"(Ketika) saya ditawari untuk main jadi Jadag itu, masih terbaring di rumah sakit (setelah) satu setengah bulan karena saya menderita kekurangan kalium secara drastis," kata Slamet dalam diskusi film Turah di kawasan Menteng, belum lama ini.
Setelah 1,5 bulan menjalani opname, Slamet mendapat telepon dari Wisnu yang pada intinya menawari peran di film Turah. Karena antusias, Slamet langsung dapat berdiri dan meminta pulang. Kendati sempat merasa tak sanggup karena naskah berbahasa Indonesia, tawaran tetap diterima karena naskah lantas diterjemahkan ke bahasa Jawa dialek Tegal.
"Ya sudah piye maneh. Sehat ya? Sehat!" kata Slamet.
"Alhamdulilah saya ikut syuting 10 hari. Itu enggak mandi, ya berangkat pagi pulang subuh. Mandinya kapan?" lanjut dia.
Film Turah memotret kehidupan di suatu kampung bernama Tirang di Tegal, yang berisi orang-orang kalah dalam persaingan hidup, diliputi rasa pesimis, serta takut terhadap juragan kaya raya bernama Darso (Yono Daryono). Pakel (Rudi Iteng), sarjana penjilat di lingkaran Darso membuat warga semakin bermental kerdil.
Penggalan kisah mereka diceritakan antara lain lewat perspektif dua kawan bernama Jadag dan Turah (Ubaidilah). Peristiwa-peristiwa yang terjadi mendorong Turah dan Jadag untuk melawan rasa takut yang sudah akut dan meloloskan diri dari narasi penuh kelicikan.
Film ini menjadi debut film panjang Wisnu sebagai penulis sekaligus sutradara. Ifa Isfansyah menjadi produser di bawah bendera Fourcolours Films. Para aktor yang terlibat adalah pemain teater senior Tegal dan pernah bermain di beberapa film pendek, termasuk film pendek Wisnu.
Turah telah diputar di sejumlah bioskop sejak Rabu 16 Agustus 2017.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News