Chicago The Musical (Foto: instagram)
Chicago The Musical (Foto: instagram)

Chicago The Musical Resmi Pentas di Jakarta, Sindiran Keras soal Ketenaran

Elang Riki Yanuar • 10 April 2026 07:27
Ringkasnya gini..
  • Chicago The Musical tampil di TIM Jakarta, menyuguhkan kisah Roxie dan Velma yang menyorot manipulasi media, citra, dan kebenaran.
  • Galabby sebut cerita Chicago relevan dengan netizen Indonesia yang cepat menghakimi. Musikal ini jadi cermin era media sosial.
  • Pementasan Chicago di TIM dipuji lewat jazz kuat dan koreografi Bob Fosse. Putri Indam sebut tantangan utamanya bikin versi Broadway terasa dekat.
Jakarta: Chicago The Musical resmi memulai rangkaian pertunjukannya di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pementasan musikal legendaris ini tidak hanya menjadi hiburan panggung semata, tetapi juga menghadirkan refleksi tajam tentang bagaimana kebenaran dan citra dapat saling bertabrakan di tengah derasnya arus opini publik.
 
Sejak malam pembukaan, penonton langsung diajak masuk ke dunia Roxie Hart dan Velma Kelly, dua karakter yang terjebak dalam ambisi, skandal, serta permainan media. Kisah yang berlatar Amerika era 1920-an itu terasa sangat dekat dengan realitas modern, ketika sensasi sering kali lebih menarik perhatian dibanding fakta.
 
Dengan dialog tajam, iringan musik jazz yang kuat, serta koreografi khas Bob Fosse yang penuh presisi, Chicago The Musical sukses menghadirkan pengalaman teater musikal berkelas. Pertunjukan ini memperlihatkan bagaimana ketenaran bisa menjadi alat untuk membentuk persepsi, bahkan mengaburkan kebenaran.

Produksi ini dipimpin oleh Sutradara sekaligus Produser Aldafi Adnan, yang berhasil membawa karya Broadway tersebut ke panggung Indonesia tanpa kehilangan esensi aslinya. Adaptasi ini tetap mempertahankan energi klasik Chicago, namun terasa lebih dekat dengan penonton lokal lewat penyampaian yang relevan.
 
Deretan performer yang terlibat pun menjadi sorotan. Putri Indam Kamila tampil sebagai Roxie Hart, Galabby memerankan Velma Kelly, sementara Gusty Pratama berperan sebagai Billy Flynn. Ketiganya menunjukkan kemampuan triple threat yang solid, memadukan akting, vokal, dan tarian dalam satu panggung yang intens.
 
Pementasan ini juga diperkuat oleh arahan musik Ivan Tangkulung serta koreografi dari Hamada Abdool. Kombinasi tersebut membuat Chicago The Musical tampil matang, rapi, dan memiliki kualitas artistik yang terasa megah dari awal hingga akhir.
 
Relevansi cerita Chicago di era sekarang menjadi salah satu alasan pertunjukan ini begitu menarik. Galabby melihat kisah musikal ini seolah menggambarkan dinamika masyarakat modern yang cepat menghakimi melalui media sosial.
 
"Di Indonesia, netizen itu cepat tanggap. Ada berita, langsung bersuara lewat media sosial. Orang yang awalnya tidak bersalah pun terpaksa klarifikasi, persis seperti yang terjadi di panggung Chicago The Musical," ujar Galabby.
 
Aldafi Adnan juga menegaskan bahwa Chicago bukan sekadar musikal hiburan, melainkan cerita yang mencerminkan realitas masyarakat masa kini. Ia menilai tema besar tentang persepsi, popularitas, dan media sangat relevan dengan kehidupan modern.
 
Chicago The Musical Resmi Pentas di Jakarta, Sindiran Keras soal Ketenaran
 
"Meskipun musikal ini berlatar di Amerika tahun 1920-an, tema-tema yang diangkat terasa sangat dekat dengan realitas kehidupan kita hari ini: kita juga hidup di tengah era di mana cerita dapat dibentuk oleh persepsi, popularitas, dan panggung media. Dalam konteks ini, Chicago The Musical menjadi sangat relevan, mengajak kita untuk tertawa, terhibur, namun sekaligus merenung tentang bagaimana masyarakat sering kali terpesona oleh glamor drama dan skandal,” kata Aldafi Adnan.
 
Selain kekuatan cerita, salah satu elemen yang paling menonjol adalah koreografi yang tidak hanya berfungsi sebagai pengiring, tetapi juga menjadi bagian dari narasi utama. Hamada Abdool menekankan bahwa gerakan dalam Chicago bukan sekadar tarian, melainkan bahasa cerita yang menyampaikan emosi dan konflik karakter.
 
"Di 'Cell Block Tango', ada enam karakter yang masing-masing menceritakan kasus pembunuhan mereka sendiri sementara cast lain terus bergerak dan bernyanyi di latar. Koreografinya tidak hanya mengiringi cerita. Koreografinya adalah ceritanya," ucap Hamada Abdool.
 
Tantangan besar ini juga dirasakan langsung oleh Putri Indam Kamila. Ia menyebut bahwa kesulitan terbesar adalah bagaimana menghadirkan energi Chicago versi Broadway agar tetap menyentuh penonton Indonesia.
 
“Yang paling menantang adalah bagaimana mencerminkan akting, vokal, dan tari Chicago The Musical dari Amerika ke Indonesia bisa menyentuh audiens dan terasa relevan di kehidupan Indonesia sehari-hari,“ ujar Putri.
 
Melalui pementasan ini, Chicago The Musical tampil bukan sekadar tontonan panggung, tetapi juga percakapan tentang manipulasi citra, ambisi, dan bagaimana seseorang bisa terlihat bersalah atau tidak bersalah hanya karena siapa yang menceritakan kisahnya.
 
Chicago The Musical akan dipentaskan pada 8 hingga 12 April 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Tiket pertunjukan tersedia melalui: https://goers.co/chicagothemusical2026
 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA