Indonesia Darurat Film Anak
Cuplikan film Kulari ke Pantai (2018). (Foto: Miles Films)
Jakarta: Tayangan menghibur dan edukatif untuk anak Indonesia kian tergerus. Selama 10 tahun terakhir, belum ada judul film khusus anak yang menarik perhatian dan dikemas dengan alur cerita atraktif sekaligus mendidik. Sebut saja film anak populer yang belum pernah tergantikan yakni Petualangan Sherina (2000) dan Laskar Pelangi (2008). Kedua judul film ini menjadi ujung tombak sisa-sisa film anak di Indonesia dan mewarnai masa kecil generasi 90-an.

Bagaimana dengan generasi sekarang dan seterusnya? Bibit baru itu kian dinanti, hingga akhirnya Riri Riza dan Mira Lesmana melalui rumah produksi Miles Films kembali merilis film Kulari ke Pantai (2018) sebagai pertanda lahirnya film anak di Indonesia. Mira Lesmana yang juga terlibat langsung dalam produksi film Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi menyadari betul kondisi darurat film anak di Indonesia sekarang ini.

“Kalau mau maju film Indonesia, film anak harus punya banding yang cukup. Supaya kita punya regenerasi, penonton maupun pemain aktor dan lain sebagainya,” kata Mira.


Sutradara Riri Riza ikut melihat potensi anak-anak sebagai regenerasi industri film di Indonesia. Keterlibatan mereka yang mampu beradaptasi sejak kecil di panggung seni hiburan dan pertunjukan menjadi langkah awal mereka memberikan sumbangsih produksi film Indonesia yang baik dan berkualitas di tengah kondisi Indonesia yang darurat film anak.

“Anak-anak itu sebenarnya punya posisi yang penting untuk masa depan kita, untuk kebaikan bangsa kita ke depan. Dan hiburan seperti film adalah sesuatu yang sebenarnya menjadi sangat penting. Karena anak-anak itu bisa bermain mimik, bisa mengikuti, bisa mengidentifikasi dirinya di dalam cerita. Jadi, munculnya film yang baik, munculnya film yang berkualitas itu menjadi sangat urgent. Karena bayangkan kalau semua film itu yang ada hanya film barat atau film impor, yang terjadi adalah anak-anak tidak punya idola, tidak punya contoh yang dekat dari mereka. Nah, itulah yang sebenarnya yang mendorong kita untuk berpikir bahwa sangat urgent,” kata Riri di kesempatan yang sama.

Di sela waktu liburan, anak-anak Indonesia kini tertarik menonton film animasi dan aksi besutan Hollywood. Film anak Indonesia atau bahkan film Indonesia pun ikut bersaing dengan judul-judul film Hollywood yang masuk.

“Sebenarnya kita punya lebih banyak lagi film anak karena itu akan memberikan peluang-peluang baru buat anak Indonesia belajar. Dan, sayang sekali kalau setiap liburan, keluarga Indonesia hanya nyumbang untuk (film) Hollywood. Tentu saja film Hollywood banyak yang bagus, tapi banyak juga yang kurang tepat untuk anak-anak Indonesia. Jadi, sebenarnya kami ingin berkontribusi untuk sesuatu yang lebih baik,” lanjutnya.

Penulis naskah sekaligus sutradara untuk film remaja keluarga berjudul Posesif, Gina S. Noer juga sependapat bahwa Indonesia dalam kondisi darurat film anak. Dibutuhkan lebih banyak dialog-dialog bertema keluarga sebagai panutan keluarga termasuk anak-anak. Melalui film, pesan moran dan edukasi itu dengan mudah tersampaikan.

“Untuk membentuk sebuah bangsa, masyarakat yang lebih sehat, kita butuh narasi-narasi yang lebih beragam. Masyarakat dan penonton bisa melihat diri mereka ada di layar, ada di dalam cerita-cerita yang bagus, yang mereka kenal sehari-hari dalam narasi itu,” tutur Gina.

“Indonesia kan penuh pergolakan, apalagi tinggal di kota-kota besar. Di jalan capek, terus sampai rumah juga berita-berita buruk semua. Kita butuh harapan, belajar dari cerita bahwa masalah yang kita hadapi di rumah bersama keluarga dan anak-anak bisa diselesaikan dengan cara yang baik dan bisa menginspirasi masyarakat lebih baik,” kata Gina.

“Kalau ditanya daruratnya, mengalami tahun yang deg-degan yang luar biasa di 2019 kita justru makin butuh banyak cerita-cerita bagus untuk keluarga,” lanjutnya.

Selain Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi, memang ada beberapa judul film anak Indonesia lain yang sempat populer. Namun, tema yang mereka angkat masih terlalu berat dan cukup menguras tenaga pikiran anak-anak dengan konflik dewasa yang ditawarkan. Contohnya film Denias, Senandung di Atas Awan (2006). Diangkat dari kisah nyata, anak muda pedalaman Papua bernama Denias diceritakan riwayat hidupnya hingga bisa sukses keluar dari lingkaran kehidupan primitif, ingin belajar dan keluar dari tanah Papua untuk menjadi pribadi yang lebih baik sekaligus mengharumkan nama Papua. Kendati diperankan oleh anak-anak, konfliknya berat untuk diterima anak-anak, sementara mereka membutuhkan tayangan yang menghibur sekaligus perlahan memberikan edukasi.

Contoh lain yakni film (The Mirror Never Lies) Laut Bercermin (2011) yang juga mendapuk anak-anak sebagai aktor utamanya. Bukan berarti tayangan ini harus ditonton untuk anak-anak, melainkan sang sutradara mengangkat konflik situasi dan keluarga bukan untuk menghibur tetapi mengajak untuk berpikir tentang konfik cerita yang diangkat. Bagaimana sang anak menghadapi situasi konflik yang cukup berat untuk diterima di usia mereka.

Ada juga film Garuda di Dadaku (2009) yang mengangkat tema semangat seorang anak yang memperjuangkan cita-citanya menjadi pesepak bola membela negara. Namun, tampaknya gaung film tersebut masih kalah populer dengan film Petualangan Sherina yang sudah melegenda.

Selain Mira Lesmana dan Riri Riza, pasangan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen juga dikenal aktif merilis film yang menggandeng anak sebagai aktor. Tema umum yang diangkat adalah kisah anak daerah yang memiliki cita-cita besar dan tentang anak-anak yang memiliki tekad untuk berjuang. Seperti film King (2009), Serdadu Kumbang (2011) dan Di Timur Matahari (2012). Di samping mengangkat tema tentang semangat anak-anak, terselip bumbu-bumbu edukasi terkait budaya timur yang kerap diangkat dalam film besutan Ari dan Nia. Dialek dan logat dalam menggunakan bahasa daerah begitu kental dalam film-film besutan mereka.

Anak-anak di Industri Film

Saat anak-anak terlibat dalam proyek film, artinya sebagian besar waktu mereka diambil untuk ‘bekerja’. Di samping aktivitas sekolah, aktivitas di industri film menguras tenaga dua kali lipat untuk belajar dan bekerja. Bisa dikatakan hampir tidak ada waktu efektif untuk bermain.

Membandingkan dengan tayangan program televisi khusus anak di Australia era 90-an berjudul Hi-5, mereka lebih memilih menggunakan orang dewasa untuk berada di layar kaca.

Situasi gamang ini pernah melanda Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf) Triawan Munaf dan putrinya, Sherina. Sesaat setelah syuting film Petualangan Sherina, Triawan sempat membatasi jadwal syuting sang anak karena menurutnya, anak-anak belum saatnya berkomitmen untuk bekerja. Saat itu, Sherina masih berusia 10 tahun. Oleh sebab itu, Triawan justru lebih tenang ketika Sherina kembali mendapat tawaran bermain dalam film Wiro Sableng (2018) di usia yang kini sudah matang.

“Saya enggak pernah maksa, justru dulu saya membatasi kegiatan dia karena di umur yang masih kecil itu enggak baik seorang anak kecil punya komitmen kerja yang bisa mengganggu childhood-nya. Banyak sekali yang minta waktu itu, saya tolak. Saya tolak dulu, saya konsentrasikan sekolah, tapi sekarang dia (Sherina) sudah dewasa. Mau apa ya silakan, sudah di luar tanggung jawab saya,” kata Triawan saat ditemui Medcom.id pada Februari 2018 saat ditanya pendapatnya soal Sherina yang kembali aktif bermain dalam film.

Setelah film Petualangan Sherina, Sherina yang juga ikut mengisi soundtrack film mendapatkan banyak tawaran bernyanyi. Namun, oleh Triawan tawaran itu juga ditolak sebab Sherina yang saat itu masih berusia 10 tahun masih berada di bawah tanggung jawab orangtua. Sherina kembali aktif bermusik lewat album Primadona (2007) saat ia berusia 17 tahun.

Lain halnya dengan pendapat Triawan soal keterlibatan anak dalam industri film dan musik, Mira Lesmana justru melihat peluang bagi anak-anak berbakat untuk mengembangkan talentanya sejak dini.

“Justru, kebanyakan sekolah sekarang sudah tidak ada ranking, dan melihat anak ini di mana bakatnya. Jadi, sayang sekali kalau mereka punya bakat akting dan menyanyi, lalu sekolahnya tidak mendukung. Tidak boleh main film, misalnya. Justru menurut saya, kita harus memberikan ruang untuk anak-anak bisa berekspresi. Mau menari, bernyanyi, akting, itu harus ada. Enggak kayak dulu lagi yang semuanya harus jago Matematika. Karena ada anak-anak yang tidak jago Matematika tapi sangat pandai bernyanyi atau pandai berakting. Jadi, justru harus dibuka ruang sebesar-besarnya,” ujar Mira.

“Tetapi dengan catatan, ketika kita berproduksi film untuk anak-anak. Kita harus memberikan ruang yang cukup, izin dari sekolah, pekerjaan rumah yang bisa dibawa, dan bahkan memutarnya pada saat liburan,” kata Mira.

Dengan catatan, ada peraturan khusus yang diberikan untuk para pemain anak. Seperti izin dari pihak sekolah dan orangtua.

“Harus. Harus ada pendampingan dari orangtua, mendukung, harus ACC (setuju). Jadi, misalnya kayak Mimi (Maisha Kanna) sama Lili (Lil’li Latisha). Mimi kebetulan sekolahnya sangat mendukung. Kalau Lili kebetulan memiliih home schooling karena dia tahu bakat dia ada di dancing dan akting,” kata Mira.

Hal yang sama juga dituturkan oleh Riri Riza. Anak terlibat dalam industri film maupun seni pertunjukan memiliki peluang belajar lebih banyak. Dari sini bibit-bibit pekerja di industri film turut berkembang dan mempengaruhi kualitas film Indonesia.

“Ketika kita melakukan produksi film bersama anak-anak, produser film harus punya penghormatan terhadap kelompok usia ini. Misalnya kita harus mengatur jam kerja, menciptakan lingkungan yang kondusif buat anak-anak. Memperhatikan hal-hal yang peka untuk anak, bahwa mereka masih harus ada kesempatan belajar. Nah, selama semua itu diperhatikan enggak ada masalah sama sekali. Justru bagus karena banyak anak-anak zaman sekarang yang punya cita-cita sangat tinggi untuk masuk ke dunia seni, dunia akting. Bukan mau menjadi selebriti tetapi memang mau belajar, mau menghidupi dirinya di dalam seni film atau seni pertunjukan,” kata Riri.

“Kalau sudah begitu, berarti kita butuh film. Kita butuh menghidupkan dunia film, memberikan kesempatan mereka untuk tampil lebih awal. Semua pemain-pemain besar kayak Leonardo DiCaprio misalnya, bahkan Sherina, mereka mulai saat muda sehingga mereka punya kesempatan untuk menempa diri,” kata Riri.

“Atau minatnya, kalau anak-anak punya minat terhadap akting gimana, masa enggak boleh? Kalau anak-anak punya minat terhadap seni pertunjukan gimana? Harusnya diberi kesempatan,” lanjutnya.

Gina S. Noer yang kini juga disibukkan dengan proyek film Keluarga Cemara juga berpendapat sama. Anak-anak butuh ruang untuk melihat diri mereka sendiri.

“Anak-anak butuh melihat diri mereka ada di layar, ada dalam cerita. Untuk itu dibutuhkan pemeran anak, enggak cuma buat penontonnya tapi juga industri regenerasi. Kayak kalau berbicara tentang sepak terjang Miles Films, mereka adalah orang-orang yang menghasilkan film anak, seperti Petualangan Sherina yang menggandeng banyak pemain di situ. Saya adalah penonton Petulangan Sherina, mau bikin film setelah nonton Sherina dan AADC (Ada Apa Dengan Cinta), kemudian menghasilkan filmmaker-filmmaker baru dan musikal anak. Misalnya Laskar Pelangi,” ujar Gina.

“Orang suka lupa kalau Iqbaal yang filmnya nomor satu itu datangnya dari hasil karya Riri Riza dan Mira Lesmana juga di musikal Laskar Pelangi. Begitu juga dengan Coboy Junior yang lain,” kata Gina.

“Yang dibutuhkan adalah sistem terutama dari pihak-pihak yang punya kepentingan menjaga anak dan pihak-pihak yang berkepentingan di industri film untuk membuat lingkungan kerja yang nyaman buat anak-anak. Seperti pengalaman saya sebagai produser di Keluarga Cemara juga ya treatment-nya bukan sekadar buat anak-anak. Dan anak-anak ketika mereka syuting, tapi bagaimana mereka makan, bagaimana mereka diperlakukan. Harus dihormati juga selayaknya orang dewasa dihormati. Kemudian bagaimana kru bersikap kepada mereka. Kita harus membuat lingkungan kerja yang nyaman, itu yang paling penting. Justru ketika industrinya maju kita harus berani menghadapi masalah-masalah yang mungkin ada dengan membuat sistem yang lebih baik,” tutur Gina.

Film Kulari ke Pantai menjadi film anak pertama di tahun 2018 setelah sekian lama tak ada film khusus anak yang menghibur sekaligus memberikan edukasi. Dalam mengerjakan film ini, Mira Lesmana harus menunda proyek film Chairil Anwar melihat kondisi darurat film anak di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Dirilisnya Kulari ke Pantai juga ikut menghidupkan lagu-lagu anak yang menggandeng RAN beserta pemain film untuk album soundtrack Kulari ke Pantai.



 



(DEV)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id