Menangkap Realitas untuk Film Dokumenter
Cuplikan foto dari film dokumenter Way Back Home (2003) karya Supriyo Sen
Jakarta: Lima tim finalis kompetisi dokumenter Eagle Awards 2018 mengikuti kelas bimbingan bersama sineas asal India Supriyo Sen di Kedoya pada Rabu, 15 Agustus 2018. Supriyo, yang bergelut di perfilman dokumenter sejak akhir 1990-an, berbagi pemahaman mengenai pendekatan produksi film dokumenter.

Supriyo membuka diskusi lewat studi kasus atas Way Back Home (2003), dokumenter panjang garapan Supriyo yang telah berkeliling ke sejumlah festival film internasional. Film ini mengikuti kisah ibunya sendiri dalam perjalanan pulang ke Bangladesh untuk mencari saudara perempuan yang hilang. Sang ibu telah pergi dari tanah kelahirannya selama lebih dari 50 tahun karena perang.

Selain itu, Supriyo juga membahas film dokumenter pendeknya, Wagah (2009), dan lima proyek dokumenter dari kelima tim finalis. Menurutnya, setiap proyek punya kebutuhan berbeda berdasarkan isu yang diangkat.


Dalam diskusi itu, salah satu peserta bertanya mengenai subyek cerita dalam Way Back Home. Dia membayangkan, apakah mungkin sebelum merekam gambar, Supriyo sudah tahu bahwa sang ibu akan menemukan saudaranya. Menurut Supriyo, ini bedanya film fiksi dan dokumenter.

"Dokumenter adalah perjalanan penuh ketidakpastian. Yang pasti, mereka mengikuti subyek ke lokasi dan sesuatu yang dramatis terjadi. Berbeda dengan fiksi yang sudah pasti, dalam dokumenter, kita meloncat ke dalam ketidakpastian," ujar Supriyo.

"Sangat penting bagi pembuat film dokumenter untuk mempercayai realitas. Kalau kita percaya realitas, realitas akan memberikan momen magis – karena keajaiban ada di sana, menunggumu dalam segala sesuatu. Kamu harus punya semangat, keberanian, sensibilitas, dan kesabaran untuk menangkap momen," lanjutnya.


Kelas bimbingan bersama sineas asal India Supriyo Sen (Foto: Medcom/Purba)


Saat ditemui Medcom.id usai sesi bimbingan, Supriyo menyatakan harapannya kepada para finalis. Lewat kelas sehari ini, Supriyo berharap peserta paham bahwa dokumenter harus punya kualitas manusiawi, di samping kualitas teknis dan sinematik.

"Mereka harus sangat serius terhadap konten, yang mana sangat penting, karena film dokumenter butuh banyak kualitas manusiawi. Sebagai sebuah medium, kita harus menceritakan sesuatu dari nol. Jadi (butuh) banyak keberanian, kecerdasan, kreativitas, dan juga hubungan baik dengan orang-orang," tutur Supriyo kepada Medcom.id.

"Kualitas manusiawi ini dibutuhkan selain pengetahuan teknis. Maksudku, soal gaya, kita harus sangat baik secara sinematik dan harus punya bahasa yang baik. Namun yang tak kalah penting, nilai kemanusiaan untuk membuat dokumenter," lanjutnya.

Lukas Deni Setiawan, peserta dari Yogyakarta dengan proyek berjudul Bioskop Kecil, Harapan Besar, mengaku mendapat banyak pemahaman baru mengenai produksi dokumenter. Salah satunya, sebuah isu besar ternyata tidak harus diceritakan lewat momen-momen besar.

"Sejauh ini ada beberapa hal yang saya dapatkan. Dokumenter itu tentang menangkap realitas. Kalau realitasnya itu sebuah isu besar, tidak harus diceritakan dengan cara yang besar dan megah, tetapi ada cara-cara tertentu yang menarik dan tetap bisa membawa isu itu semakin dekat ke kita," ungkap Lukas.

Eagle Awards Documentary Competition 2018 mengangkat tema Menjadi Indonesia dan digelar dalam kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Setelah kelas bimbingan, kelima tim finalis akan melakukan produksi film hingga Oktober 2018. Kelima film dokumenter pendek akan dirilis sebagai antologi Menjadi Indonesia pada penghujung 2018.


 



(ELG)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id