El Benny, Kisah Tragis Maestro Musik Kuba
Poster film El Benny (Foto: ist)
Jakarta: Mendengar Kuba, nama yang akan terlintas ialah sosok Fidel Castro atau Che Guevara. Tapi, sebelum Castro memenangkan revolusi gerilyanya, Kuba punya sosok heroik di lintasan lain dari dunia musik. Namanya Bartolome Maximiliano Moré, tetapi orang mengenalnya sebagai Benny Moré. 

Di Kuba, Benny More bisa dibilang musisi paling berpengaruh yang pernah dimiliki pulau itu. Orang seperti tak lagi peduli peliknya kehidupan tatkala mendengar Benny bernyanyi. Yang mereka tahu hanya satu: berdansa. Karena itu, semasa hidupnya Benny punya banyak julukan: Master of Rhythm, The Greatest Sonero hingga The Prince of Mambo. 

Pengaruh besar Benny di dunia musik itu menginspirasi sutradara  Jorge Luis Sánchez membuat film berjudul El Benny. Aktor Renny Arozarena didapuk memerankan Benny. 



Poster film El Benny (Foto: ist)

Film El Benny tidak merekam sosok Benny sejak kecil hingga dewasa, tapi lebih banyak berpusat pada lika-liku perjalanan Benny di dunia musik. Film yang ditayangkan pada 2006 ini lebih mencuplik bagaimana pengembaraan Benny di negara-negara Amerika Latin. 

Semasa hidup, Benny More memang tidak hanya terkenal di Kuba, tapi juga di beberapa negara tetangga seperti Meksiko, Kolombia. Benny adalah pimpinan dan vokalis salah satu grup terkenal di Kuba. Talenta musik Benny alami. Dia tidak pernah belajar musik secara formal. Seorang yang dia pekerjakan selalu sigap berada di dekatnya untuk mencatat nada-nada yang baru saja didendangkan Benny ke dalam partitur. Komposisi itu kemudian dimainkan bersama-sama. Begitu biasanya cara Benny dan grup musiknya bekerja. 

Sekembalinya ke Negeri Cerutu pada 1952, Benny coba kembali merengkuh kejayaan di tempat asalnya. Panggung demi panggung kembali dia taklukkan. Periode 1953 hingga 1955, Benny bersama grup musiknya begitu populer sehingga membuat mereka bisa melakoni tur ke beberapa negara, termasuk Amerika. 

Tapi, sebagaimana digambarkan di film ini, Benny bukanlah sosok manusia sempurna. Dia punya gaya hidup serampangan. Dengan pesona yang dimilikinya, Benny bisa dengan mudah meniduri wanita dari satu pesta ke pesta lain. Ditambah lagi dia juga seorang alkoholik. Gaya hidup seperti itu membawa Benny perlahan-lahan menuju kehancuran. Tidak hanya kesehatannya yang terus memburuk, tapi juga kehidupannya yang berakhir tragis. 

Benny yang coba mengubah gaya hidup kemudian kembali tergoda meminum miras yang diberikan penonton di atas panggung. Tak lama kemudian, dia ambruk di panggung lalu dibawa ke rumah sakit. Selang beberapa hari nyawa Benny tak tertolong. Pada 19 Februari 1963, Benny meninggal dunia di Havana. Dia meninggal di usia terbilang muda: 43 tahun. 

Layaknya seorang pahlawan, kematian Benny ditangisi rakyat Kuba. Puluhan tahun setelah kematiannya, Benny masih dikenang sebagai salah satu musisi yang paling otentik dan dicintai rakyat Kuba. 


Patung Benny More di Kuba (Foto: miamiherald)

Sejak ditayangkan pada 2006, film El Benny merengkuh sukses di sejumlah festival seperti Locarno International Film Festival di mana sang pemeran utama, Renny Arozarena meraih penghargaan atas perannya sebagai Benny More. Film ini juga sudah sering diputar di sejumlah negara-negara lain, termasuk dalam ajang Miami International Film Festival pada Maret 2007.

Di Indonesia, film El Benny juga baru saja diputar dalam ajang Latin American Film Screening Series yang digelar sejak 16 Oktober 2018 di Empu Sendok Arts Station (ESAS), Jakarta. Selain El Benny, film Kuba lain yang diputar di ajang ini yaitu, La Edad de La Peseta (The Silly Age), Kangamba, Habanastation, dan Los Dioses Rotos. Dalam rangkaian yang digelar selama lima hari itu, film El Benny diputar pada hari terakhir sekaligus penutup acara.




(ELG)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id