Ho Yuhang mengaku tidak menemukan kesulitan berarti dalam memahami konteks cerita yang diangkat.
“Jadi, kalau mengikut konteks ini, tidak susah,” ungkap Ho Yuhang di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Kamis, 9 April 2026.
Menurutnya, kedekatan kondisi antar-negara serumpun ini menjadi faktor utama kelancaran proses pendalaman perannya.
“Karena situasi di Indonesia tidak beda daripada Malaysia,” ucap Ho Yuhang.
Angkat Isu Sosial dan Politik yang Relevan
Film Ghost in the Cell tidak hanya menawarkan kengerian horor dari sosok tak kasat mata. Karya terbaru ini juga menghadirkan satir tajam mengenai situasi politik dan sosial di Indonesia, termasuk isu korupsi hingga deforestasi.Film Ghost in the Cell dijadwalkan tayang di bioskop mulai 16 April 2026.
Sementara itu, Ho Yuhang pun menyatakan bahwa skenario film ini sangat mudah ia cerna. Kejelasan naskah yang disusun tim produksi membuatnya mampu menyelesaikan proses pembacaan dalam waktu singkat.
“Tidak susah mau paham skrip itu. Skrip ini saya, bila Bang Joko bagi saya, saya baca dalam dua jam, habis,” ujarnya.
Bagi Ho Yuhang, seluruh elemen dalam film ini terasa sangat dekat dengan realitas yang ia ketahui.
“Itu konteks semua saya boleh relate, senang saja,” tutur Ho Yuhang.
Alasan Joko Anwar Gandeng Ho Yuhang
Sutradara Joko Anwar turut menjelaskan alasannya mengajak Ho Yuhang untuk terlibat dalam proyek Ghost in the Cell. Selain hubungan pertemanan, Joko sangat mengagumi dedikasi dan kualitas karya Ho Yuhang di industri film internasional.“Ho Yuhang ini adalah sahabat saya dan dia adalah one of the best sutradara di Asia dari Malaysia. Aku nge-fans sama film-filmnya dan aku ajak untuk berkolaborasi di film ini karena memang pengen kerja sama sama Ho Yuhang, gitu,” jelas Joko Anwar.
Sebagai informasi, Ho Yuhang merupakan sineas ternama asal Malaysia yang dikenal melalui berbagai karya-karyanya, seperti Sanctuary (2004), Tai yang yue (2006), dan Mrs. K (2016).
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News