Keputusan Laura untuk menerima The Doll Ghawiah rupanya dipengaruhi oleh cerita yang menurutnya menarik. Saat membaca naskah karya Riheam Junianti tersebut, Laura merasa film ini tidak hanya mengandalkan unsur horor, tetapi juga memadukan drama keluarga dan adegan aksi.
"Pertama, pas aku baca naskahnya, itu menarik banget. Ceritanya make sense. Selain itu, ada perpaduan adegan action dan drama yang kuat," kata Laura Moane di Jakarta.
Selain naskah, jajaran pemain juga menjadi pertimbangan Laura. Dia beradu akting dengan sejumlah nama seperti Titi Kamal, Darius Sinathrya, Sara Wijayanto, dan Aisyah Aqilah. Film tersebut disutradarai Guntur Soeharjanto dan diproduksi Hitmaker Studios.
Dalam The Doll Ghawiah, Laura memerankan Nala, anak bungsu dari pasangan Arya dan Evi yang masing-masing dimainkan Darius Sinathrya dan Titi Kamal. Peran tersebut membuat Laura harus menghadapi situasi yang berbeda dari karakter-karakter sebelumnya.
Laura bahkan harus menjalani sejumlah adegan aksi yang cukup ekstrem. Pengalaman menggunakan sling, melakukan adegan fighting, hingga menghadapi efek darah menjadi tantangan baru sekaligus pengalaman yang justru membuatnya menikmati proses syuting.
"Aku enggak pernah adegan fighting atau pakai darah-darahan sebelumnya. Ternyata seru banget! Pakai sling, aksi laga, sampai efek darah itu bikin aku ketagihan main film horor lagi," imbuhnya.
Pengalaman tersebut membuat pandangan Laura terhadap proses produksi film horor berubah. Selama ini, dia menganggap syuting film horor akan terasa menyeramkan, terlebih karena Laura mengaku jarang menonton film horor.
"Seru sih menurut aku. Aku nggak tahu seru gara-gara pemainnya sama kru-nya, tapi everyone is so supportive. Terus karena ini juga film horor pertama aku. Jadi seru banget," kata Laura Moane.
"Apalagi ada scene action, ini juga pertama kali aku main film dengan scene action pakai sling yang lompat-lompat, terbang-terbang, kesurupan, gitu. Jadi, seru aja gitu. Aku dulu tuh nggak mau horor, karena aku penakut orangnya, tapi after ini sih aku pengen lagi." lanjutnya.
Bukan hanya adegan aksi yang membuat Laura berubah pikiran. Proses di balik layar juga membuatnya menyadari bahwa suasana syuting film horor ternyata tidak seseram yang selama ini dia bayangkan.
"Karena mungkin selama ini aku mikirnya tuh syuting horor tuh serem. Aku juga nggak pernah nonton film horor. Sejujurnya aku enggak pernah karena aku tinggal sendiri dan aku enggak mau cari masalah, kan. Aku orangnya penakut, aku tahu. Tapi habis syuting, aku kayak ternyata behind the camera nggak seseram itu. Dan aku jadi kayak aku jadi pengen nyoba scene kesurupan juga dan ya, aku ngelihatnya seru gitu," katanya.
Kisah The Doll Ghawiah
The Doll Ghawiah sendiri membawa cerita tentang sebuah keluarga yang pindah dari Jakarta ke Bandung pada 1988 untuk memulai kehidupan baru. Arya dan Evi membawa kedua putri mereka, Gita dan Nala, sebelum kemudian menghadapi kejadian misterius di lingkungan tempat tinggal mereka.Masalah bermula ketika Nala bertemu seorang anak perempuan misterius di hutan kawasan Babakan Siliwangi. Pertemuan tersebut memperkenalkannya pada sebuah boneka bernama Ghawiah yang kemudian menjadi sumber teror bagi keluarga mereka.
Dalam cerita film, Ghawiah bukan sekadar boneka biasa. Teror yang mengikutinya berkaitan dengan legenda arwah seorang anak bernama Uci yang meninggal secara tragis akibat kecelakaan tabrak lari di Jalan Siliwangi. Sosok tersebut dikisahkan pernah menghantui warga bersama boneka kesayangannya.
The Doll Ghawiah juga memiliki kaitan dengan semesta The Doll. Film ini menjadi bagian dari waralaba horor Hitmaker Studios yang sebelumnya menghadirkan The Doll, The Doll 2, dan The Doll 3.
The Doll Ghawiah dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 29 Oktober 2026.
Baca Juga :