Produksi micro drama di China (Foto: instagram)
Produksi micro drama di China (Foto: instagram)

95 Persen Micro Drama China Dibuat AI, PH Indonesia Pilih Tetap Andalkan Manusia

Elang Riki Yanuar • 05 November 2026 15:38
Ringkasnya gini..
  • Suneeday Creative memilih mempertahankan keterlibatan manusia dalam produksi micro drama meski AI mendominasi industri di China.
  • Suneeday Creative mampu memproduksi lebih dari 600 episode micro drama per bulan dengan mengandalkan talent dan kreativitas manusia.
  • Suneeday Creative memperluas wawasan industri micro drama Indonesia setelah diundang YouTube untuk mempelajari perkembangan produksi konten di China.
Jakarta: Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah industri micro drama di China. Lebih dari 95 persen micro drama baru yang diproduksi di negara tersebut pada kuartal pertama 2026 dilaporkan menggunakan AI. Namun, tren ini tidak serta-merta diikuti oleh rumah produksi Indonesia.

Suneeday Creative menjadi salah satu studio yang memilih mempertahankan keterlibatan manusia dalam proses produksi micro drama. Rumah produksi asal Indonesia ini menegaskan bahwa penulis, sutradara, dan talent tetap memegang peran utama dalam membangun cerita, emosi, serta karakter yang disajikan kepada penonton.

Data mengenai dominasi AI dalam produksi micro drama China tersebut berasal dari media negara setempat yang dikutip CNN. Perubahan ini turut memengaruhi Hengdian, kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi drama terbesar di China.

Pemanfaatan AI memungkinkan rumah produksi menghasilkan konten dalam jumlah besar dengan waktu produksi yang lebih singkat. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi industri micro drama global, termasuk Indonesia yang tengah mengalami pertumbuhan penonton dan persaingan antarp platform.

Meski demikian, Suneeday Creative tidak melihat penggunaan AI sebagai satu-satunya jalan untuk meningkatkan kapasitas produksi. Studio ini memilih pendekatan human-led, yakni menempatkan manusia sebagai pengendali utama proses kreatif, sementara teknologi digunakan untuk membantu mempercepat pekerjaan.

Pendekatan tersebut juga diterapkan di tengah tuntutan produksi konten dalam jumlah besar. Suneeday mengklaim mampu menghasilkan lebih dari 30 episode setiap hari dengan melibatkan talent manusia. Dalam satu bulan, jumlah produksinya bahkan melampaui 600 episode.

“China menunjukkan seberapa cepat teknologi bisa memproduksi drama dalam jumlah besar. Tapi untuk saat ini volume bukan tantangan kami, karena kami sudah memproduksi lebih dari 600 episode per bulan. Yang dicari penonton dan brand di Indonesia adalah karakter yang mereka percaya, dan itu lahir dari manusia. Teknologi kami gunakan untuk mempercepat cara kami berkarya, bukan menggantikannya,” ujar Sahlil Ge, Chief Commercial & Marketing Officer Suneeday Creative.

Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan perbedaan strategi Suneeday dalam menghadapi perkembangan teknologi di industri hiburan digital. Bagi mereka, kemampuan menghasilkan banyak episode perlu diimbangi dengan kualitas cerita dan karakter yang memiliki kedekatan emosional dengan penonton.

Sikap tersebut semakin ditegaskan setelah Suneeday Creative mendapat undangan dari YouTube untuk menghadiri acara YouTube: The Micro Drama Frontier di Hangzhou dan Hengdian, China, pada 20 sampai 22 Oktober 2026.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta berkesempatan mengunjungi studio dan lokasi syuting di Hengdian World Studios. Mereka juga mengikuti sesi roundtable serta wawancara bersama pimpinan YouTube kawasan Asia Pasifik (APAC), eksekutif produksi micro drama, dan sejumlah kreator.

Diskusi yang berlangsung membahas perkembangan format micro drama, peluang bisnis di pasar global, hingga masa depan industri produksi konten di tengah meningkatnya penggunaan AI. Berbagai pembahasan tersebut memberikan gambaran mengenai perubahan pola kerja dan persaingan di industri hiburan digital.

Bagi Suneeday, kunjungan ke China menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung perkembangan teknologi dan sistem produksi berskala besar. Pengalaman tersebut juga menjadi bahan evaluasi untuk menyusun strategi produksi, distribusi, serta kemitraan bisnis ke depannya.

Saat ini, Suneeday Creative dikenal sebagai studio vertical drama asal Indonesia yang memproduksi lebih dari 600 episode setiap bulan. Kontennya didistribusikan melalui 26 kanal milik sendiri di berbagai platform, termasuk TikTok, YouTube, Instagram, dan Snack Video.

Ekosistem digital Suneeday tercatat telah menjangkau lebih dari 50 juta pengikut di berbagai platform dengan jumlah tayangan melampaui 1 miliar per bulan. Pencapaian tersebut menunjukkan besarnya potensi pasar micro drama di Indonesia sekaligus membuka peluang bagi rumah produksi lokal untuk bersaing di tingkat global.

Suneeday Creative didirikan pada 2022 oleh Vian Madalina selaku CEO dan Founder, bersama Irwanda sebagai COO dan Co-founder, serta Surya Gemilang sebagai Chief Creative Officer. Sejak berdiri, studio ini telah menjalin kerja sama dengan ratusan brand dan platform besar.





 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA