Gundala. (Foto: Dok. Screenplay Films - Legacy Pictures)
Gundala. (Foto: Dok. Screenplay Films - Legacy Pictures)

Ulasan Film Gundala

Hiburan ulasan film Film Gundala Putra Petir
Cecylia Rura • 29 Agustus 2019 13:52
Jakarta: Sancaka mengawali perjalanan cerita sekumpulan adisatria dalam Bumilangit Cinematic Universe (BCU) atau dalam harfiahnya disebut Jagat Sinema Bumilangit (JSB). Sancaka yang ditakdirkan sebagai Gundala Putra Petir mendapatkan kekuatan dari petir, elemen alam yang datang bersama kilat ketika hujan badai turun, justru paling ditakuti.
 
Membedah cerita yang kini dikembangkan oleh penulis sekaligus sutradara Joko Anwar betul memerlukan kehati-hatian karena pesan dalam film dapat ditafsirkan berbeda dari suasana hati yang berbeda pula.
 
"Kenapa Gundala terasa menggigit? Karena kita membiarkan penonton berimajinasi liar. Kalau penonton (dalam suasana) gelap pastinya gelap, tapi kalau happy pasti ketawa-ketawa," kata Joko Anwar seusai press screening kepada media sehari sebelum Gundala tayang serentak di bioskop.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sancaka terpaksa hidup mandiri setelah ayahnya, seorang buruh pabrik, tewas ditikam dalam pemberontakan memperjuangkan hak moral dan materi layak untuk buruh pabrik. Ibu Sancaka terpaksa bekerja di luar kota untuk membayar uang sewa rumah, tapi tak kunjung pulang.
 
Sancaka memilih hidup di jalanan hingga bertemu Awang, pemuda yang mengajarinya ilmu bela diri sebagai bekal benteng pertahanan kalau-kalau kembali diserang karena "memperjuangkan keadilan yang bukan urusannya".
 
Dalam satu adegan, Sancaka harus memilih apakah dia ingin menjadi seorang insinyur atau kembali hidup sebagai anak jalanan. Momen ini digunakan Joko Anwar mengembangkan cerita, bagaimana jika Sancaka bukan ilmuwan, tapi seorang satpam redaksi kantor berita? Sementara dalam komik, karakter besutan Harya Suraminata itu diceritakan sebagai seorang ilmuwan.
 
Jika Sancaka dalam cerita versi Joko Anwar adalah seorang satpam, kacamata untuk melihat nilai patriotisme berangkat dari rakyat kelas menengah ke bawah. Maka jelas pesan patriotisme ini disampaikan dari rakyat untuk wakil rakyat. Lain cerita jika Sancaka diceritakan sebagai insinyur.
 
Pertarungan antarjagoan tidak lengkap tanpa kehadiran sosok heroine. Ada Sedhah Esti Wulan, patriot perempuan pertama dari JSB yang ditampilkan bersama Sancaka.
 
Selain kehadiran heroine, gerombolan mafia asuhan Pengkor diperkenalkan sebagai bagian besar JSB. Sikap Pengkor adalah wujud nyata tindakan eksekusi liar seseorang dari rasa sakit hati masa lalu, terhadap hidup orang lain. Dari kengerian cerita masa kecil, Pengkor menularkan penyakit dendam kepada anak-anak panti yang haus kasih sayang orangtua. Dia menciptakan definisi lain dari keadilan. Pembingkaian situasi (framing) dalam kehidupan sosial seperti ini adalah bibit perkara musabab mengapa sulit adanya perdamaian di masyarakat kita.
 
Wakil rakyat yang menyuap harapan kepada rakyat adalah potret situasi Indonesia yang digambarkan dalam film Gundala. Eksekusi adegan dari Joko Anwar secara runtut digambarkan mulai tingkat dasar yakni rakyat yang menuntut kesejahteraan, tindakan naif rakyat dari berbagai kelas untuk keuntungan pribadi, hingga dinamika politik antarpolitisi dalam gedung wakil rakyat. Bagaimana fungsi jabatan Dewan Perwakilan Rakyat semestinya berjalan, apakah sudah menemukan sasaran tepat atau terlalu mudah menelan mentah-mentah informasi yang beredar.
 
Menariknya dalam film Gundala di tangan Joko Anwar, bibit perkara dan penyelesaian menyisipkan nilai keluarga. Kisah Gundala berangkat dari rasa kehilangan keluarga hingga menemukan keluarga baru dengan satu ambisi, mencari keadilan dan perdamaian.
 
Untuk segala urusan teknik, Gundala mendekati kata sempurna. Film Gundala menjadi yang pertama ditayangkan dengan tata suara Dolby Atmos. Teknologi ini mampu memecah suara hingga 128 bagian dengan speaker berbeda. Umumnya, bioskop reguler memasang 12 speaker dalam satu studio, sementara Dolby Atmos memasang 64 speaker dengan harapan penonton menikmati detail dan pengalaman mendekati rasa autentik cerita film.
 
Scoring film turut melibatkan pelaku seni kreatif di bidang musik. Seperti dalam wawancara Joko Anwar kepada Medcom.id, sentuhan musik dalam film sangat esensial. Contohnya musik industrial dari Glosalia berjudul Hail Gundala yang terpilih sebagai satu dari sembilan singel dalam album soundtrack Gundala, hasil seleksi 300 submisi melalui tagar #GundalaSongTribute.
 
"Seni yang paling dekat sama manusia adalah musik sama film. Musik terutama. Makanya untuk film aku bisa nonton film paling jelek aku masih bisa enjoy. Tapi musik itu sangat krusial untuk memiliki estetika sebagai filmmaker," terang Joko Anwar kepada Medcom.id saat berkunjung ke kantor pada Juli lalu.
 
Hail Gundala menyuarakan kerasnya kehidupan seorang Sancaka, diwakilkan dentuman ritme seirama detak jantung cepat, semangat menggebu memperjuangkan keadilan.
 
Fakta menarik lain, produksi film Gundala sama sekali tidak menggunakan green screen alias kunci kroma yakni teknik menggabungkan dua objek dalam satu bingkai. Proses syuting dilakukan di 70 lokasi berbeda.
 
Meski dalam adegan-adegan ini terkesan menampilkan kekerasan berlebihan, tata kamera tampak teratur menyeleksi mana adegan yang pantas untuk disorot sehingga film ini dapat lolos sensor dari Lembaga Sensor Film (LSF) dengan batas usia penonton 13 tahun ke atas.
 
Gundala adalah tahap perkenalan latar cerita, tokoh, dan musabab lahirnya patriot dari Jagat Sinema Bumilangit Jilid I. Dalam judul selanjutnya bakal ada Gundala Putra Petir sebagai film Gundala II. Dalam waktu dekat, Sri Asih akan diperkenalkan sebagai patriot kedua.
 
Gundala
 
Kreator karakter Gundala: Harya Suraminata (Hasmi)
Sutradara: Joko Anwar
Penulis: Joko Anwar
Produksi: Bumilangit Studios, Screenplay Films, Legacy Pictures, Ideosource Entertainment
Pemain: Abimana Aryasatya, Muzakki Ramdhan, Rio Dewanto, Marissa Anita, Tara Basro, Bront Palarae, Arswendy, Lukman Sardi, Aqi Singgih, dan Ario Bayu.
Durasi: 123 menit
Klasifikasi LSF: 13+
Rilis di bioskop: 29 Agustus 2019
 

 


 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif