Senyum Jordan dan Lindo yang berada di atas panggung langsung menghilang ketika mendengar kata tersebut. Mereka tampak terkejut sehingga terjadi jeda singkat saat membaca naskah pengumuman. Namun, para aktor bersikap profesional dan tetap melanjutkan jalannya acara.
Setelah ditelusuri, latah tersebut berasal dari seorang aktivis sindrom tourette, John Davidson. Sindrom tersebut merupakan gangguan saraf yang membuat penderitanya tidak bisa mengontrol gerakan motorik maupun vokalnya.
Baca Juga :
Isyana Sarasvati Bantah Terima Beasiswa LPDP
BAFTA pun mengeluarkan surat terbuka lewat akun Instagram resmi @bafta pada Rabu (25/2). Mereka meminta maaf atas penggunaan “bahasa yang kasar dan menyinggung” dan sadar terhadap akar historis yang menjadikan kata tersebut sangat traumatis.
“Para tamu kami mendengarkan bahasa yang sangat menghina yang menimbulkan trauma dan penderitaan yang tak terbandingkan bagi begitu banyak orang. Kami ingin mengakui kerusakan yang ditimbulkan, menangani apa yang terjadi, dan meminta maaf kepada semua orang,” tulis pernyataan BAFTA.
Davidson sendiri merupakan inspirasi di balik film I Swear yang menerima lima nominasi BAFTA 2026, termasuk Outstanding British Film dan Best Actor in a Leading Role. Film ini mengikuti perjalanan John Davidson (Robert Aramayo) yang tumbuh dengan sindrom tourette akut.
Kondisi ini ditandai dengan gerakan atau suara yang tiba-tiba, tidak disengaja, dan berulang, yang disebut tik. Gejala ini dapat muncul dalam bentuk umpatan keras atau ledakan emosi lainnya. Para peserta BAFTA pun telah diperingatkan sebelum acara pada Minggu malam.
“Kami sangat serius dalam menjalankan kewajiban untuk memperhatikan semua tamu kami dan memulai dengan prinsip inklusivitas,” akui BAFTA.
Sambungnya, “Kami telah mengambil langkah-langkah untuk memberitahu para hadirin tentang kondisi John, dengan mengumumkan kepada audiens sebelum upacara dimulai dan sepanjang acara bahwa John berada di ruangan tersebut, dan bahwa mereka mungkin mendengar kata-kata kasar, suara atau gerakan yang tidak disengaja selama upacara.”
Pria Skotlandia itu meninggalkan ruangan sekitar 25 menit setelah acara dimulai usai beberapa kali melontarkan kata-kata kasar, termasuk hinaan dan "Diamlah, sialan!" ketika Ketua BAFTA Sara Putt menyampaikan sambutan pembukaannya.
“Kami sepenuhnya bertanggung jawab atas situasi sulit yang dialami para tamu kami dan kami mohon maaf kepada semua pihak. Kami akan belajar dari pengalaman ini dan tetap menjadikan inklusi sebagai inti dari segala yang kami lakukan, sambil mempertahankan keyakinan kami bahwa film dan narasi merupakan saluran penting untuk menumbuhkan kasih sayang dan empati,” tutup pernyataan tersebut.
Menyusul gelombang reaksi negatif netizen terhadap pernyataan-pernyataan Davidson dan sorotan media yang negatif seputar kondisi neurologisnya, organisasi amal Inggris Tourette’s Action mengeluarkan pernyataan di Instagram mereka @tourettesaction untuk membela aktivis tersebut.
Mereka menegaskan bahwa perilakunya “bukan cerminan keyakinan, niat, atau karakter seseorang.” Tourette’s Action juga menyayangkan reaksi negatif dari beberapa media yang tak mengindahkan kontribusi Davidson terhadap peningkatan kesadaran serta pemahaman sindrom ini.
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News