Optimisme Melihat Perkembangan Sineas Muda di Daerah

Cecylia Rura 02 Maret 2018 18:41 WIB
riri rizamontase film
Optimisme Melihat Perkembangan Sineas Muda di Daerah
Riri Riza optimistis melihat perkembangan sineas-sineas daerah (Foto: MI)
Jakarta: Industri perfilman Indonesia kini tengah dimatangkan dengan beberapa karya dari para sineas muda yang bermunculan. Belakangan, daerah Yogyakarta dan Makassar disebut-sebut melahirkan beberapa pembuat film sekaligus sineas muda yang kini sedang berkembang.

Melihat hal ini, Medcom.id mencoba meminta pendapat sejumlah sutradara Indonesia yang juga tergabung dalam Asosiasi Sutradara Film Indonesia atau Indonesian Film Directors Club (IFDC) terkait potensi atau peluang bagi para sineas muda untuk bisa berkembang lebih baik di daerah. Sutradara Riri Riza berpendapat, sebenarnya perkembangan itu sudah jalan. Tampak pada sosok sutradara Ifa Isfansyah yang berangkat dari Yogyakarta dan kini terpilih menjadi Ketua Umum IFDC periode 2018-2023.


Sutradara Riri Riza. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)


"Sebenarnya kan sudah jadi. Bukan hanya peluang, itu sudah dijalankan. Ada film diproduksi oleh produser dari Yogyakarta yang kebetulan jadi Ketua Umum IFDC, Ifa Isfansyah. (Filmnya) Judulnya Turah yang dibuat di Tegal dalam bahasa Tegal dan berhasil di banyak festival film," kata Riri kepada Medcom.id di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

"Dari Makassar ada beberapa film (dibuat), minimal untuk memenuhi pasar atau minat penonton di wilayah tersebut," sambungnya.

Riri mengatakan, perkembangan ini sangat menarik lantaran kemajuan ini menonjolkan perkembangan yang sehat di industri perfilman Indonesia.

Selain Yogyakarta dan Makassar, Riri merasakan ada perkembangan sineas muda dari daerah Padang, Surabaya dan Bandung. Ia lalu memberikan perhatian terhadap film Dilan 1990 yang diangkat dari novel karya Pidi Baiq.

"Dilan itu bisa dibilang home ground Bandung. Penulisnya orang Bandung. Production House (PH) dan sutradaranya, produsernya bukan orang Bandung, tapi sangat menunjukkan karakteristik Bandung," kata sutradara film Laskar Pelangi ini.

Niatan untuk menjaring sineas muda lebih berkembang dan dilirik publik skala nasional terkadang tak terlepas dari komunitas yang diikuti. Ifa Isfansyah sebagai salah satu contoh pelaku sineas daerah membuktikan, ilmu saja tak cukup untuk bisa mendapat perhatian publik. Perlu ada bukti nyata berupa karya yang memang diakui bagus oleh masyarakat.


Sutradara Ifa Isfansyah. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

"Bakatnya harus muncul. Punya bakat yang bagus sekali tapi kalau enggak muncul sama saja. Memunculkan bakat itu harus punya ruang yang tepat. Misalnya, salah satunya festival. Karena di situ orang membuat film hadir, kritikus hadir, media hadir," kata Ifa kepada Medcom.id.

Industri film yang bergerak bersama dengan tim tentu tidak serta merta merupakan keringat seorang diri. Oleh karena itu, ada tim khusus yang saling berjejaring dan membina hubungan untuk lebih baik. Selain menambah relasi, jejaring ini penting untuk kerja kolektif yang lebih baik.

"Membuat film pasti sebuah kerja kolektif. Di daerah mereka sangat punya ruang untuk berdiskusi membuat karya yang punya segmen kuat. Jadi, memang susah sekali kalau sendirian. Energi itu harus keluar dan saya pikir, kalau sendirian itu susah," sambung Ifa.

 



(ELG)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id