yang ditemukan, setiap korban yang berjatuhan, penonton akan dibawa melalui perjalanan yang ga cuma menegangkan dan seru, tapi juga membuat kita bertanya, siapa yang berdosa dalam kisah ini?” tutur Baskara Mahendra dalam keterangan resmi yang diterima Medcom.id.
Hanung Bramantyo Angkat Rasa Takut Kolektif
Bagi Hanung Bramantyo, horor dalam Lobang Buaya tidak hanya berfungsi sebagai elemen untuk menakut-nakuti penonton. Genre tersebut dipilih untuk menggambarkan rasa takut kolektif yang muncul ketika masyarakat berhadapan dengan sejarah kelam dan berbagai persoalan yang selama ini dianggap tabu.Hanung menilai ada topik tertentu dalam sejarah Indonesia yang hingga kini masih sulit dibicarakan secara terbuka. Karena itu, ia mencoba menerjemahkan perasaan tersebut ke dalam bahasa horor melalui film terbarunya.
“Dari saya kecil sampai sekarang, seakan-akan ada satu topik yang dianggap tabu untuk dibicarakan. Saya berpikir kembali, perasaan apa yang kita rasakan ketika mendengar peristiwa ‘65? Jawabannya adalah horor. Saya memilih horor bukan hanya karena ingin membuat penonton merasakan ketakutan yang ada di dalam cerita, tetapi juga horor yang kita rasakan dari persoalan kekuasaan, korupsi, dan bagaimana manusia bisa saling menindas.” tutur Hanung.
Sinopsis Film Lobang Buaya
Film Lobang Buaya mengambil latar setahun sebelum peristiwa kelam 1965. Kala itu, Desa Lobang Buaya diteror serangkaian pembunuhan terhadap sejumlah tokoh desa.Para korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan punggung berlubang. Tak hanya itu, tubuh mereka juga dipenuhi sayatan berupa kata-kata sindiran seperti “Tamak”, “Lamis”, dan “Maruk”.
Situasi semakin mencekam setelah rumor mengenai sosok “Hantu Bolong” menyebar di tengah masyarakat. Ketegangan sosial pun meningkat hingga akhirnya Letnan Soegeng (Baskara Mahendra) ditugaskan untuk mengungkap siapa dalang di balik pembantaian tersebut.
Namun, penyelidikan Soegeng bukan satu-satunya teror yang harus dihadapinya. Sang istri baru, Arum Wangi (Carissa Perusset), mulai mengalami gangguan dari arwah seorang perempuan yang menuntut bagian tubuhnya dikembalikan.
Panggilan arwah yang menyebut Arum sebagai Ronggeng perlahan membuka misteri yang lebih besar. Kekacauan yang terjadi di desa maupun dalam rumah tangga Soegeng ternyata bukan kebetulan, melainkan bagian dari ritual gelap yang berbahaya dan memiliki kaitan dengan perubahan arah sejarah.
Bagi Sobat Medcom yang penasaran dengan teror dan misteri yang ditawarkan Lobang Buaya, film ini dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026.