Arswendo Atmowiloto (Foto: Antara)
Arswendo Atmowiloto (Foto: Antara)

Kisah Arswendo Atmowiloto: Yatim Piatu di Usia Remaja dan Pernah Dipenjara

Kumara Anggita • 20 Juli 2019 19:16
Jakarta: Kepergian Arswendo Atmowiloto meninggalkan duka mendalam bagi banyak pihak. Semasa hidupnya, Arswendo Atmowiloto dikenal dengan ragam profesi. Mulai dari penulis, wartawan, budayawan hingga sineas.
 
Arswendo tak pernah punya angan menjadi penulis kala masih anak-anak dan remaja. Namun, perjalanan mengantarkan dia menjadi salah satu penulis paling produktif di Indonesia.
 
"Saya tidak bercita-cita menjadi penulis," kata Wendo kepada Medcom.id awal tahun 2019.
 
"Waktu SMA, saya tidak bisa melanjutkan kuliah, menganggur, kerja serabutan, termasuk pemungut bola tenis. Dari kelas dua SMA, saya sudah menulis, diteruskan bikin cerpen, novel, skenario," lanjut Wendo yang kala itu sudah mulai rutin menjalani pengobatan di rumah sakit.

Di usia 17 tahun, Arswendo Atmowiloto harus memutar otak untuk melanjutkan perjalanan hidupnya. Sang ayah dan ibuna telah meninggal dunia.
 
Arswendo adalah anak ketiga dari enam bersaudara. Ayahnya, Djoko Kamit alias Atmo Wiloto, meninggal pada 1960 dan ibunya, Sardjiem, meninggal pada 1965.
 
Untuk bertahan hidup, dia serta saudara-saudaranya memanfaatkan uang pensiunan sang ayah dan hasil sewa pendopo rumah yang dijadikan sekolah dasar.
 
Sempat pula ingin jadi dokter, namun keadaan ekonomi tidak mendukungnya meraih cita-cita tersebut.
 
Tak hanya itu hambatan yang dia harus hadapi di usianya yang masih muda. Aswendo batal menerima beasiswa di Akademi Pos dan Telekomunikasi Bandung karena tak punya ongkos.
 
Setelah lulus SMA pada 1968, Wendo adalah satu dari dua lulusan SMA di Jawa Tengah yang beruntung mendapatkan beasiswa ikatan dinas dari Akademi.
 
Perjalanan Arswendo, Kreator Kisah Keluarga Cemara
 
Dia pun pergi ke Stasiun Solo Balapan dan berencana naik kereta api ke Bandung. Namun Aswendo tak punya uang untuk beli tiket. Padahal dia sudah sengaja datang pagi-pagi ke stasiun dengan harapan bertemu orang yang dikenal.
 
Hingga pukul sembilan dan kereta menuju Bandung tiba, Wendo tetap tidak bertemu siapa-siapa. Dia sendirian. Lalu Wendo pulang berjalan kaki sepanjang lima kilometer. Dia batal kuliah di Bandung.
 
Gagal di sana, Wendo kembali menulis fiksi. Dia terus menggeluti bakatnya dalam menarasikan sesuatu dan bersentuhan dengan berbagai media massa seperti terbitan baru berbahasa Jawa bernama Dharma Kanda dan Dharma Nyata, serta menjadi koresponden Tempo.
 
Pada 1973, Wendo bergabung dengan majalah humor Astaga. Lalu bergabung ke media dalam naungan Kelompok Kompas Gramedia, MIDI (Muda Mudi), dan HAI.
 
Selama bekerja di HAI, Wendo juga menulis sejumlah cerita berseri yang kemudian populer. Keluarga Cemara hanyalah salah satunya.
 
Kehidupan di Penjara
 
Pada tahun 1990, saat bekerja di tabloid Monitor, Arswendo membuat sebuah program angket "iseng=iseng". Program tersebut mengumpulkan suara pembaca untuk dijadikan artikel survei "50 Tokoh yang Dikagumi Pembaca Kita".
 
Artikel tersebut dimuat dalam edisi 255 terbitan 15 Oktober 1990. Berdasarkan hasil survei, pilihan terbanyak jatuh kepada Soeharto dengan 5.000 pemilih. Arswendo menduduki peringkat ke-10. Yang menjadi masalah adalah ada nama Nabi Muhammad di peringkat ke-11.
 
Ide yang dia maksudkan untuk sekadar menginformasi dan menghibur masyarakat. Nahasnya membawa dirinya pada sebuah mimpi buruk. Kantor Monitor dirusak dan keluarga Wendo tak berani keluar rumah.
 
Setelah menjalani proses pengadilan yang dijaga oleh personel keamanan secara ketat, Wendo menerima hukuman penjara dengan vonis lima tahun.
 
Sudah jatuh tertimpa tangga, harta keluarga Wendo juga ikut habis untuk menyelesaikan perkara ini. Anak bungsunya sampai terpaksa sekolah sambil berjualan kue buatan ibunya.
 
Walaupun tubuh dipenjarakan, ide Aswendo  tetap melanglangbuana. Saat dipenjara, dia tetap menulis skenario film, novel, dan cerbung. Begitu pula saat dia dibebaskan.
 
Selama masa hukumannya  dia pula berkawan baik dengan para sipir. Dia bahkan punya nama pena samaran antara lain Lani Biki, Said Saat, dan BMD Harahap.
 
Arswendo Atmowiloto meninggal dunia pada 19 Juli 2019. Dia dimakamkan pada Sabtu, 20 Juli 2019 di San Diego Hill, Karawang. Arswendo meninggal pada usia 70 tahun.
 

 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan