Dalam film ini, Meriam Bellina dan Ikang Fawzi dipercaya memerankan pasangan suami istri yang sudah lama membangun rumah tangga. Kehidupan mereka yang selama ini berjalan hangat dan penuh kebersamaan tiba tiba diuji ketika penyakit serius menghampiri sang istri. Dari situlah perjalanan emosional keluarga ini mulai terasa semakin dalam.
Meriam Bellina memerankan karakter Ibu Mozza, seorang ibu yang dikenal penuh kasih kepada anak anaknya. Namun, perjalanan hidupnya tidak selalu berjalan mulus. Ia harus menghadapi kondisi kesehatan yang terus menurun dan membuatnya perlahan menyadari bahwa waktu bersama keluarga mungkin tidak akan selama yang ia harapkan.
Di sisi lain, Ikang Fawzi berperan sebagai Pak Akbar, suami yang setia dan selalu menjadi penopang keluarga. Karakter ini digambarkan sebagai sosok ayah yang hangat namun tidak banyak bicara. Ia lebih sering menunjukkan rasa sayangnya lewat tindakan nyata daripada kata kata.
Kisah yang dihadirkan film ini tidak hanya menyoroti kesedihan akibat penyakit yang diderita Ibu Mozza. Cerita juga menampilkan dinamika hubungan antara orang tua dan anak yang terkadang tidak selalu berjalan harmonis. Perbedaan cara pandang dan kekhawatiran seorang ibu terhadap masa depan anak anaknya menjadi konflik yang terasa sangat dekat dengan kehidupan nyata.
Sebagai karakter utama, Ibu Mozza digambarkan sebagai sosok yang tidak sempurna. Ia sering merasa cemas berlebihan terhadap masa depan anak anaknya. Kekhawatiran tersebut terkadang membuat hubungan mereka terasa renggang. Namun di balik sikap itu, tersimpan rasa cinta yang sangat besar kepada keluarganya.
Meriam Bellina mengaku bahwa karakter yang ia perankan memiliki kedalaman emosi yang kuat. Ia merasa peran ini menantang karena harus menggambarkan sisi rapuh sekaligus penuh cinta dari seorang ibu.
“Karakter Ibu Mozza sangat dalam dan menantang untuk saya. Ia bukan sosok ibu yang ideal tanpa cela, tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia sangat manusiawi, penuh cinta, sekaligus penuh penyesalan,” ungkap Meriam Bellina.
Sementara itu, perjalanan emosional Pak Akbar juga menjadi salah satu kekuatan cerita dalam film ini. Ia harus menghadapi kemungkinan kehilangan pasangan hidup yang telah menemaninya selama bertahun tahun. Perasaan sedih, cemas, dan ketidakpastian bercampur menjadi satu, namun ia tetap berusaha terlihat tegar demi keluarganya.
Ikang Fawzi mengungkapkan bahwa peran Pak Akbar terasa sangat dekat dengan dirinya secara pribadi. Ia bahkan merasakan pengalaman emosional yang cukup mendalam selama proses memerankan karakter tersebut.
Baca Juga :
Rahasia Besar Film Titip Bunda di Surgamu
“Karakter Pak Akbar terasa sangat dekat dengan saya. Ada pengalaman emosional yang saya pernah lewati, dan itu membuat perjalanan karakter ini terasa sangat dalam. Film ini mengingatkan saya tentang menerima kehilangan dengan cinta,” ucap Ikang Fawzi.
Melalui kisah pasangan ini, Titip Bunda di Surga-Mu menghadirkan gambaran tentang bagaimana cinta dalam pernikahan dapat bertahan meski diuji oleh keadaan yang sulit. Film ini juga memperlihatkan bahwa hubungan keluarga tidak selalu berjalan sempurna, namun rasa sayang tetap menjadi kekuatan yang menyatukan mereka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News