Saat pertama kali dirilis, sejumlah adegan penting dalam film produksi Miles Films tersebut harus berhadapan dengan gunting sensor dari Lembaga Sensor Film (LSF). Beberapa adegan yang dianggap sensitif, mulai dari adegan ciuman, seks, hingga penggunaan ganja, dipotong sebelum film ditayangkan di bioskop Indonesia.
Kisah perjuangan tersebut kembali diungkap Riri Riza dan Mira Lesmana dalam acara intimate screening 3 Hari Untuk Selamanya versi uncensored yang digelar demajors di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, Selasa, 23 Juni 2026.
Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka menyambut perilisan album original soundtrack film dari grup musik Float dalam format piringan hitam (vinyl).
Mira Lesmana mengenang masa ketika dirinya bersama para sineas lain tengah memperjuangkan kebebasan berekspresi di tengah regulasi sensor yang dianggap membatasi ruang kreatif pembuat film.
"Jadi di 2006 selesai kita syuting '3 Hari Untuk Selamanya', kita semua memang sangat-sangat gelisah gitu dengan sensor pada saat itu gitu. Jadi ketika kita kemudian menyelesaikan '3 Hari Untuk Selamanya', itu juga sambil kita sampai ke Mahkamah Konstitusi untuk berperang melawan sensor," tutur Mira.
Menurutnya, perilisan 3 Hari Untuk Selamanya saat itu menjadi bentuk pernyataan sikap bahwa sineas Indonesia tetap ingin memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan secara utuh.
"Tapi '3 Hari Untuk Selamanya' ini menjadi apa ya, film yang kami sengaja rilis walaupun waktu itu rilisnya tidak luas, tapi untuk mengatakan bahwa ya kami ingin diberi kebebasan untuk tetap bisa bersuara. Meskipun disensor, di Mahkamah Konstitusi kita sampaikan apa saja yang kita tidak boleh kita lakukan," lanjutnya.
Mira menegaskan semangat tersebut masih terus dipegang oleh Miles Films hingga hari ini.
"Dan spirit itu sampai hari ini tetap kami pegang begitu. Dan lagu-lagu dari '3 Hari Untuk Selamanya' dari Float itu juga punya spirit itu," ungkap Mira.
Sementara itu, Riri Riza menyebut kehadiran 3 Hari Untuk Selamanya bertepatan dengan momentum penting ketika para pembuat film sedang mencari dasar hukum untuk menentang praktik sensor yang dianggap melanggar hak konstitusional warga negara.
"Film ini lahir di timing yang tepat banget waktu itu karena kita lagi butuh argumen apa sih yang melanggar hak asasi atau hak konstitusional warga pembuat film yang ada di dalam undang-undang perfilman kita waktu itu. Tapi intinya itu adalah waktu yang sangat menarik gitu untuk menunjukkan keberanian perlawanan," ujar Riri Riza.
Ia mengungkapkan versi bioskop film tersebut kehilangan cukup banyak adegan akibat sensor yang dilakukan LSF.
"Filmnya disensor kurang lebih 3 menit ya, jadi hampir semua adegan-adegan menghisap ganja itu dipotong, adegan melinting ganja itu dipotong. Jadi kalau kita lihat versi bioskopnya waktu itu, itu film ini potong-potong lalu lagunya Float dipotong-potong juga begitu. Itu yang terjadi dan memang kita nggak bisa ngapa-ngapain," lanjutnya.
Menurut Riri, kondisi tersebut menjadi bagian dari sejarah perfilman Indonesia yang penting untuk diingat.
"Itu sebuah pernyataan tidak bisa ngapa-ngapainnya pembuat film di masa itu dan itu bagian dari sejarah sih. Sebenarnya kalau lihat VCD-nya juga kita bisa lihat kekuatan sensor di masa itu yang berbeda banget ama sekarang," tutur Riza.
Miles Films Pernah Boikot FFI
Dalam kesempatan yang sama, Riri juga mengungkapkan sikap Miles Films terhadap Festival Film Indonesia (FFI) pada periode 2007 hingga 2010. Saat itu, Miles memilih tidak mendaftarkan film-filmnya sebagai bentuk sikap terhadap sistem yang berlaku."Terus satu lagi, kita sebenarnya tidak mau ikut-ikut sama sekali sama pemerintah waktu itu. Jadi film ini mungkin bisa tercatat tidak pernah menang FFI," kata Riri.
Ia menegaskan absennya film-film Miles dari ajang FFI pada periode tersebut bukan karena tidak layak bersaing, melainkan karena keputusan untuk tidak berpartisipasi.
"Film-film Miles sejak tahun 2007 sampai 2010 nggak pernah masuk nominasi FFI karena kita nggak mau ikut. Jadi kita nggak masuk nominasi bukan karena kita nggak jago. Walaupun yang menang juga belum tentu jago waktu itu," ujarnya sambil bercanda.
"Tapi intinya kita tidak ikut, kita memutuskan nggak daftar. Karena FFI itu institusi negara yang menjadi tempat kita mendaftar. Jadi, maaf banget Meng, sebenarnya bisa saja menang Piala Citra," tutup Riri yang disambut tawa para audiens.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda