Judul baru ini dipilih untuk menggambarkan dinamika masyarakat modern yang seringkali terjepit di antara tradisi mistis dan tuntutan ekonomi. Dalam film ini, setan bukan lagi sekadar sosok peneror, melainkan bagian dari ambisi manusia yang ingin cepat kaya.
"Melalui karakter-karakternya yang relatable penonton diajak melihat bahwa terkadang, isi dompet yang kosong jauh lebih horor daripada penampakan di pohon beringin," kata Sahrul Gibran yang bersama Jay Sukmo menjadi sutradara film ini.
Film Setannya Cuan dibintangi Nadine Alexandra, Joe P Project, Fico Fachriza, Dimas Andrean, Anyun Cadel, Candil, Ben Kasyafani, Mega Carefansa, Gabriella Desta, Mongol Stres, Aming, Budi Dalton. Film ini juga menjadi wujud kenangan mendalam bagi pembuatan film dan para pemain untuk komika almarhum Babe Cabita.
Baca Juga :
Angga Yunanda dan Dodit Mulyanto Ternyata Kembar
"Film ini bakal jadi semacam tribute ya, bakal mengobati kerinduan penggemar atau keluarga atau kerabat, rekan kerja, seorang Babe Cabita ya. Saya tuh optimis filmnya laku ya, karena kan sekarang melihat trennya komedi ya," kata Aming.
Film Setannya Cuan mengisahkan persaingan konyol dua jawara kampung yang terobsesi mencari angka hoki demi mengubah nasib. Namun, saat batas antara dunia gaib dan dunia nyata mulai kabur dan demi mengejar harta, bahwa bekerja sama dengan setan ternyata punya sistem bagi hasil yang rumit.
Film Setannya Cuan dijadwalkan tayang pada 5 Maret 2026 di seluruh jaringan bioskop Indonesia. Tayang saat bulan puasa, film ini ingin menghibur dan mengajak tertawa berjamaah di dalam bioskop.
"Kami ingin mengembalikan sensasi menonton film horor yang 'guyub'. Di mana penonton bisa berteriak kaget, tapi sedetik kemudian tertawa terpingkal-pingkal bersama orang di sebelah mereka," ujar Avesina Soebli yang bersama Aris Muda menjadi Produser Film Setannya Cuan.
Mengambil inspirasi dari fenomena klenik nomor keberuntungan (salawe/ dua puluh lima), film ini coba memotret realita sosial dengan kacamata yang lebih jenaka. Ide cerita film ini lahir dari pengamatan langsung terhadap fenomena nyata di tengah masyarakat di mana seringkali kesulitan ekonomi mendorong orang mencari jalan pintas yang tidak masuk akal.
"Ini adalah surat cinta kami untuk penonton yang kangen hiburan yang jujur, dekat dengan keseharian, dan tentu saja, sangat Indonesia," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News