Andrew Garfield sebagai pastur Rodrigues dalam Silence (2016) (Foto: Paramount Pictures/IMDB.com)
Andrew Garfield sebagai pastur Rodrigues dalam Silence (2016) (Foto: Paramount Pictures/IMDB.com)

Resensi Film

Silence, Mempertanyakan Ulang Konsep Martir

Purba Wirastama • 10 April 2017 11:47
medcom.id, Jakarta: Cerita film Silence terkesan membingungkan karena tokoh utama, seorang pastur Katolik yang diperankan oleh Andrew Garfield, tak bertindak secara aktif untuk mengejar tujuan yang telah ditetapkan sejak adegan pembuka. Namun kompleksitas narasinya diramu dengan baik dan sangat hati-hati. 
 
Film ini mampu menyelami pergulatan batin seorang misionaris Katolik abad 17 yang terus menerus berada di titik antara iman dan keraguannya terhadap Sang Ilahi.
 
Silence adalah film kesekian arahan Martin Scorsese yang menunjukkan obsesinya terhadap tema reliji. Film sebelumnya antara lain The Last Temptation of The Christ (1988) dan Gangs of New York (2002). Film Silence diadaptasi dari novel populer tahun 1966 berjudul sama tulisan Shusaku Endo.

Diceritakan, pada tahun 1640 dua misionaris Katolik asal Portugis, Rodrigues (Andrew Garfield) dan Garupe (Adam Driver), pergi dari Cina ke Jepang untuk melacak guru mereka, pastur Ferreira (Liam Neeson). Kabar terakhir dari surat Ferreira tahun 1633, puluhan ribu umat Katolik Jepang disiksa dan dibantai di semenanjung Shimabara, Jepang. Sementara rumor mengatakan Ferreira telah menyangkal imannya supaya tetap hidup.
 
Silence, Mempertanyakan Ulang Konsep Martir
(Andrew Garfield sebagai pastur Rodrigues dalam Silence 2016. Dok. Paramount Pictures/imdb.com)
 
Pergulatan Batin
Meskipun bahaya besar mengancam, Rodrigues dan Garupe bertekad bulat untuk menembus kabut ketidakpastian Jepang dan meminta izin misi dari pastur kepala, Valignano (Chiaran Hinds). Namun begitu tiba di desa Tomogi dan Goto, dan bertemu penduduk miskin pemeluk Katolik yang melakukan ritual diam-diam, tekad tersebut tak segera berwujud tindakan.
 
Arah cerita perlahan mulai tak terbaca. Tak mendapat petunjuk keberadaan Ferreira, mereka tetap tinggal di Tomogi. Mereka bersembunyi di pondok di atas bukit untuk menghindari sidak dan keluar waktu malam untuk melayani warga desa.
 
Hingga akhirnya Rodrigues bertemu Ferreira di menit ke-120 film, cerita berpusat pada pergulatan personal Rodrigues. Dia merasa bersalah karena tak mampu menyelamatkan penduduk Tomogi dan Goto.
 
Mereka disiksa dan dibantai justru setelah dia datang melayani dan membagikan salib dan rosario, simbol agama yang tampak begitu dipuja oleh penduduk. Dia menggugat Tuhan yang dia anggap selalu diam dalam doa-doanya dan penderitaan penduduk.
 
Silence, Mempertanyakan Ulang Konsep Martir
(Yosuke Kubozuka (tengah) dan para pemeran penduduk Goto dalam Silence 2016. Dok. Paramount Pictures/imdb.com)
 
Menjadi Martir
Adalah Kichijiro (Yosuke Kubozusa), pemandu mereka sejak dari Cina, menjadi tokoh kunci pergerakan cerita. Atas informasi Kichijiro, penduduk Goto pergi ke Tomogi untuk meminta Rodrigues datang. Atas peran Kichijiro pula, Rodrigues kemudian ditangkap dan dibawa ke kota Chikugo di Shimabara.
 
Penyesalan Rodrigues menuntunnya untuk berkorban sebagai martir demi menyelamatkan pemeluk Katolik yang ditangkap. Darah para martir menyuburkan Gereja Katolik, demikian yang dia percaya. Agama Islam mengenal konsep ini sebagai syahid, mati membela iman terhadap Sang Ilahi.
 
Namun otoritas Jepang, yang hanya mengizinkan agama Buddha, tampaknya jauh lebih memahami persoalan ini. Mereka telah belajar bahwa pembantaian justru membuat iman para pemeluk Katolik semakin kuat. Daripada menghabisi tunas-tunas yang tumbuh, mereka berusaha untuk mencabut akarnya, yaitu para misionaris Katolik.
 
Caranya adalah dengan meruntuhkan arogansi Rodrigues dan para misionaris lain. Rodrigues tak mendapat siksaan fisik seperti diharapkan. Atas perintah gubernur Inoue (Issei Ogara), tahanan Katolik disiksa di hadapan Rodrigues meskipun mereka telah menyangkal belasan kali.
 
Supaya mereka dibebaskan, Rodrigues harus menyangkal iman dengan menginjak plat bergambar Yesus. Ujian ini menjadi tantangan nyata baginya, yang sedari awal telah siap dengan berbagai siksaan fisik seperti disalibkan di tepi laut, disiram air panas dekat sumber belerang, digantung terbalik, atau langsung dipenggal.
 
Maka pilihannya hanya dua. Rodrigues menyangkal lalu tahanan dibebaskan. Atau dia tetap bertahan, sementara tahanan satu per satu disiksa hingga mati. Dapatkah seseorang beriman tanpa penghargaan terhadap simbol-simbol agama? Dapatkah dia membela iman, sementara mengabaikan kasihnya kepada kemanusian?
 
Silence, Mempertanyakan Ulang Konsep Martir
(Issei Ogata sebagai gubernur Inoue dalam Silence 2016. Dok. Paramount Pictures/imdb.com)
 
Puitis
Kecuali adegan pembuka dan penutup, film Silence konsisten mengarahkan penonton dalam perspektif Rodrigues melalui sudut pandang orang pertama. Penuturan Rodrigues sebagai narator tumpang tindih dengan berbagai adegan dan dialog. Elemen ini bercampur dengan seimbang dalam naskah yang ditulis oleh Scorsese bersama Jay Cocks, sehingga tak lantas membuat film menjadi cerewet.
 
Dengan sinematografi yang memanjakan mata, penataan suara yang lekat dengan keheningan, musik minimalis namun intens, serta berbagai detail visual yang sarat tanda, rangkaian peristiwa dapat dinikmati secara puitis dalam ritme yang sangat teratur.
 
Bahkan beberapa adegan penyiksaan kentara unsur puitiknya. Kekejaman tidak ditampakkan secara menjijikkan, tetapi lebih emosional. Penyaliban Mokichi (Shin'ya Tsukamoto), Ichizo (Yoshi Oida), dan satu penduduk Tomogi lain misalnya. Dalam keheningan penduduk yang melihat mereka dihukum, terdengar samar lantunan pujian Mokichi berbalut debur ombak. Atau, kehancuran desa Goto tergambarkan lewat puluhan kucing gemuk yang memenuhi desa pinggir pantai ini selepas hujan.
 
Kelemahan Rodrigues
Pada awal film, saya menangkap kesan bahwa Andrew tak cukup tepat untuk memerankan seorang pastur misionaris. Di balik tekad kuat pergi ke Jepang, dia tampak lemah, arogan, dan penuh keraguan.
 
Namun ternyata karakter tokoh ini memang digiring ke sana. Dibandingkan Rodrigues, tokoh-tokoh lain justru lebih kuat, seperti kedua tokoh desa Tomogi, gubernur Inoue beserta penerjemahnya (Tadanobu Asano), pastur Ferreira, maupun beberapa tokoh pendukung dari kalangan penduduk.
 
Kelemahan dan arogansi Rodrigues tampak baik dalam pilihan tindakan tak pasti ataupun renungan personal yang diceritakannya sebagai narator. Benturan antar karakter ini menjadi salah satu kekuatan film Silence, yang kemudian menuntun penonton untuk memahami pergulatan Rodrigues sebagai pemeluk Katolik abad 17.
 
Silence, Mempertanyakan Ulang Konsep Martir
(Martin Scorsese dan sinematografer Rodrigo Prieto di salah satu set pengambilan gambar di Taiwan. Dok. Paramount Pictures/imdb.com)
 
Narasi Kompleks
Dalam beberapa dialog, lapisan cerita lain muncul dan jauh lebih menarik daripada kebimbangan Rodrigues. Tokoh penerjemah Inoue menuturkan persepsinya mengenai pemeluk Katolik dan Buddha. Lalu Inoue sedikit berbicara tentang alasan Jepang menolak penyebaran Katolik oleh para misionaris Eropa.
 
Namun begitu obrolan ini menaikkan ketegangan, cerita langsung ditarik kembali ke renungan personal Rodrigues. Scorsese tampaknya tak ingin film ini menjadi melulu telaah sejarah. Meskipun diawali dengan premis mencari Ferreira, toh film ini membungkus lapisan-lapisan cerita lain.
 
Ada konflik para pemeluk Katolik diam-diam (Kakure Kirishitan), konsep surga dan keselamatan dari penduduk miskin, pengakuan dosa berulang Kichijiro sebagai pemeluk Katolik, serta strategi politis Jepang era Edo menghadapi penjelajah dari Eropa.
 
Sepanjang cerita film, semuanya ditarik kembali kepada konflik batin Rodrigues. Kompleksitas film ini akhirnya berpusat pada pergulatan para calon martir dalam dimensi yang lain.
 
Jika ditarik lebih jauh, Silence mengajak penontonnya merenungkan kembali ihwal memeluk dan mempertahankan kepercayan. Seperti kata sebuah ungkapan, jauh lebih sulit merawat kehidupan ketimbang mati terbunuh karena membela iman. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA