Coco pun semakin mengukuhkan Pixar sebagai rumah produksi yang selalu melahirkan film dengan konten berkualitas. Bukan saja menyuguhkan garapan animasi yang apik, tetapi juga mampu mengaduk-aduk emosi penonton. Coco merupakan film ke-19 yang diproduksi Pixar. Situs pengulasan film Rotten Tomatoes memberi skor 96 persen atas film ini. Sedangkan CinemaScore memberi poin A+.
Satu gagasan menarik dari film ini adalah kultur Hispanik, Latin, tepatnya Meksiko yang diangkat. Tentu keputusan ini tidak lepas dari riset pasar yang dilakukan, namun Pixar nampaknya punya misi yang lebih dalam terkait bagaimana situasi politik budaya di Amerika - khususnya - pada saat ini, terkait pandangan mereka terhadap warga Hispanik.
Motion Picture Association of America pada 2016 merilis bahwa 21 persen penggemar film di Amerika Serikat dan Kanada adalah warga Hispanik. Tentu ini pasar yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Lima Elemen Visual Meksiko dalam Film Coco
Tren perbincangan seputar Meksiko pun disulut oleh retorika Presiden Trump saat kampanye tahun lalu, saat dia mengeluarkan pernyataan akan membangun tembok di perbatasan AS - Meksiko. Gagasan ini pun segera meletupkan kontroversi. Lantas tiba-tiba, Coco yang sangat Meksiko muncul.
“Sangat menyakitkan bagi saya dan banyak orang bahwa begitu banyak hal negatif di dunia ini, terutama hal tidak adil yang berkaitan dengan Meksiko,” kata Lee Unkrich, sutradara Coco, seperti dilansir dari New York Times.
“Kami hanya merasa terhormat dan bersyukur bahwa kami dapat menghadirkan sesuatu yang positif dan penuh harapan untuk dunia yang mungkin hanya berdampak kecil untuk mengikis beberapa masalah perbedaan di antara kita.”
Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui. Kira-kira peribahasa itu tepat untuk menggambarkan upaya Pixar menggarap film ini. Di samping punya misi “sosial” untuk dapat menghargai perbedaan, khususnya pandangan orang Amerika terhadap budaya dan orang-orang Meksiko, tentu ada hitung-hitungan secara industri. Semua itu tampaknya berhasil dikantongi oleh Pixar.
Ditayangkan perdana di Meksiko tepat pada hari Dia de los Muertos (hari untuk menghormati orang mati), Coco menjadi film animasi terlaris di Meksiko.
Unkrich sendiri sebagai sutradara tidak memiliki kaitan langsung dengan kultur Meksiko. Dia tumbuh besar di Cleveland, negara bagian Ohio, Amerika Serikat. Sebagai warga kulit putih AS, Unkrich tidak lepas dari kontroversi, karena dianggap memanfaatkan cerita rakyat warga Meksiko demi keuntungan semata.
Namun, Unkrich menegaskan bahwa upaya pembuatan film ini tidak lepas dari wujud apresiasinya terhadap kultur lain, juga memberi perspektif baru di tengah konflik yang ada.
“Komunitas Latin sangat vokal dan berpendirian, karena diri saya bukan Latin, saya tahu proyek ini akan mendapat sorotan ketat,” ujar Unkrich.
Di situlah tantangan Unkrich sebagai seorang sutradara. Sebagai seniman, tentu dia tidak ingin dibatasi perihal kreativitas dan gagasannya, namun di satu sisi dia dituntut untuk lepas dari tuduhan-tuduhan yang menyebutnya opurtunis, sekaligus membuktikan bahwa Coco mampu lepas dari cap film klise yang berkutat pada stereotipe dan benang merah normatif.
Hasilnya, Unkrich berhasil. Dia bukan saja berhasil menjadi sutradara film animasi terbaik saat ini, namun juga mengemas isu sosial politik ke dalam balutan film yang menyenangkan, tanpa menghakimi pihak manapun.
Unkrich juga membuktikan pada dunia bahwa sinema mampu meleburkan tensi ketegangan dalam kehidupan nyata, yang memberi dampak besar pada kehidupan langsung dalam hidup berbudaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News