RSL Human Consent Standard merupakan basis data publik gratis yang akan diluncurkan pada Juni mendatang. Sistem ini memungkinkan siapa pun menentukan apakah karya atau identitas mereka boleh digunakan AI atau tidak.
Alasan Pendirian RSL Media
RSL Media dibangun dengan prinsip bahwa persetujuan manusia harus menjadi prioritas utama. Pasalnya, perkembangan AI saat ini dinilai semakin pesat dan kerap memanfaatkan karya kreatif maupun citra seseorang tanpa izin. Melalui sistem ini, persetujuan pengguna akan diubah menjadi sinyal yang dapat dibaca mesin AI.Bintang Thor: Ragnarok itu menilai perkembangan AI perlu dibersamai dengan aturan yang jelas agar manusia tetap memiliki kendali atas teknologi tersebut.
“Ini (RSL Media) juga merupakan solusi praktis pertama di industri ini yang memungkinkan siapa pun di mana pun, bukan hanya tokoh publik, untuk mengendalikan cara karya mereka digunakan oleh AI,” ucap Blanchett, dikutip dari Variety, Rabu (14/5).
Co-founder sekaligus CEO RSL Media Nikki Hexum juga menilai AI tidak bisa menghormati hak seseorang jika sistemnya tidak mampu mengenali batasan tersebut. Karena itu, organisasi ini dibentuk agar pengguna internet bisa menentukan dengan jelas apakah karya mereka boleh digunakan AI atau tidak.
“Hak untuk memutuskan apakah AI dapat menggunakan karya atau identitas Anda tidak boleh hanya dimiliki oleh mereka yang mampu menyewa pengacara atau memiliki platform yang cukup besar untuk didengar; ini adalah hak asasi manusia,” tambah Hexum.
Manfaat RSL Media
RSL Media memungkinkan pengguna memilih bagaimana karya dan identitas mereka digunakan AI: diizinkan, diizinkan dengan syarat tertentu, atau sepenuhnya ditolak. Sistemnya dibuat sederhana layaknya lampu lalu lintas: hijau untuk mengizinkan, kuning dengan syarat tertentu, dan merah untuk menolak.Selain itu, platform ini juga diharapkan bisa menjadi standar universal agar sistem AI memahami izin penggunaan karya secara lebih jelas, tanpa harus terhambat aturan hak cipta yang rumit.
Blanchett sendiri memang sudah lama menyuarakan kekhawatiran soal perkembangan AI. Awal tahun ini, ia bergabung bersama lebih dari 700 artis, penulis, dan kreator dalam kampanye anti-AI yang mengkritik perusahaan teknologi karena menggunakan karya berhak cipta tanpa izin.
Beberapa figur publik yang ikut mendukung gerakan ini antara lain Javier Bardem, George Clooney, Viola Davis, Tom Hanks, Kristen Stewart, hingga Meryl Streep.
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News