Trailer Odysseus: The Fall (Foto: YouTube/FOUNTAIN 0 studios)
Trailer Odysseus: The Fall (Foto: YouTube/FOUNTAIN 0 studios)

Baru Dirilis, The Odyssey Sudah Punya Versi Film AI

Elang Riki Yanuar • 16 Juli 2026 09:30
Ringkasnya gini..
  • Odysseus: The Fall menjadi adaptasi kisah epik Homer berdurasi 135 menit yang dibuat sepenuhnya menggunakan teknologi kecerdasan buatan.
  • Film AI Odysseus: The Fall menggunakan kemiripan wajah 12 orang yang berhak mendapat bagian keuntungan dari proyek tersebut.
  • Pembuat Odysseus: The Fall menegaskan film AI mereka tak ingin menandingi The Odyssey karya Christopher Nolan, melainkan menunjukkan perkembangan teknologi.
Jakarta: Film terbaru garapan Christopher Nolan, The Odyssey, baru saja tayang di bioskop. Namun, kisah epik Yunani karya Homer itu sudah lebih dulu mendapat adaptasi lain dalam bentuk film yang sepenuhnya dibuat dengan kecerdasan buatan (AI).
 
Film berjudul Odysseus: The Fall diproduksi oleh studio film AI Fountain 0 bersama sineas Ash Koosha. Proyek berdurasi 135 menit atau 2 jam 15 menit tersebut dijadwalkan tersedia melalui situs resmi Fountain 0 pada akhir musim panas tahun ini.
 
Mereka sebelumnya dikenal lewat film Dreams of Violets, dokumenter-drama berbasis AI yang dirilis bulan lalu. 

Koosha mengaku telah mengagumi kisah Odysseus sejak kecil. Ketertarikannya terhadap tokoh tersebut, ditambah berbagai interpretasi yang pernah ia baca selama bertahun-tahun, mendorongnya menghadirkan versinya sendiri. 
 
Ia merasa inilah waktu yang tepat untuk mewujudkan proyek tersebut, terutama ketika diskusi tentang AI dalam industri kreatif sedang ramai diperbincangkan.
 
Berbeda dengan proses produksi film konvensional, Odysseus: The Fall dibuat menggunakan generator video AI Kling. Naskahnya pun tidak disusun secara kaku, melainkan hanya berupa kumpulan catatan yang terus dikembangkan selama proses produksi. 
 
Menurut Koosha, pendekatan itu memberinya kebebasan untuk terus menyempurnakan film hingga mendekati visi yang diinginkannya.  

Produksi AI dengan Wajah Manusia

Film ini menggunakan kemiripan wajah dari 12 orang sebagai dasar karakter yang dihasilkan AI, termasuk wajah Koosha sendiri yang menjadi model untuk karakter Odysseus. 
 
Para partisipan berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari aktris profesional, model, hingga orang-orang yang tidak berkecimpung di industri hiburan.
 
Lisensi penggunaan wajah mereka hanya berlaku untuk proyek Odysseus: The Fall. Namun, mereka juga dapat memilih agar data visualnya masuk ke katalog yang nantinya bisa digunakan sutradara lain untuk proyek AI berikutnya. 
 
Sebagai imbalan, para pemilik wajah akan menerima bagian dari keuntungan film.
 
Ketua Eksekutif Fountain 0 Tom Rogers menilai bahwa teknologi AI memungkinkan proses produksi film berlangsung jauh lebih cepat. 
 
Baginya, teknologi tersebut memberi ruang bagi kreator untuk segera menuangkan ide dan sudut pandang mereka tanpa harus melewati proses produksi yang panjang.  

Tak Ingin Tandingi Karya Christopher Nolan

Meski demikian, Rogers mengakui film AI tersebut bukanlah tandingan langsung bagi karya Christopher Nolan. Ia bahkan yakin publik tetap akan menganggap The Odyssey versi Nolan sebagai pencapaian tertinggi dalam perfilman saat ini.
 
Alih-alih bersaing, Rogers berharap Odysseus: The Fall dapat menjadi tolok ukur perkembangan teknologi AI di industri film. Ia optimis bahwa kehadiran film tersebut justru bisa mendorong lebih banyak orang menonton The Odyssey versi Nolan untuk melihat perbedaan antara sinema konvensional dan film yang dihasilkan AI.
 
Di sisi lain, Koosha menilai AI seharusnya tidak diposisikan sebagai lawan dari perfilman tradisional. Baginya, AI hanyalah alat baru dalam proses berkarya. 
 
Ia percaya kalau seiring waktu perhatian publik tidak lagi akan berpusat pada teknologi yang digunakan, melainkan kembali pada kualitas cerita yang disampaikan.
 

 
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
 

 

 

 

 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA