Gila Jiwa dibesut oleh Ade Paloh (vokalis, gitaris grup musik Sore), Aming (komedian), Julia Perez (aktris, selebritas), dan Afgan (penyanyi). Mereka masing-masing menyutradarai sub-tema dalam film, yaitu aksi-laga oleh Jupe, komedi oleh Aming, horor oleh Ade Paloh, dan drama-musikal oleh Afgan. Ria lantas mengarahkan bagian drama dalam film.
Kisah Gila Jiwa dibuka dengan empat anak muda yang tertarik membuat film. Mereka adalah Omo (Hery Purnomo), Ruben (Joshua Suherman), Alex (Jovial Da Lopez), dan Dea (Shadira Marini). Empat sekawan ini jadi tokoh sentral dalam film ini. Mereka berdiskusi tentang wajah perfilman Indonesia, dari kacamata keprihatinan.
Sindiran demi sindiran tentang industri film Indonesia dilontarkan keempatnya tokoh utama itu. Mulai dari minimnya pendapatan negara dari sektor perfilman, lesunya kuantitas penonton film lokal, hingga konten-konten film Indonesia.
Melihat perbincangan keempat orang itu, penonton seperti disuguhkan kegelisahan insan perfilman yang peduli akan kemajuan film Indonesia. Contohnya saat mereka membahas film komedi Indonesia yang kental dengan banyolan slapstick. Komedi jenis ini juga marak di layar televisi, bahkan tak jarang menuai persoalan hingga berujung teguran KPI.
Saat membicarakan film komedi, komika Mongol Stres muncul sesaat. Lagi-lagi Gila Jiwa seperti menyorot situasi perfilman lokal yang saat ini dibanjiri para komika.
Sindiran terhadap wajah pefilman negeri ini tidak hanya hadir dalam dialog, tapi juga dalam wujud visual para pemeran. Alex contohnya, dalam film ini dia memakai rambut palsu keriting, dengan gaya bicara "lebay." Ria mengatakan bahwa karakter Alex memang sengaja dibentuk seperti itu.
"Alex itu menggambarkan mereka yang main FTV tapi sudah mengaku aktor, buat saya mereka itu tidak berakting," kata Ria dalam pemutaran Gila Jiwa di Bekasi Cyber Park, Selasa (12/4/2016).
Keberanian Ria dan sutradara lain dalam mendaulat Hery Purnomo sebagai tokoh penting dalam film ini patut diapresiasi. Ria menghadirkan para pemeran yang sudah teruji kualitas aktingnya. Hery merupakan wajah baru di film komersial, tetapi aktingnya sudah banyak dipakai di beberapa film independen dan teater.
Potret Realitas
Ini adalah hal penting yang berhasil disampaikan Gila Jiwa. Film ini tidak mengubah realitas kehidupan masyarakat Jakarta secara berlebihan. Latar tempat yang dipakai adalah jalan raya umum, juga perkampungan kumuh lengkap dengan sampah yang bertebaran di sana-sini. Tanpa ada upaya melebih-lebihkan. Ini membuat penonton seolah dekat dengan kisah yang diceritakan dalam film.
Tentu para masyarakat sudah jenuh disuguhi dengan kosmetika berlebih dan realitas palsu dalam film. Yang seringkali justru membangun fantasi dan obsesi tak terkendali di benak penonton.
Salah satu sub-tema yang paling mengesankan dalam film ini adalah bagian komedi. Secara cerdas bagian ini mengusung cerita "pemaksaan kehendak orangtua pada anak." Sebuah peristiwa yang sering kita jumpai di kehidupan keluarga.
Dalam sub-tema komedi, Omo berperan sebagai Endang, anak laki-laki yang dipaksa jadi perempuan oleh "ibunya."
Endang, perempuan jadi-jadian, tidak bisa menyembunyikan nalurinya sebagai seorang pria sejati. Tapi apa daya, ibunya galak hingga dia tak bisa menolak disuruh jadi perempuan.
Endang adalah potret kehidupan anak-anak Indonesia, yang masih sering jadi "korban" obsesi orangtua. Meski dalam penggambarannya dibuat kontras.
Selain cerita Endang, hadir pula kisah Diva (diperankan Julia Perez), seorang aktris top yang sebenarnya tak selalu berakting penuh dalam tiap film-filmnya. Tiap adegan perkelahian, Diva selalu digantikan oleh pemeran pengganti. Sehingga muncul pertanyaan, siapa Diva yang sebenarnya?
Potret realitas kehidupan masyarakat sehari-hari plus sindiran terhadap wajah perfilman Indonesia membuat Gila Jiwa menarik untuk disimak.
Film ini juga melibatkan nama-nama tenar yang mengisi peran tiap-tiap sub-tema dalam film, antara lain Tyo Pakusadewo, Fauzi Baadilla, Ayushita, dan Andre Hehanusa.
Film yang menurut Ria Irawan terinspirasi dari lagu Sssst... dari grup musik Sore ini mulai tayang di bioskop pada 7 April 2016.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News