Kisah perjuangan Gary Iskak itu diungkap oleh produser Lastri: Arwah Kembang Desa, Joe Richard. Ia menjadi salah satu orang yang menyaksikan langsung kondisi sang aktor selama menjalani proses syuting di Lumajang.
Joe mengungkapkan, kondisi kesehatan Gary Iskak sebenarnya sudah menurun ketika proses produksi berlangsung. Bahkan, sang aktor harus membawa tabung oksigen untuk membantu pernapasannya setiap malam.
"Bang Gary itu selama syuting memang dalam keadaan kurang sehat. Setiap malam dia harus membawa tabung oksigen untuk membantu napas. Kami harus keliling mencari pengisian oksigen saat habis agar dia tetap bisa syuting dengan baik," kenang Joe Richard di Jakarta.
Meski kondisi fisiknya tidak prima, Gary Iskak tidak ingin hal tersebut mengganggu proses produksi. Ketika kamera mulai merekam, ia tetap menunjukkan profesionalisme dengan mendalami karakter Turenggo yang diperankannya.
Baca Juga :
Penampakan Pertama Lastri: Arwah Kembang Desa, Film Terakhir Gary Iskak Sebelum Meninggal
Joe bahkan mengaku kagum melihat perubahan Gary ketika proses pengambilan gambar dimulai. Meski terkadang kesulitan berjalan, sang aktor mampu menunjukkan sosok Turenggo yang kuat di depan kamera.
"Selama kami syuting di Lumajang itu, dia (Gary) pribadi yang sangat tidak enakan sama orang, jadi dia diundang terus ke kanan ke kiri (selama di Lumajang) aku sampai bingung 'Ya ampun dia kapan istirahatnya gitu loh' tapi besoknya begitu syuting lagi dia on dia betul-betul yang kadang-kadang jalan juga agak susah tapi ketika take dia menunjukkan sebagai Turenggo yang kuat," jelas Joe.
Sikap Gary Iskak tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang yang terlibat dalam produksi Lastri: Arwah Kembang Desa. Kondisi kesehatan yang menurun tidak menghilangkan semangatnya untuk terus berkarya di industri perfilman Indonesia.
Gary Iskak diketahui meninggal dunia setelah menyelesaikan proses syuting Lastri: Arwah Kembang Desa. Ia meninggal akibat kecelakaan lalu lintas tunggal di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, pada 29 November 2025.
Kepergian Gary Iskak membuat Lastri: Arwah Kembang Desa memiliki makna emosional tersendiri. Film tersebut menjadi salah satu karya terakhir sang aktor sekaligus bagian dari jejak panjang dedikasinya di dunia perfilman Tanah Air.
Di sisi lain, sutradara Hendri Tivo menyebut Lastri: Arwah Kembang Desa menawarkan pendekatan berbeda dari film horor pada umumnya. Alih-alih mengandalkan banyak jumpscare dan kemunculan hantu, film ini membangun ketakutan melalui suasana yang mencekam.
"Memang film ini tidak kami hadirkan seperti horor kebanyakan yang penuh dengan jumpscare atau bermain dengan hantu seperti pocong atau kuntilanak. Kami di sini menghadirkan ketakutan lewat suasana-suasana yang mencekam," ujar Hendri.
Sinopsis Lastri: Arwah Kembang Desa
Film ini berkisah tentang Atmi (Audy Bella) mengalami teror gaib dari arwah yang ingin menuntut balas atas hal-hal yang telah diperbuat Atmi dahulu kala. Arwah itu dikenal luas oleh masyarakat yang berlalu-lalang di sekitar makamnya. Terkadang menghantui, kala orang-orang yang lewat punya niat buruk.Sang arwah itu dikenal bernama Lastri (Hana Saraswati). Dulunya, dia kembang desa di kampung Bandeng yang menikah muda (18) dengan seorang juragan tambang pasir, Turenggo (Gary Iskak). Banyak sekali lelaki yang memandang pernikahan itu dengan iri, khususnya Darman (Yama Carlos), juragan tambang pasir saingan Renggo.
Perasaan iri yang merebak di kampung lantas melahirkan lingkungan yang sangat menyiksa bagi Lastri. Termasuk dari ATMI (20) pada masa itu, yang sebenarnya mencintai Renggo. Atmi dan Darman menebar rumor dan kabar buruk tentang Lastri kepada warga kampung. Apa pun mereka gunakan untuk menghasut, khususnya kepada suami Lastri sendiri, Renggo.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda