Dalam drama Musikal yang merupakan salah satu rangkaian perayaan ulang tahun pertama Galeri Indonesia Kaya ini, Elly Kasim membuat konsep yang berbeda dengan pementasan sebelumnya.
“Drama Musikal Malin Kundang ini telah kita bawa ke berbagai negara sejak 2001 sampai 2009 dan menuai antusias. Ini membuktikan bahwa budaya Indonesia ini sendiri sangat kaya dan seharusnya para generasi muda bisa bangga dan ikut melestarikan budaya leluhur dan jangan terpaku pada budaya luar,” ujar Elly Kasim saat ditemui di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, Jumat (3/10/2014).
Drama Musikal Malin Kundang membawakan kembali legenda rakyat Minang tentang Malin Kundang yang berkelana untuk mencari kesejahteraan hidup. Kesuksesan membuatnya menjadi lupa diri, lupa keluarga dan ibu yang membesarkannya. Sakit hati ibunya yang tidak diakui oleh Malin Kundang membuatnya mengucap kutuk dan doa sakit hati pada Tuhan, sehingga akhirnya Malin Kundang berubah menjadi batu.
Pementasan yang berdurasi sekitar 1,5 jam ini diwarnai beragam tarian yang dikreasikan oleh Tom Ibnur yang juga telah menghasilkan ratusan karya yang dipentaskan baik di dalam negeri maupun mancanegara. Seniman legendaris Indonesia, Titiek Puspa juga mengambil peran sebagai ibu Malin yang tidak diakui oleh anaknya sendiri.
“Cerita rakyat Indonesia dikenal memiliki banyak pesan moral, seperti yang ada dalam kisah Malin Kundang. Dari cerita rakyat ini kita bisa memetik pesan bahwa keberhasilan seorang anak itu salah satunya adalah doa orang tua, untuk itu jangan melupakan peran orang tua. Anak adalah anugerah bagi orang tua, demikian pula sebaliknya,” ujar Titiek Puspa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News