Ario Bayu dalam film Buffalo Boys (Foto: Screenplay Infinite Films)
Ario Bayu dalam film Buffalo Boys (Foto: Screenplay Infinite Films)

Ulasan Film Buffalo Boys

Purba Wirastama • 19 Juli 2018 11:58
Sejak awal mula, Buffalo Boys menyatakan diri sebagai percampuran fiksi dan sejarah. Pada paruh kedua abad ke-19, Indonesia pra-republik masih dikuasai oleh koloni Kerajaan Belanda dan sementara itu, daratan Amerika punya jagoan bersenjata dan berkuda yang akrab dijuluki koboi. Kedua semesta itu dihubungkan oleh Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso), kakak-beradik asal Jawa bergaya koboi yang sekian tahun bekerja di kereta api Amerika bersama sang paman bernama Arana.
 
Jamar dan Suwo adalah putra salah satu Sultan di Jawa. Saat masih bayi, mereka dibawa kabur dari tanah Jawa oleh Arana (Donny Alamsyah) karena alasan keamanan. Suatu hari, Jamar dan Suwo, yang gemar berjudi lewat pertarungan fisik, diajak pulang ke Jawa oleh Arana (Tio Pakusadewo). Dia merasa sudah waktunya melakukan pembalasan. Dua kakak-beradik itu pun pulang ke tanah kelahiran mereka yang asing. 
 
Dengan pencampuran itu, mari kita sebut film ini sebagai "western rujak," yang menambah katalog film-film Indonesia dengan gaya western atau cerita spesifik koboi sejak Benyamin Koboi Ngungsi (1975). Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017), yang menyajikan cerita perlawanan seorang perempuan di perbukitan sabana Sumba Timur, disebut-sebut sebagai "western sate". Untuk Buffalo Boys, koboi masuk pedesaan Jawa klasik dengan lanskap sawah padi dan hutan adalah satu tawaran segar. Terselip pula pernyataan protes atas kultur masyarakat patriarki yang mengekang perempuan. 

Ulasan Film Buffalo Boys
 
Pembenturan kreatif berbagai elemen cerita yang dilakukan penulis-sutradara Mike Wiluan dan rekan penulis Rayya Makarim memang terasa sangat bebas dan luas hingga ke soal bahasa. Kita bisa menjumpai pasukan koloni Belanda yang berbahasa Inggris atau rakyat pribumi yang sudah berbahasa Indonesia baku. 
 
Pilihan bahasa Indonesia ini adalah upaya untuk menebalkan kesan otentik dan klasik, tetapi beberapa pemain terkesan sulit untuk berekpresi meyakinkan dengan bahasa ini. Ario Bayu, kendati telah berhati-hati memakai kosakata sesuai untuk karakter Jamar, selip juga saat Jamar marah dan berkata dalam dialek slang Jakarta masa kini: ngapain.
 
Porsi drama, mulai dari kerapuhan hati Arana hingga hubungan Suwo dan Kiona (Pevita Pearce), memang lebih dominan ketimbang laga. Pertarungan seru Daud melawan Goliath menjadi sajian pembuka untuk membangun karakter Jamar yang kuat dan Suwo yang lebih ramah serta banyak bicara. Setelah itu, kita melihat perkenalan para tokoh protagonis dan antagonis secara bertahap. 
 
Ulasan Film Buffalo Boys
 
Titik-titik laga dalam perjalanan film ini cukup seru. Bumbu-bumbu ledakan, tembakan, api, serta senjata tajam dan darah hadir lengkap dalam pertarungan atau duel yang sebagian besar bela diri. Namun aspek laga ini terasa intens tetapi hanya di permukaan, mungkin karena aspek drama dan konflik personal yang kurang menggigit dalam. Padahal pemain, yang sebagian besar punya riwayat menarik dalam akting film, terasa sudah tampil secara maksimal. 
 
Beberapa nama lain di antaranya, Tio Pakusadewo, Donny Alamsyah, El Manik, Donny Damara, Happy Salma, Sunny Pang, Reinout Bussemaker, dan Mike Lucock. Lalu ada Alex Abbad, aktor pendukung yang berhasil "mencuri panggung" dengan bumbu komedi ketika tampil sebagai Fakar, salah satu begundal anak buah Gubernur Van Trach. 
 

Buffalo Boys
Sutradara: Mike Wiluan
Penulis: Mike Wiluan & Rayya Makarim
Produksi: Infinite Studios, Zhao Wei Films, Bert Pictures
Durasi: 102 menit
Klasifkasi LSF: 17+

 

 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA