Joko mengaku mulai menggarap film dengan judul internasional Impetigore itu sejak 10 tahun lalu. Dia menulis skenario film itu setelah dirinya sering mengalami mimpi berada di sebuah desa dan melihat seorang perempuan tua di depan sebuah rumah.
Pada tahun 2018, Base Entertainment menunjukkan skenario Perempuan Tanah Jahanam kepada Ivanhoe Pictures, perusahaan film di Los Angeles yang menghasilkan Crazy Rich Asians dan The Wailing dan mereka menyukainya.
"Beberapa perusahaan film lain, CJ Entertainment dari Korea Selatan dan Rapi Films bergabung untuk memproduksi Perempuan Tanah Jahanam yang dijalankan oleh Logika Fantasi, dipimpin Tia Hasibuan. Tantangan terbesar adalah mencari lokasi yang sesuai dengan skenario. #PTJbts," tulisnya melalui akun Twitter @jokoanwar.
Pada skenario yang ia tulis itu terdapat desa terpencil dikelilingi 4 jenis hutan, yaitu hutan terluar hutan pinus, hutan yang homogen kayu-kayu besar, hutan bambu, dan hutan heterogen dekat desa.
Joko mengatakan dirinya tidak akan mungkin menemukan semua jenis hutan itu dalam satu lokasi. Joko beserta timnya sudah mencari di banyak lokasi di sepanjang Jawa Timur.
Rumah besar dalam cerita Perempuan Tanah Jahanam akhirnya mereka temukan di Banyuwangi, Jawa Timur. Rumah tua itu diketahui memang sudah tidak dihuni hampir 30 tahun dan kondisinya sangat cocok untuk cerita.
"Setelah 3 bulan mencari lokasi desa, kami mendapatkan informasi tentang sebuah desa di tengah hutan yang sudah ada sejak tahun 40-an untuk tempat tinggal penduduk yang kerja di perkebunan. Namun tidak ada akses mobil ke sana," tulisnya.
Demi satu adegan, Joko rela mencari lokasi lain karena sudutnya tidak sesuai dengan visi. Akhirnya untuk satu adegan tersebut mereka mendapatkan satu desa di kaki Gunung Ijen, Jawa Timur.
Joko juga menjelaskan demi lokasi yang sesuai dengan visi, proses syuting terus berpindah-pindah desa ke desa lain. Namun, yang paling lama ditemukan adalah lokasi kuburan.
"Yang paling lama ditemukan adalah kuburan. Untuk mencari kuburan yang berkarakter, indah sekaligus creepy dibutuhkan waktu 3 bulan datangi puluhan kuburan dan tidak ada yg cocok. Akhirnya kami temukan di Lumbang, kebetulan banyak kuburan anak kecilnya," tulisnya.
Untuk mendalami karakter, para pemeran juga dilatih seperti mendalang, bawa delman, observasi ke pasar-pasar, cara bicara di pemukiman, gaya jalan yang sesuai karakter mereka.
"Persiapan set juga secara paralel dilakukan. Kami bolak-balik Jakarta - Jawa Timur saat pra-produksi, termasuk untuk membangun rumah Nyi Misni di pinggir hutan yang tadinya kandang sapi," tulis Joko.
Perempuan Tanah Jahanam merupakan pet project dari Joko sendiri. Joko juga mengatakan sangat bersyukur bekerja sama dengan para produser yang memberikan kebebasan kreatif kepadanya dan tim.
"Kita syuting jadi kayak keluarga sih. Bahkan pas syuting harus break karena saya masuk rumah sakit kena demam berdarah dan tifus, krunya termasuk produser dan para astrada nemenin sampe bantuin pipis," tulisnya.
Saat ini, Perempuan Tanah Jahanam sukses meraih angka sebanyak 117.001 penonton pada hari pembukaannya pada 18 Oktober 2019. Angka tersebut melampaui jumlah penonton Opening Day (OD) Pengabdi Setan (2017) yang hanya menapatkan 91 ribu penonton.
(Azhar Bagas Ramadhan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News