The Bell: Panggilan untuk Mati coba dengan cerita yang memiliki akar budaya kuat. Film horor ini mengangkat folklore yang masih jarang dieksplorasi ke layar lebar.
Cerita berpusat pada sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat. Namun, situasi berubah mencekam ketika sekelompok anak muda nekat mencurinya demi membuat konten viral. Tanpa mereka sadari, tindakan itu justru membangkitkan ancaman besar yang seharusnya tetap tersembunyi.
Pencurian tersebut membebaskan Penebok, sosok hantu tanpa kepala bergaun merah yang telah terkurung selama ratusan tahun. Kehadirannya langsung membawa teror mengerikan, memburu mereka satu per satu dan meninggalkan jejak kematian dengan kepala terpenggal.
Dalam situasi yang semakin menegangkan, Danto yang diperankan Bhisma Mulia dan Airin yang dimainkan Ratu Sofya ikut terseret dalam rangkaian peristiwa tersebut. Teror yang awalnya hanya mengancam sekelompok anak muda perlahan menyebar hingga ke seluruh warga desa.
Sutradara Jay Sukmo menghadirkan pendekatan visual yang berbeda melalui penggunaan tiga aspek rasio gambar untuk membedakan setiap periode waktu dalam cerita. Teknik ini membuat perpindahan waktu terasa lebih jelas sekaligus memberi pengalaman menonton yang lebih imersif.
“Saya ingin menakut-nakuti penonton dengan cerita dan situasi, bukan cuma jumpscare. Ada treatment yang mungkin belum ada di film horor lain, seperti penggunaan tiga frame aspek rasio yang berbeda untuk menggambarkan setiap periodenya,” kata Jay Sukmo.
Melalui pendekatan tersebut, Jay Sukmo ingin membangun ketegangan yang lebih halus namun membekas. Sosok Penebok sendiri diperkenalkan sebagai ikon horor baru yang berakar dari mitos lokal Indonesia. Tidak hanya menjadi elemen seram, Penebok juga merepresentasikan kekuatan folklore yang selama ini hidup di masyarakat namun jarang diangkat secara maksimal dalam film layar lebar.
Aktor senior Mathias Muchus menilai kehadiran Penebok menjadi kekuatan utama film ini karena menghadirkan horor yang tidak sekadar menakutkan, tetapi juga memiliki makna budaya yang dalam.
“Film ini tidak hanya menghadirkan horor, tetapi juga memperkenalkan Penebok sebagai bagian dari mitos yang hidup di masyarakat. Bagi saya, ini menarik karena horor yang dibangun bukan sekadar menakutkan, tetapi memiliki akar budaya dan makna yang kuat, sesuatu yang penting untuk dihadirkan agar penonton tidak hanya merasa takut, tetapi juga memahami," kata Mathias Muchus.
Selain tayang di Indonesia pada 7 Mei 2026, film ini juga akan memperluas langkah ke pasar internasional dengan berpartisipasi dalam Cannes Film Market pada 12–20 Mei 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News