Disutradarai Monty Tiwa, GJLS: Berapi-Api menawarkan cerita yang lebih matang dengan sentuhan komedi yang tetap menjadi ciri khas GJLS. Film ini juga mengangkat tema persahabatan yang diharapkan bisa dekat dengan berbagai kalangan penonton, mulai dari sahabat, pasangan, hingga keluarga.
Rigen Rakelna mengatakan, film terbaru ini memang dirancang untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda dari karya GJLS sebelumnya. Tidak hanya mengandalkan komedi, mereka juga ingin menyuguhkan cerita yang lebih kuat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Memang dari awal kami mau membawakan sesuatu yang baru dari GJLS untuk Berapi-Api. Jadi sekarang gak cuma komedi yang hadir di film ini, tapi juga cerita yang lebih kuat dan dekat dengan kita semua,” tutur Rigen dalam keterangan resmi yang diterima Medcom.id.
Senada dengan Rigen, Ananta Rispo menyebut persahabatan menjadi salah satu inti cerita yang ingin mereka sampaikan melalui film ini. Ia juga ingin membawa semangat persahabatan yang telah terjalin di antara para personel GJLS ke layar lebar.
“Pada intinya, film ini adalah tentang persahabatan. Kami mau menunjukkan semangat persahabatan yang kami miliki dari dulu dalam bentuk sebuah film,” tambah Ananta.
Sementara itu, Hifdzi Khoir mengaku senang akhirnya bisa mengajak keluarganya menyaksikan film GJLS di acara gala premiere. Ia bahkan melontarkan candaan bahwa dirinya tidak berani melakukan hal serupa saat film sebelumnya tayang.
“Senang banget akhirnya di film ini saya bisa bawa keluarga saya buat nonton di gala premiere, kalau yang film sebelumnya gak berani soalnya,” kelakar Hifdzi.
Selain ketiga personel GJLS, film ini juga dibintangi sejumlah aktor dan komika lintas talenta, di antaranya Carissa Perusset, Aurra Kharisma, Indira Ayu Maharani (Inayma), Ebel Cobra, Grace Emmanuela, Yono Bakrie, Nigel Siwabessy, Rio Dumatubun, dan Sadha Triyudha.
Sinopsis Film GJLS: Berapi-Api
GJLS: Berapi-Api mengikuti kisah tiga sahabat karib, Rigen (Rigen Rakelna), Hifdzi (Hifdzi Khoir), dan Rispo (Ananta Rispo), yang berambisi menjadi petugas pemadam kebakaran. Mereka ingin merasakan sensasi menjadi sosok heroik saat berhasil memadamkan api.
Namun, ambisi tersebut tidak berjalan mulus. Setelah gagal melewati pelatihan keras bersama regu legendaris Algojo Api, ketiganya justru ditempatkan di divisi pelayanan. Alih-alih terjun langsung memadamkan kebakaran, mereka hanya mendapat tugas harian yang dianggap sepele.
Tak ingin terus tertahan di divisi tersebut, ketiganya nekat mencari jalan pintas agar bisa membuktikan kemampuan dan bergabung dengan tim utama penakluk api. Sayangnya, keputusan itu justru membawa mereka ke dalam misi berbahaya untuk menyelamatkan anak-anak yang berada dalam cengkeraman sindikat kriminal.