Lima Film Indonesia tentang Pekerja
Alangkah Lucunya Negeri Ini (citra sinema - via blog antzmovie)
Jakarta: Dunia internasional memperingati May Day atau Hari Buruh atau Hari Pekerja setiap tanggal 1 Mei dan sejak 2014, pemerintah Indonesia menjadikan peringatan ini sebagai hari libur nasional. Momentum yang sebelumnya hanya dirayakan kalangan kelas pekerja tertentu di Indonesia sebagai sebuah gerakan, kini dinikmati juga oleh lebih banyak kelas pekerja.

Pada edisi hari buruh ini, kami memberi rekomendasi lima film domestik yang berkisah tentang pekerja atau soal jalan berliku menjadi tenaga kerja. Kisah tentang pekerja rupanya juga menjadi inspirasi yang ditangkap para sineas untuk diceritakan lebih lanjut dalam medium cerita audio visual.

Berikut daftar judul dan rangkuman kisahnya.


1. Hongkong Kasarung (Eric Satyo, 2018)
Baru dirilis Maret lalu, film fiksi ini digarap oleh penulis-sutradara-produser Eric Satyo berdasarkan cerita yang dikembangkan Eric bersama Sule. Kisahnya tentang Sule (Sule), pemuda kampung Sunda yang patah hati karena perempuan lalu tergiur iming kekayaan dengan cara menjadi tenaga kerja migran. Dia dibantu oleh pamannya (Sas Wijanarko), agen tenaga kerja yang ternyata seorang penipu.

Alhasil, Sule yang ingin ke Malaysia justru ditelantarkan ke Hong Kong. Nasib buruk mengantarkan dia bertemu Aline (Pamela Bowie), gadis putri pengusaha Indonesia yang bermasalah dengan bos preman lokal (Iwa K).




2. My Stupid Boss (Upi, 2016)
Film nomine naskah terbaik Piala Citra ini merupakan adaptasi atas kumpulan cerita karya penulis bernama alias Chaos@work. Film berkisah tentang hubungan kerja Dian (Bunga Citra Lestari), seorang pegawai di kantor perusahaan Kuala Lumpur, dengan bosnya Bossman (Reza Rahadian) yang sangat "ajaib" karena nyaris selalu punya keinginan tak lazim dan mustahil.

Perusahaan ini tidak memiliki sistem dan aturan yang jelas karena ulah Bossman si biang kerok. Prinsipnya, "impossible we do, miracle we try". Kesabaran Dian diuji dalam menghadapi situasi kacau ini.




3. Minggu Pagi di Victoria Park (Lola Amaria, 2010)
Nomine film terbaik Piala Citra ini digarap oleh sutradara Lola Amaria yang sekaligus menjadi aktor utama bersama Titi Rajo Bintang. Kisahnya mengikuti Mayang (Lola), yang dipaksa ayahnya ke Hong Kong untuk menjadi tenaga kerja wanita dan mencari adiknya, Sekar (Titi). Sekar merantau sebagai buruh migran tapi telah lama tak berkabar kepada keluarga di Jawa.

Atas bantuan beberapa teman dan kenalan, Mayang menemukan bahwa Sekar bersembunyi dari kawan-kawan buruh migran karena terjerat hutang dan tidak mampu bayar. Sekar "malu" ditolong. Perjalanan kisah Mayang dan Sekar diwarnai penggambaran kehidupan para tenaga kerja wanita Indonesia di Hong Kong yang diliputi beragam masalah personal.




4. Alangkah Lucunya Negeri Ini (Deddy Mizwar, 2010)
Film garapan sutradara Deddy Mizwar dan penulis Musfar Yasin ini juga menjadi nomine film terbaik Piala Citra bersama dengan Minggu Pagi di Victoria Park. Film berkisah tentang Muluk (Reza Rahadian), lulusan S1 manajemen yang tidak kunjung mendapat pekerjaan setelah dua tahun berjuang. Suatu ketika, Muluk bertemu Komet (Angga Putra), copet dari kelompok anak-anak copet pimpinan Jarot (Tio Pakusadewo).

Muluk menawarkan kerja sama kepada Jarot dengan imbalan 10% dari keseluruhan hasil copet. Dia akan mengelola hasil copet dan menjadi guru khusus bagi anak-anak anggota kelompok copet. Muluk mengajak kawannya Samsul (Asrul Dahlan) serta calon pasangannya Pipit (Tika Bravani). Keduanya juga sarjana yang belum punya pekerjaan tetap. Kepada orang tua masing-masing yang bangga, Muluk dan Pipit mengaku sudah mendapat pekerjaan formal.




5. Janji Joni (Joko Anwar, 2005)
Film produksi Kalyana Shira ini berkisah tentang Joni (Nicholas Saputra), pengantar rol film antar bioskop di Jakarta yang tak pernah terlambat. Suatu hari saat sedang menunggu rol film untuk diantarkan, Joni bertemu seorang penonton (Mariana Renata) yang hendak menonton film bersama pacar (Surya Saputra). Terpesona, Joni mengajak perempuan ini berkenalan, tetapi sang perempuan hanya mau menyebut nama setelah Joni berhasil mengantarkan rol film tepat waktu.

Tantangan diterima. Namun ternyata Joni harus menghadapi serangkaian kebetulan yang menghambat perjalanan, mulai dari sepeda motor dicuri, membantu pasangan melahirkan, terjebak sebagai figuran dalam syuting film, ditipu oleh dua perampok, hingga dikejar-kejar warga kampung. Kisah perjalanan Joni diwarnai dengan penggambaran tentang peran sejumlah pekerja bioskop di balik kenyamanan menonton film layar lebar.



 



(ELG)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360