24 Novel Klasik Balai Pustaka Dibuka untuk Bisnis Film

Purba Wirastama 13 September 2018 10:49 WIB
film
24 Novel Klasik Balai Pustaka Dibuka untuk Bisnis Film
Koleksi lawas buku terbitan Balai Pustaka. (MI)
Jakarta: Balai Pustaka, penerbit buku yang telah berusia 101 tahun, membuka diri secara lebih serius terhadap bisnis perfilman. Rencananya, mereka akan menjual intellectual property atau hak kekayaan intelektual (HKI) atas 24 novel klasik kepada sineas dan investor film. 

Rencana ini diungkap oleh Vivian Idris, direktur program forum pendanaan film Akatara 2018 saat berkunjung ke kantor Media Group, Senin, 12 September. Menurut Vivian, proyek penjualan 24 properti intelektual itu akan dilakukan Balai Pustaka bersama Akatara.

Dua novel di antaranya adalah Sitti Nurbaya karya Marah Rusli dan Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati. 


"Ini di luar (forum pendanaan) Akatara, tetapi bagian dari Akatara. Salah satu rekan kami adalah Balai Pustaka," kata Vivian.

Balai Pustaka Menolak Mati

"Balai Pustaka, yang sekarang sedang melakukan transformasi, mereka akan menjual IP mereka. Ada 24 IP Balai Pustaka yang paling populer, yang akan mereka keluarkan dengan harapan akan disambut oleh teman-teman perfilman," tuturnya. 

Balai Pustaka adalah perusahaan penerbitan milik negara, yang diawali sebagai Komite Bacaan Rakyat bentukan pemerintah Hindia Belanda pada September 1908. Baru pada 1917, namanya diganti menjadi Balai Pustaka. 

Penerbit ini punya peran besar dalam perkembangan sastra Indonesia, terutama dalam kurun waktu 1920-1942 sebelum Indonesia merdeka. Karya-karya sastra yang terbit dan populer pada era ini sering disebut sebagai Angkatan Balai Pustaka. Beberapa penulis era ini antara lain Nur Sutan Iskandar, Abdul Muis, dan Aman Datuk Madjoindo. 

Novel terbitan Balai Pustaka sebenarnya bukan materi baru dalam film adaptasi. Sitti Nurbaya sudah pernah diadaptasi sedikitnya ke satu film rilisan 1941 dan dua serial televisi era 1990 dan 2000. Contoh lainnya adalah Di Bawah Lindungan Ka'bah, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan Salah Asuhan. Bahkan Si Doel Anak Betawi karya Aman Datuk terbitan 1932, masih terasa nafasnya hingga sekarang lewat film dan serial yang melibatkan Rano Karno. 

Akatara adalah forum tahunan pendanaan film yang digelar oleh Badan Ekonomi Kreatif bersama Badan Perfilman Indonesia sejak 2017. Tahun ini, Akatara akan digelar kembali di Jakarta pada 18-20 September. Total ada 50 proyek film dan non-film yang ditawarkan kepada para mitra dan  calon investor.




(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id