Galih dan Ratna merasakan getaran cinta di penghujung masa SMA. Sebagaimana dirasakan banyak orang, masa SMA kerap dicap sebagai masa tumbuhnya cinta pertama.
Film arahan sutradara Lucky Kuswandi ini ternsipirasi dari novel berjudul Gita Cinta Dari SMA karya Eddy D Iskandar, juga film Galih & Ratna yang dirilis pada 1979.
Dalam proses pengerjaannya, Galih dan Ratna juga dikemas dengan unsur musik yang kuat. Melibatkan trio GAC, Rendy Pandugo, White Shoes & the Couples Company, Sore, Koil, Ivan Gojaya, Agustin Oendari, dan Sheryl Sheinafia.

Adegan Film Galih dan Ratna (Foto: dok. filmgalihdanratna)
Sheryl juga bertindak sebagai Ratna, menghadapi lawan peran Refal Hady yang menjadi Galih.
Galih diceritakan sebagai remaja teladan yang introvert. Dia hidup dalam bayang-bayang almarhum ayahnya dan tuntutan ibunya yang harus berjuang sebagai orangtua tunggal. Galih dituntut mendahulukan urusan pendidikan ketimbang passion-nya.
Ibu Galih, Mirna (Ayu Dyah Pasha), tidak ingin Galih mengikuti jalan hidup ayahnya yang meninggal dalam kecewa. Kekecewaan ini berpangkal dari kegagalan ayah Galih menghidupkan toko kaset bernama Nada Musik, yang keok melawan kemajuan digital.
Di satu sisi, Galih masih terus mengagumi sang ayah. Dia selalu membawa Walkman (pemutar kaset portabel), untuk mendengarkan kaset mixtape pemberian ayahnya. Mixtape itu berisi lagu-lagu radikal yang menginspirasi Galih berani mengejar mimpi.
Sedangkan Ratna, siswi yang baru saja pindah ke sekolah tempat Galih belajar. Ratna sudah beberapa kali pindah sekolah, nilainya tidak cemerlang, meski pada dasarnya dia adalah gadis yang pintar dan berbakat. Ratna hidup tanpa tujuan. Dia tidak tahu untuk apa dia hidup. Ratna punya kebiasaan menulis lagu di kala sendirian. Meski hal itu tidak dia anggap sebagai bakat, karena ayahnya (Hengky Tornado) tidak pernah memberi dukungan, sehingga Ratna merasa tidak memiliki bakat.

Adegan Film Galih dan Ratna (Foto: dok. filmgalihdanratna)
Dua insan dengan kepribadian bertolak belakang ini lantas bertemu di lapangan belakang sekolah. Pertemuan sederhana namun memberi kesan. Lantas, mereka berdua menyadari dan mencoba untuk menjawab, apakah yang mereka rasakan itu cinta?
"Abu-abu, sebuah warna transisi antara hitam dan putih. Sebuah warna yang bisa diartikan sebagai ‘penantian.’ Menanti untuk sebuah perjalanan baru yang ujung akhirnya pun tidak diketahui,” kata Lucky.
“Galih & Ratna adalah sebuah kisah mengenai kehidupan dalam transisi, di mana terdapat dua remaja yang tidak siap untuk menjadi dewasa. Tetapi mereka dituntut banyak oleh lingkungan mereka tanpa memperdulikan apa sebenarnya yang mereka inginkan. Mereka hanya memiliki satu sama lain untuk diam-diam saling menyemangati dan mengejar mimpi mereka.”
Film ini akan dirilis pada 9 Maret mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News