Film yang diproduksi oleh Sunil Samtani dan disutradarai oleh Naya Anindita ini dijadwalkan tayang pada momen libur Lebaran, tepatnya 18 Maret 2026 di seluruh bioskop Indonesia. Kehadirannya diharapkan bisa menjadi tontonan yang dekat dengan realita kehidupan banyak orang.
Dalam film tersebut, Ardit memerankan karakter Arga, seorang pria yang telah menganggur selama tiga tahun tanpa arah yang jelas. Hidup Arga dipenuhi tekanan, mulai dari perbandingan dalam keluarga, kondisi ekonomi yang sulit, hingga persoalan hubungan pribadi.
Menariknya, Ardit mengaku sempat ragu saat pertama kali ditawari peran ini. Selama ini ia lebih dikenal sebagai aktor komedi, sehingga membintangi film drama menjadi tantangan tersendiri baginya.
“Kalau ditawarin drama tuh saya malah yang deg-degan…kayaknya nama saya ada di top 10 aja kayaknya enggak deh. Karena memang bukan aktor drama,” ungkap Ardit.
Namun, keraguan tersebut perlahan hilang berkat keyakinan sang sutradara, Naya Anindita. Sejak awal, Naya justru percaya bahwa Ardit mampu membawakan karakter Arga dengan baik dan langsung menawarkannya peran tersebut.
Memasuki proses syuting, tantangan terbesar justru datang dari tuntutan emosi yang harus berubah dengan cepat. Dalam satu hari, Ardit bisa menjalani berbagai adegan dengan emosi yang berbeda-beda secara berurutan.
“Dalam satu hari bisa tujuh scene. Scene pertama komedi, kedua marah, ketiga romantis, keempat sedih. Habis itu balik lagi ke komedi. Itu tuh bener-bener back to back, jadi harus langsung switch,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat Ardit harus benar-benar menguasai kontrol emosi. Ia tidak hanya dituntut untuk berakting, tetapi juga mampu berpindah dari satu perasaan ke perasaan lain dalam waktu singkat.
Selain itu, ia juga harus beradu akting dengan aktor senior seperti Lulu Tobing dan Ariyo Wahab. Di awal, Ardit sempat merasa minder, namun suasana di lokasi syuting justru terasa hangat karena para pemain senior lebih dulu mencairkan suasana sejak sesi reading.
Proses produksi film ini juga terasa unik karena tidak sepenuhnya terpaku pada naskah. Beberapa adegan justru berkembang dari interaksi spontan antar pemain, yang membuat dialog terasa lebih natural.
“Bahkan ada scene yang saya sama Ariyo Wahab, bapak saya, disuruh ngobrol nanti ditimpa lagu. Tapi ternyata dialognya kepake, karena itu memang obrolan anak dan bapak,” ujarnya.
Hal tersebut turut membangun chemistry yang kuat antar pemain, terutama dalam adegan keluarga besar yang terasa hidup dan realistis.
Baca Juga :
Ajak Anak Berkebutuhan Khusus di Film Semua Akan Baik-Baik Saja, Baim Wong Dibikin Takjub
Meski begitu, tekanan selama proses syuting tetap dirasakan Ardit. Apalagi cerita film ini berpusat pada karakter Arga, sehingga beban emosionalnya cukup besar.
Situasi semakin menantang ketika di hari terakhir syuting, Ardit harus menghadapi kondisi pribadi yang tidak mudah. Istri dan anaknya saat itu sedang dirawat di rumah sakit karena sakit.
“Posisinya itu hari terakhir syuting, lagi adegan emosional, mumet, istri sama anak lagi tipes dirawat di rumah sakit. Jadi kayak wah gitu. Jadi kayak pusing gitu,” tutup Ardit.
(Maiza Jasmine A.R)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News