"The Purge: Anarchy" merupakan sekuel dari "The Purge" yang sempat menjadi perbincangan karena ide cerita yang segar pada 2013.
Kisah dalam dua seri "The Purge" ditulis dan disutradarai oleh James DeMonaco. Konsepnya jelas, apa yang terjadi kala pemerintah melegalkan pembunuhan untuk meluapkan pelampiasan masyarakatnya?
Dikisahkan, setiap tahunnya pemerintah Amerika Serikat memberikan waktu selama 12 jam pada 21 Maret, bagi warganya yang ingin meluapkan dendam, kekesalan, atau apapun itu dengan cara membunuh. Momen ini disebut "Hari Pelampiasan."
Pada hari itu, segala pembunuhan dan aksi kriminal lainnya legal dalam kurun waktu 12 jam. Tidak ada layanan medis dan polisi yang beroperasi selama "Hari Pelampiasan."
Namun, apakah "Hari Pelampiasan" yang menjadi simbol pembebasan warga Amerika Serikat dari belenggu dendam dan ideologi mampu menumbuhkan kebebasan yang sebenarnya? Kebebasan yang selalu menjadi kebanggaan warga Amerika Serikat.
Secara moral terselip pesan dalam "The Purge: Anarchy," bahwa pelampiasan justru semakin membuat Amerika larut dalam pesta anarki yang seolah menjadi gaya hidup baru. Bukan lagi membebaskan. Selain itu, "Hari Pelampiasan" dinilai sebagai akal-akalan pemerintah untuk semakin menyuburkan kaum-kaum kapitalis di negeri itu dan menjual lebih banyak senjata.
Sepanjang film, Anda akan disuguhi pesona Frank Grillo yang berperan sebagai Sersan Leo Barnes, sosok pahlawan dalam "The Purge: Anarchy." Kepahlawanan Barnes justru membuat film thriller ini terasa kurang greget. Seolah ingin memenuhi ekspektasi penonton, sosok Barnes dipoles habis-habisan menjadi tokoh yang patriotik. "Semua masalah akan selesai jika ada Barnes." Demikian kira-kira kalimat yang tepat menggambarkan sosoknya.
Mengusung isu sosial yang kental, "The Purge: Anarchy" tetap mengajak penonton mengambil sudut pandang aman dengan menokohkan lima sosok moralis (termasuk Barnes) sebagai tokoh utama.
"Hari Pelampiasan" bukan lagi sebagai bentuk pembebasan. Ditandai dengan minimnya partisipasi warga dalam "Hari Pelampiasan". Setelah "Hari Pelampiasan" tak lagi mampu memuaskan keinginan untuk bebas, pemerintah mengambil alih dengan melampiaskan nafsu kekuasaan. Membunuh masyarakat miskin yang kerap dianggap sebagai persoalan pemerintah. Termasuk menyingkirkan ras tertentu yang mulai mendominasi.
Lima tokoh moralis yang diperankan oleh Frank Frillo, Carmen Ejogo, Zach Gilford, Kiele Sanchez, dan Zoe Soul semakin membuka pandangan penonton bahwa sebenarnya di balik kebebasan ada hal yang jauh lebih penting, yaitu kemanusiaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News