Jumpa pers Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 14 di Jakarta Pusat, Rabu, 16 Oktober 2019. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
Jumpa pers Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 14 di Jakarta Pusat, Rabu, 16 Oktober 2019. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Merayakan Kebangkitan Film Asia di JAFF 2019

Cecylia Rura • 16 Oktober 2019 22:25
Jakarta: Festival film tahunan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) memasuki tahun gelaran ke-14. JAFF tahun ini mengambil tema Revival sebagai penanda era bangkitnya industri film Asia khususnya Indonesia.
 
"Harfiahnya diartikan sebagai kebangkitan. Kita membaca bahwa sekarang identitas film Asia mulai bangkit. Kita benar-benar rutin menggali lagi tentang kekayaan identitas Asia," kata Ifa Isfansyah, Festival Director JAFF 14 di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu, 16 Oktober 2019.
 
Pemilihan tema besar ini berdasarkan bacaan tim di balik festival tentang industri film Asia dalam 5-10 tahun ke depan dan 5-10 tahun ke belakang. Untuk kali pertama, JAFF akan diselenggarakan dalam satu venue yakni XXI Empire Yogyakarta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tahun ini semua film diputar di situ. Ada lima screen, layar untuk penjurian, festival center, stage, semua berpusat di situ dan sekitar situ," kata Ifa Isfansyah.
 
Tahun ini akan ada 107 judul film dari 745 submisi yang telah dikurasi. Film-film ini ditayangkan dalam program pemutaran JAFF 2019 yakni kompetisi dan non-kompetisi di antaranya Asian Perspectives, Asian Feature, Light of Asia, JAFF Indonesian Screen Awards, dan Open Air Cinema.
 
Submisi dari 745 judul dari 39 negara dikurasi menjadi 107 film yang berasal dari 23 negara yakni Indonesia, Filipina, Kamboja, Cina, Australia, Iran, Korea Selatan, Singapura, india, Vietnam, Jepang, Thailand, Kyrgyzstan, Sri Lanka, Bhutan, Jordan, Malaysia, Uzbekhistan, Tibet, Hong Kong, Amerika Serikat, Georgia, dan Bangladesh.
 
Program-program dan apresiasi terhadap sineas tak jauh berbeda dari gelaran JAFF tahun lalu seperti Asian Feature yang menjadi kompetisi memperebutkan Golden dan Silver Hanoman. Ada Screen Awards yakni kompetisi film panjang Indonesia di JAFF 14.
 
"Juri berasal dari luar Indonesia sehingga memiliki perspektif berbeda dari yang biasa kita lihat di Indonesia," ungkap Reza Fahri, Program Director JAFF 14.
 
Selain ragam kompetisi, JAFF tahun ke-14 menyelenggarakan beberapa program edukasi yakni Art for Children, Public Lecture, dan Forum Komunitas. Masterclass dalam JAFF Education adalah program lokakarya film untuk pemula yang berfokus pada edukasi seni secara umum. JAFF Education menghadirkan salah satu rigging gaffer profesional asal New Zealand, Sean O'Neill, sineas yang terlibat di departemen sinematografi film The Great Wall (2016), Alien: Covenant (2017), dan Mulan (2020).
 
JAFF juga menjadi ajang kolaborasi lintas seni, seperti tahun ini dalam pembuatan artwork JAFF 14 menggandeng duo seniman lokal Rara Kuastra dan Putud Utama yang menamakan diri mereka Tempa.
 
"Saat membuat JAFF salah satu yang selalu ingin dicoba menjadikan JAFF jendela literasi seni secara keseluruhan. Salah satunya kita bekerja dengan seniman lokal terutama di Yogyakarta untuk mengapresiasi karya mereka," kata Kamila Andini, Artistic Director JAFF 14.
 
Selain merayakan kebangkitan industri film Asia, JAFF 14 merayakan 100 tahun sinema Bengali dengan menayangkan sejumlah karya terbaik dari sinema Bengali, sinema tertua di Asia di India. Sinema Bengali melakukan produksi sejak 8 November 1919
 
Jogja-NETPAC Asian Film Festival akan digelar pada 19-23 November 2019 di Empire XXI Yogyakarta.
 

 
 
(ELG)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif