Jason Ranti dalam video musik Suci Maksimal (Foto: Sinema Pinggiran)
Jason Ranti dalam video musik Suci Maksimal (Foto: Sinema Pinggiran)

Apa Saja yang Diangkat dalam Film Sesudah Pergaulan Blues?

Hiburan film dokumenter jason ranti
Purba Wirastama • 20 Mei 2019 12:33
Jakarta: Sesudah Pergaulan Blues, film dokumenter tentang musisi solo Jason Ranti, terus digarap oleh Allan Soebakir kendati sudah ditayangkan di beberapa kota hingga kemarin Minggu. Proses panjang test screening membuat film yang semula berdurasi 20 menit, kini hendak dijadikan 90 menit.
 
Versi terkini, yang ditayangkan pada Minggu, 19 Mei 2019 di 10 kota, termasuk di Kios Ojo Keos Jakarta, berdurasi 70 menit. Ini adalah versi ketiga, yang berkembang dari versi kedua berdurasi 40 menit. Itu pun belum termasuk unsur audio yang sekarang masih dalam tahap mixing di studio Potlot.
 
Allan masih berencana menyusun ulang rangkaian segmen cerita tersebut. Rencana akhirnya, film akan berdurasi 90 menit.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saat bikin film tentang Jeje (nama panggilan Jason Ranti), gue enggak mau egois dari otak gue sendiri," kata Allan kepada Medcom.id usai pemutaran di Kios Ojo Keos. "Gue bawa ke orang-orang yang juga dekat dengan Jeje. Jadi, 60% dari gue dan 40% dari teman-teman yang juga mengenal Jason."
 
Dia akan mengerem pengembangan hingga jelang batas akhir pengiriman film ke Festival Film Dokumenter (FFD) dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Allan hendak memperbaiki susunan segmen hingga membentuk narasi yang dia inginkan.
 
"Benang merahnya satu, gue hanya ingin mendekatkan Jason Ranti pada penonton," ujar Allan.
 
Menurut Allan, Jeje punya sisi lain dari sosoknya yang slebor dan spontan di atas panggung musik. Misalnya, seperti apa momen kebersamaan dia dengan istri dan anak atau momen sedih dan tegang ketika sendirian di tangga menuju panggung.
 
Setelah menonton versi ketiga 70 menit bersama para Woyoo (sebutan untuk basis penggemar Jeje), Allan menemukan poin narasi yang hendak dia perbaiki. Dia merasa Jeje masih tampak "terlalu heroik". Untuk versi selanjutnya, dia akan mengurangi segmen Jeje di atas panggung dan menambahkan momen kehidupan Jeje sebagai manusia biasa.
 
"Bahwa dia juga seorang manusia yang bisa sedih, dia seorang yang punya keluarga," tutur Allan. "Hari ini, gue dapat (masukan) lagi, kayaknya hari ini Jeje masih terlalu heroik. Gue harus masukkan sisi sedih dia lagi."
 
Pada dasarnya, ada tiga hal yang ingin ditunjukkan Allan lewat Sesudah Pergaulan Blues. Selain sosok Jeje di atas panggung dan keseharian dia di luar panggung, dia juga ingin menunjukkan proses pengerjaan album kedua yang akan dirilis dalam waktu dekat. Album debut Jeje berjudul Akibat Pergaulan Blues.
 
"Gue akan mengurangi (segmen) panggung dan banyak momen dia di luar. Gue ingin benar-benar (fokus) ke proses album kedua, tetapi ada juga sisi dia menjadi manusia biasa," kata Allan.
 
Materi footage ini dikumpulkan Allan dan timnya selama tujuh bulan mengikuti Jeje dari panggung ke panggung musik. Allan menyebut berkas footage terkumpul hingga 1 Terabyte. Selama dua bulan terakhir, dia berkutat mempelajari dan menyusun materi tersebut menjadi film.
 
Bagi Allan, Jeje adalah sosok musisi yang unik. Perkataan Jeje di panggung misalnya, cukup direkam dan sudah bisa menjadi satu materi cerita menarik. "Gue enggak bisa mendeskripsikan dia dengan kata-kata," ujarnya.
 
Dia memberi satu contoh ketika Jeje mendamaikan penonton yang berkelahi dengan cara mengajak mereka untuk bernyanyi sholawat. "Gue enggak tahu cara berpikir dia dari mana," ungkap Allan.
 
"Kami sering bilang dia nabi urban," tukas Allan berkelakar. "Julukan buat dia itu nabi urban, tetapi ternyata bukan nabi ha-ha."
 

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif