Foto: Metrotvnews.com / Triyanisya
Foto: Metrotvnews.com / Triyanisya

Ketua KPI: 2014 adalah Tahun dengan Sanksi Penyiaran Terbanyak

Triyanisya • 23 Desember 2014 18:04
medcom.id, Jakarta: Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Judhariksawan, mengatakan penyiaran di Indonesia sepanjang 2014 masih sama dengan tahun sebelumnya. Masing-masing lembaga penyiaran masih mementingkan nilai ekonomis. Padahal, sebenarnya bukan itu tujuan terpenting penyiaran.
 
"2014 ini, lembaga penyiaran jadi saran pertarungan politik. Memang sarana ekonomi adalah salah satu tujuan penyiaran, tapi bukan tujuan utama. Tujuan lembaga-lembaga penyiaran itu untuk memperkukuh integrasi nasonal, membina watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, membangun masyarakat yang mandiri, tapi lembaga-lembaga penyiaran masih profit oriented dan masalah ini yang masih belum ada solusinya. Memang ada lembaga-lembaha penyiaran yang  secara khusus mengusung sejarah, budaya dan sebagainya, tapi masih sangat minim," ujar Judhariksawan dalam acara Refleksi Akhir Tahun 2014 yang dilaksanakan di Gedung Bapeten, Jakarta Pusat, Selasa (23/12/2014).
 
Judha menambahkan bahkan sanksi untuk lembaga penyiaran yang dikeluarkan tahun ini adalah yang terbanyak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Tahun ini ada 178 sanksi administratif. Lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Berupa teguran tertulis, penghentian program yang bermasalah dan sanksi pengurangan durasi. Jenis pelanggaran terbanyak  adalah persoalan netralitas penyiaran. Pemanfaatan kepentingan pemilik dan kelompoknya. Tidak hanya Pemilu, tapi juga persoalan-persoalan lain. Kekerasan, pornografi, kata-kata kasar, merendahkan martabat manusia (contoh: melempar tepung), privasi seseorang, perlindungan anak dan remaja, dan iklan rokok masih sangat banyak tayang di televisi," lanjut Judha.
 
Sementara itu, tayangan yang membaik adalah tayangan selama Ramadan yang dinilai KPI lebih baik dan lebih beragam dibanding tahun lalu.
 
"Selain pelanggaran terbanyak, kami sama-sama memberikan penilaian terhadap tayangan program-program yang kami anggap terbaik pada bulan terbaik. Tahun 2014 ini program ramadan lebih baik dari tahun 2013," imbuh Judha.
 
Kedepannya, Judha berencana untuk terus membenahi penyiaran Indonesia sesuai Undang-Undang yang telah berlaku.
 
"Yang pasti, 2015 kami mash terus membenahi penyiaran di Indonesia. Kami berharap, 2015 terjadi penguatan lembaga KPI berdasarkan amanat UU. Kami merasa masih belum sesuai dengan porsinya. Karena itu kami berharap akan segera sesuai dengan porsinya," tandasnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AWP)




TERKAIT

BERITA LAINNYA