Ario Bayu dalam 22 Menit (buttonijo films)
Ario Bayu dalam 22 Menit (buttonijo films)

Syuting Film 22 Menit Gunakan Senjata Asli

Purba Wirastama • 17 Juli 2018 10:05
Jakarta: Ario Bayu dan sejumlah pemain film 22 Menit secara khusus berguru ke Mako Brimob selama beberapa pekan untuk mendalami peran sebagai polisi satuan elit. Namun tidak hanya itu, ketika syuting, mereka juga mengenakan perangkat asli mulai dari senjata api hingga rompi anti peluru. 
 
"Rompi yang dipakai itu 9 kilogram beratnya. Belum lagi senjata, holster – jadi itu cukup membuat keringat gue sebesar 'jagung'," ungkap Ario usai press screening film 22 Menit di Jakarta, Senin, 16 Juli 2018.
 
"Semua senjata yang kami pakai itu asli, tidak ada ada yang palsu, tetapi otomatis sudah kami sterilkan," imbuhnya saat ditanya lebih lanjut. 

Tuntutan peran ini membuat Ario bisa membayangkan betapa menjadi polisi elit sungguhan sangat tak mudah dan butuh kemampuan tinggi. Urusan fisik dan standar peralatan sudah tidak menjadi beban karena mereka harus berhadapan dengan ancaman yang nyata. 
 
Bagi Ario, salah satu adegan paling mengesan terkait senjata adalah ketika Ardi, tokoh anggota pasukan elit yang dia perankan, mengejar pelaku teror. Ario menyebut adegan ini butuh waktu syuting sangat lama. 
 
"Ada satu adegan di mana saya harus mengangkat senjata dalam waktu lama dan semua senjata itu asli (...), saya harus menangkap target. Itu take-nya lama banget, tangan ini sudah ingin turun karena senjata dan rompi itu berat sekali. Bayangkan gegana atau polisi elit yang aslinya dia harus pakai helm, itu berapa kilogram," tutur Ario. 
 
Dalam cerita film ini, tokoh Ardi tidak mengenakan helm seperti tokoh pasukan elit lain.
 
"Itu kan dramatisasi, pura-pura. Saya enggak bisa bayangkan kalau mereka ada di situasi asli, menembak dari sini. Jadi perlu kemampuan cukup tinggi, makanya mereka disebut pasukan elit Indonesia," lanjutnya. 
 
22 Menit diinspirasi dari kisah nyata Bom Thamrin Jakarta 2016. Eugene Panji dan Myrna Paramita menjadi sutradara dengan naskah tulisan Husein Atmojo dan Gunawan Raharja. Produksi dilakukan Buttonijo Films dengan produser Lexy Mere. 
 
Kisahnya mengikuti sejumlah orang yang sibuk dengan urusan masing-masing di sekitar kawasan Thamrin, Jakarta pada suatu pagi. Alur utama mengikuti Ardi (Ario Bayu), polisi anti teror yang selalu mengantar anaknya ke sekolah setiap pagi sebelum bertugas. Pagi itu, terjadi ledakan bom. Situasi mendadak genting dan mencekam. Ardi dan unit anti teror bergerak dan mengontrol situasi dalam waktu 22 menit
 
Selain Ario, pemain lain yang terlibat di antaranya Ade Firman Hakim, Taskya Namya, Ence Bagus, Fanny Fadilah, Ardina Rasti, dan Hana Malasan. Tito Karnavian dan Khrisna Murti juga muncul sebagai cameo. Beberapa anggota pasukan elit asli juga ikut terlibat sebagai pemain pendukung. 
 
"Myrna dan Eugene di sini mengedepankan realisme. Meskipun ini film yang berangkat dari kejadian nyata yang kami dramatisir, kami ingin penonton terbawa dengan realisme dalam film. Mereka (Myrna dan Eugene) bilang, 'Lo harus bisa nembak, lo harus bisa melankolis'," tukas Ario. 
 
22 Menit akan dirilis di bioskop pada 19 Juli 2018.
 


 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DEV)




TERKAIT

BERITA LAINNYA