Adegan Tiga Dara (Foto: twitter)
Adegan Tiga Dara (Foto: twitter)

Restorasi Selesai, Film Klasik Tiga Dara Siap Tayang di Bioskop

Agustinus Shindu Alpito • 21 Juni 2016 20:39
medcom.id, Jakarta: Indonesia memiliki sejarah sinema yang panjang. Sayangnya, publik sulit untuk kembali menikmati film-film Indonesia klasik. Salah satu problematikanya adalah pita seluloid dari film klasik sudah tidak terawat, sehingga sangat riskan untuk diputar kembali.
 
Salah satu upaya yang dilakukan terhadap koleksi film klasik adalah dengan merestorasi, dan membuat salinan digital dari versi pita seluloid. Namun, restorasi film bukanlah hal yang mudah dan murah.
 
Setelah beberapa waktu lalu film klasik Lewat Djam Malam dan Darah dan Doa direstorasi, kini giliran film Tiga Dara karya sutradara Usmar Ismail.

SA Films selaku pihak yang merestorasi Tiga Dara berencana menayangkan kembali film drama yang kental unsur musikal itu ke bioskop, pada 11 Agustus 2016.
 
Restorasi Selesai, Film Klasik Tiga Dara Siap Tayang di Bioskop
 
Setelah direstorasi, film Tiga Dara dikemas dalam format digital berteknologi 4K. Teknologi visual digital terkini yang menghasilkan gambar bersih, tajam, dan jernih.
 
Dilansir dari akun Twitter SA Films, proses restorasi film Tiga Dara dilakukan oleh L’Immagine Ritrovata yang berada di Bologna, Italia. Proses restorasi fisik telah selesai pada 8 Oktober 2015.
 
Melalui akun Twitter yang sama, SA Films juga menceritakan kondisi awal pita seluloid film Tiga Dara yang tidak terawat.
 

 
“Pada awalnya, kondisi fisik seluloid film klasik Tiga Dara sangat memprihatinkan.”
 
“Pada seluloid film, terdapat beberapa vinegar syndrome, patah-patah dan juga berjamur yang mengakibatkan proses restorasi menjadi sulit,” tulis SA Films.
 
Tiga Dara pertama kali dirilis tahun 1956. Film hitam putih itu berkisah tentang tiga dara bernama Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Wijaya), dan Nenny (Indriati Iskak) yang kelakuannya ribet dan membuat nenek yang mengasuh mereka pusing.
 
Keadaan semakin rumit ketika muncul seorang pria bernama Herman (Herman), Toto (Rd. Sukarno) dan Joni. Ulah tiga gadis yang memiliki karakter berbeda-beda itu semakin menjadi-jadi dengan kehadiran para pemuda dalam kehidupannya.
 

 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA