Pemain Film Sofia (Foto: instagram)
Pemain Film Sofia (Foto: instagram)

Wulan Guritno Bersiap Jalani Adegan Brutal di Film Sofia

Elang Riki Yanuar • 14 Juli 2026 21:43
Ringkasnya gini..
  • Carissa Perusset sampai meminta disiapkan psikolog atau terapis karena beratnya karakter Dahlia dalam film Sofia.
  • Film Sofia menguras fisik dan mental para pemainnya karena mengangkat trauma, kekerasan, dan sisi terdalam psikologi manusia.
  • Wulan Guritno jalani latihan fisik, sementara Anantya Kirana menyiapkan mental ekstra untuk menghadapi beratnya syuting film Sofia.
Jakarta: Film horor psikologis Sofia memberikan tantangan berat bagi para pemainnya. Tidak hanya menguras tenaga, proses mendalami karakter dengan konflik dan trauma kompleks membuat sejumlah pemeran harus mempersiapkan kondisi mental sebelum menjalani syuting.
 
Carissa Perusset yang dipercaya memerankan karakter Dahlia mengaku sempat mempertanyakan kesiapan tim produksi dalam menjaga kondisi psikologis para pemain. Beratnya pengalaman yang dialami Dahlia membuat Carissa berpikir mengenai kemungkinan pendampingan profesional setelah proses syuting.
 
"Aku sampai nanya, 'Ini nanti bakal sedia psikolog atau terapis enggak setelah syuting?' Soalnya karakter yang dialamin Dahlia lumayan berat, bukan cuma fisik tapi mental juga," kata Carissa.

Carissa bahkan tidak menampik sempat mempertimbangkan untuk menolak tawaran bermain dalam film tersebut. Tema dan konflik yang dihadirkan dalam SOFIA mengingatkannya pada pengalaman emosional ketika menjalani sejumlah proyek film sebelumnya.
 
"Kalau boleh jujur, iya. Tapi mungkin ini jadi cara buat memperbaiki trauma dari film-film kemarin," ujarnya.
Sementara Wulan Guritno mengaku harus menjalani persiapan ekstra untuk membintangi film horor psikologis Sofia. Tak hanya mendalami karakter lewat pembacaan naskah, ia juga mengikuti latihan fisik demi mendukung sejumlah adegan brutal yang akan ditampilkan dalam film produksi Lasisi Pictures tersebut.
 
“Kalau kebetulan aku ada latihan action. Action bukan dalam arti fighting, tapi karena kita banyak adegan-adegan brutal,” ujar Wulan. 
 
Menurut Wulan, seluruh pemain menjalani proses workshop secara intens sebelum syuting dimulai. Bersama sutradara dan penulis skenario, para pemain membedah setiap adegan agar memahami karakter yang akan diperankan.
 
“Setiap hari reading, belajar skenario bareng, lalu mengulas setiap detail bersama penulis dan sutradara. Jadi bukan sekadar membaca naskah, tetapi benar-benar mendalami karakter,” katanya.
 
Tantangan serupa dirasakan Anantya Kirana yang memerankan karakter utama bernama Sofia. Ia mengaku harus melakukan persiapan mental lebih matang dibandingkan ketika menjalani proyek film sebelumnya.
 
Karakter Sofia digambarkan memiliki luka psikologis kompleks akibat berbagai kekerasan yang dialaminya. Bahkan, Anantya sudah merasakan beban emosional karakter tersebut sejak pertama kali membaca skenario.
 
"Aku harus nyiapin mental lebih. Baca skripnya aja capek banget, adegan-adegannya juga capek, bukan cuma fisik tapi mental juga," tutur Anantya.
Sutradara Adis Kayl Yurahmah menjelaskan bahwa Sofia membawa pesan mengenai kemanusiaan. Film tersebut ingin memperlihatkan bagaimana tindakan kekerasan yang terus terjadi dapat perlahan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
 
"Film Sofia berbicara tentang bagaimana kekerasan itu akan dianggap normal kalau berlangsung terlalu lama. Ini film tentang kemanusiaan," kata Adis. 
 
Untuk menghidupkan cerita tersebut, Lasisi Pictures menghadirkan sejumlah aktor lintas generasi. Selain Anantya Kirana dan Carissa Perusset, film ini turut dibintangi Wulan Guritno, Nugie, Kiki Narendra, Habil Nugraha, Leony V.H., dan Ayu Diandra.
 
"Kami merasa terhormat dapat menyatukan nama-nama besar dan talenta muda berbakat ini dalam satu proyek. Energi dari para pemeran muda yang dipadukan dengan pengalaman aktor senior akan memberikan dimensi dan kualitas artistik yang tinggi pada film SOFIA," ujar Ade Abu.
 
Cerita Sofia sendiri ditulis oleh Benjamin Bernard Chenier. Inspirasi film tersebut berasal dari pengalamannya ketika terlibat dalam sejumlah organisasi sosial dan melihat berbagai bentuk tindakan kejam yang dapat dilakukan manusia.
 
Dari pengalaman tersebut, Benjamin melihat bagaimana seseorang dapat mencari pembenaran terhadap tindakan yang sebenarnya salah. Persoalan itu kemudian menjadi salah satu gagasan yang dikembangkan dalam cerita Sofia.
 

 

 

 

 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA