Menariknya, Ronny mengaku keterlibatannya dalam proyek Garuda di Dadaku berawal dari ajakan produser Shanty Harmayn yang membawanya pulang ke Indonesia untuk mengembangkan film animasi berdasarkan intellectual property (IP) populer tersebut.
Tidak main-main, ambisi besar untuk melahirkan film animasi keluarga yang berkualitas ini melibatkan kekuatan penuh dari ekosistem kreatif dalam negeri. Ronny membeberkan bahwa film ini digarap oleh total 550 kru, di mana 500 orang di antaranya merupakan talenta animator lokal yang tersebar dari berbagai rumah produksi di seluruh Indonesia.
Mengomandoi ratusan kepala dengan visi yang berbeda selama tiga tahun tentu bukan perkara mudah bagi animator berusia 43 tahun ini. Saat ditanya mengenai tantangan terbesar di balik layar, Ronny mengungkapkan bahwa menjaga keutuhan cerita agar tetap memiliki ikatan emosional (relatable) dengan penonton adalah ujian terberatnya.
"Memastikan bahwa ceritanya itu bisa diterima sih. Jadi kita dalam sepanjang tiga tahun ada beberapa titik kita melakukan FGD (Focus Group Discussion) gitu, tes figur, terus kita masukin. Bahkan bahas: should we address this?, ini kurang dapet, dan lain-lain," tutur Ronny saat ditemui di Epicentrum XXI, Jakarta pada Rabu, 3 Juni 2026.
Lebih lanjut, Ronny juga menerangkan bahwa metode yang diterapkannya bersama tim film maker terkadang menuntut konsekuensi yang cukup berat bagi linieritas pengerjaan animasi.
"Sayangnya ada yang memang harus di-address tapi sifatnya lumayan besar impact-nya terhadap apa yang sudah diproduksi gitu. Jadi kita harus agak mundur lagi dalam tahap produksi yang linier itu, harus mundur, redo katakanlah a chunk of work selama sekitar dua sampai tiga bulan," ujarnya jujur.
"Kami harus melakukan redo (menggarap ulang) bongkahan pekerjaan animasi (a chunk of work) yang memakan waktu sekitar dua sampai tiga bulan. Tapi semua pengorbanan itu kami lakukan demi memastikan bahwa apa yang ditonton itu bisa relate, bisa reach out ke hati penonton gitu. Itu yang paling penting buat kita," lanjutnya.
Selain tantangan kreatif, Ronny juga harus menghadapi realitas industri film yang menuntut keseimbangan antara kualitas dan efisiensi biaya produksi. Menurutnya, penggunaan teknologi animasi paling mutakhir memang memungkinkan hasil visual yang lebih kompleks, namun biaya yang dibutuhkan juga jauh lebih besar.
Karena itu, tim produksi memilih pendekatan yang lebih realistis dengan memaksimalkan metode kerja dan kreativitas para animator tanpa harus bergantung pada teknologi paling mahal di industri.
"Metode itu kan way of doing ya, bukan teknologi. Tapi kalau kita ngomongin teknologi, mungkin karena request dari Mbak Shanty (produser film) atau yang saya juga melihat dari bisnis film atau ekonomi filmnya, kami tidak bisa memaksakan diri menggunakan teknologi paling mutakhir karena price point-nya akan menjadi terlalu tinggi jika film ini hanya dipasarkan di Indonesia," papar Ronny realistis.
Ia menambahkan, penggunaan teknologi kelas tertinggi akan menuntut pasar internasional yang jauh lebih besar agar biaya produksi dapat tertutupi.
"Itu harus dijual di internasional untuk menutupnya. Tapi kalau metode, the way of doing, itu bisa," tutup Ronny Gani.
Film animasi Garuda Di Dadaku bakal tayang pada 11 Juni 2026 yang bertepatan pada libur anak sekolah. Film ini dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris berbakat Tanah Air seperti Keanu Azka, Kristo Immanuel, Quinn Salman, hingga nama-nama besar seperti Ibnu Jamil, Revalina S. Temat, dan Emir Mahira yang bakal menjadi pengisi suara karakter-karakter animasi di film ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News