F​ ilm Penyalin Cahaya (Foto: kaningapictures)
F​ ilm Penyalin Cahaya (Foto: kaningapictures)

Hari Film Nasional 2026! Rayakan dengan 5 Film Indonesia yang Tembus Festival Internasional

Basuki Rachmat • 30 Maret 2026 17:53
Ringkasnya gini..
  • Hari Film Nasional 2026 tandai 76 tahun perfilman Indonesia sejak Darah dan Doa.
  • Penonton film Indonesia capai 80,27 juta, tren industri terus meningkat.
  • Rekomendasi 5 film Indonesia yang sukses dan diakui di festival dunia.
Jakarta: Setiap tanggal 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional, sebuah momentum penting untuk merayakan perjalanan panjang sekaligus perkembangan industri perfilman Indonesia. 
 
Pada tahun 2026 ini, peringatan tersebut memasuki usia ke-76 tahun, merujuk pada tonggak sejarah lahirnya film Darah dan Doa (1950) karya Usmar Ismail, yang dianggap sebagai film pertama produksi asli sineas Tanah Air.
 
Semangat itu kini berbuah manis, film Indonesia tengah berada di tren positif. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut, hingga 31 Desember 2025, jumlah penonton film Indonesia mencapai 80,27 juta, naik tipis dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 80,21 juta penonton.
 
Dalam rangka merayakan euforia Hari Film Nasional, Medcom.id menyajikan 5 rekomendasi film Indonesia yang tidak hanya sukses di pasar domestik, tetapi juga berhasil mencuri perhatian dunia lewat prestasi di Festival Film Internasional. Kabar baiknya, Sobat Medcom bisa menyaksikan film ini melalui platform streaming resmi seperti Netflix.

1. Penyalin Cahaya (2021)



Film Indonesia pertama yang berhasil mendunia adalah Penyalin Cahaya. Film ini merupakan karya debut film panjang perdana dari sutradara Wregas Bhanuteja. Film Penyalin Cahaya tayang perdana di Busan International Film Festival tahun 2021 dan berhasil meraih penghargaan sebagai Film Terbaik.
 
Film berdurasi 129 menit ini menceritakan tentang Sur (diperankan Shenina Cinnamon) yang harus kehilangan beasiswanya. Hal itu terjadi karena dia dianggap mencemarkan nama baik fakultas, usai swafotonya dalam keadaan mabuk beredar.
 
Sur untuk pertama kalinya datang ke pesta kemenangan komunitas teater di kampusnya, dan mendapati dirinya tidak sadarkan diri. Keesokan harinya, Sur juga tidak dapat mengingat apa pun yang terjadi kemarin malam. Dia meminta bantuan teman masa kecilnya yang bernama Amin (diperankan Chicco Kurniawan), seorang tukang fotokopi yang tinggal dan bekerja di kampus. Amin membantu mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada Sur saat pesta.
 

2. Jakarta vs Everybody (2020)

Selanjutnya, ada film Jakarta vs Everybody karya rumah produksi Pratama Pradana Picture yang disutradarai oleh Ertanto Robby Soediskam. Film yang dibintangi oleh aktor Jefri Nichol dan Wulan Guritno ini sendiri berhasil tayang di Festival Film Black Nights Tallinn (POFF), Estonia pada tahun 2020 lalu.
 
Mengangkat sisi kelam ibu kota, film ini mengikuti perjalanan Dom (Jefri Nichol), pemuda yang bermimpi menjadi aktor namun justru terjebak dalam kerasnya realita Jakarta. Pertemuannya dengan pasangan Pinkan (Wulan Guritno) dan Radit (Ganindra Bimo) membawanya ke sebuah petualangan berbahaya.
 
Kehadiran tokoh Ratih (Jajang C. Noer) dan Khansa (Dea Panendra) menjadi titik balik bagi Dom untuk menentukan arah hidupnya: mengejar mimpi atau tenggelam dalam arus gelap kota.
 

3. Gundala (2019)


 
Di urutan ketiga ada film superhor Gundala karya besutan sutradara Joko Anwar yang bekerja sama dengan Bumilangit Studios, Screenplay Films, dan Legacy Pictures. 
 
Gundala sendiri merupakan film Indonesia pertama yang menggunakan tata suara Dolby Atmos. Film ini diputar di berbagai festival internasional seperti Toronto International Film Festival, Paris International Fantastic Film Festival, dan tayang di bioskop Amerika Utara pada 28 Juli 2020 melalui distributor Well Go USA Entertainment.
 
Film ini mengisahkan Sancaka (Abimana Aryasatya), pria yang terbiasa hidup keras di jalanan tanpa mempedulikan orang lain. Namun, saat ketidakadilan melanda kota, Sancaka dihadapkan pada pilihan sulit: tetap bersembunyi di zona aman atau bangkit sebagai 'Gundala' demi membela rakyat yang tertindas.
 

4. Kucumbu Tubuh Indahku (2018)


 
Kucumbu Tubuh Indahku juga menjadi film Indonesia yang mendunia. Film ini tayang perdana di Venice International Film Festival, meraih penghargaan Bisato D’Oro Award di Venice Independent Film Critic dan menjadi Film Terbaik di Festival Des 3 Continents.
 
Karya puitis dari sutradara Garin Nugroho ini menceritakan perjalanan hidup Juno (Muhammad Khan) melalui seni tari Lengger. Juno harus menavigasi identitas diri dan trauma masa lalunya di tengah lingkungan yang penuh gejolak. Film ini mendapat apresiasi tinggi di Venice International Film Festival karena keberaniannya mengeksplorasi tubuh, seni tradisional, dan kemanusiaan dengan visual yang memukau.
 

5. Pengabdi Setan (2017)


 
Di urutan terakhir ada film horor legendaris karya dari sutradara Joko Anwar berjudul Pengabdi Setan yang dibintangi oleh aktris Tara Basro. Film ini sendiri berhasil meraih prestasi di Amerika Serikat sebagai Film Horor Terbaik di Toronto After Dark Film Festival, Film Terbaik di Overlook Film Festival 2018 di AS dan Scariest Film Award di Popcorn Frights Film Festival 2018 di Florida.
 
Seolah mendefinisikan ulang standar horor lokal, Pengabdi Setan sukses menebar teror hingga ke mancanegara. Berlatar tahun 1980-an, film ini mengisahkan sebuah keluarga yang baru saja kehilangan sang Ibu (Ayu Laksmi). 
 
Tak lama setelah pemakaman, suasana rumah berubah mencekam ketika sosok sang Ibu tampak kembali hadir, namun bukan untuk melepas rindu, melainkan untuk menjemput sesuatu yang belum tuntas. Atmosfernya yang solid menjadikannya salah satu film horor Indonesia tersukses sepanjang masa.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA