Sayangnya, tidak semua masyarakat mengerti cara mencerna berbagai informasi yang ada di hadapannya. Akhirnya, masyarakat ramai-ramai terhasut oleh berbagai hal yang ditemuinya di media, entah itu media sosial atau media berita.
Entah apa yang mendasari, kabar seputar kehidupan pribadi selalu menjadi hal menarik bagi masyarakat. Itu pula yang membuat kabar seputar hubungan personal para selebritas selalu jadi bulan-bulanan media. Semakin fantastis kisah yang disuguhkan, semakin ramai orang “mengerubunginya.”
Menyadari hal itu, terkadang selebritas pun memanfaatkannya. Membuat suatu drama pribadi yang sengaja diumbar agar disorot publik.
Sepertinya, Deddy Corbuzier muak dengan segala hal itu. Hingga lahirlah sebuah gagasan bernama Triangle. Sebuah upaya Deddy menjelaskan perlunya literasi media bagi masyarakat, lewat sebuah film.
Triangle, seri film laga yang diunggah Deddy ke YouTube sukses meraup simpati, juga kontroversi. Film tersebut disebut Deddy dibuat tanpa biaya, dengan alat perekam dari ponsel pintar. Gareth Evans, sutradara film The Raid bahkan gatal hingga akhirnya angkat bicara soal film gagasan Deddy itu.
Sejauh ini, Deddy baru mengunggah dua seri Triangle, yaitu Triangle The Red Side dan Triangle The Golden Side. Menurut analisa Metrotvnews.com, Deddy berupaya menggambarkan media itu sebagai sebuah segitiga, yang masing-masing sisinya memiliki perspektif tersendiri. Dua sisi dari tiga sisi Triangle sudah diungkap Deddy, yaitu The Red Side dan The Golden Side.
Deddy dalam deskripsi video Triangle The Golden Side menulis bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah kritik, dia menyebutnya “pseudo reality movie.”
Di akhir film, Deddy menjelaskan secara gamblang tujuan dari penggarapan film Triangle.
“Perspektif adalah apa yang Anda lihat, realita adalah apa yang benar-benar terjadi. Di sini, kami menggabungkan perspektif dan realita memainkan pikiran Anda, ingat selama ini apa yang Anda lihat, adalah apa yang saya ingin Anda lihat,” ucap Deddy di film itu.
Bagi sebagian masyarakat yang belum paham, tentu hanya melihat film Triangle sebagai sebuah sensasi Deddy semata. Tetapi kenyataannya, pria berkepala plontos itu mengajak kita menyadari bahwa sangat penting untuk memahami cara kerja media. Apa yang ditampilkan dalam media, tidak sepenuhnya sesuai dengan realita, dibutuhkan sikap kritis dalam mencerna informasi.
Bukan Deddy Corbuzier namanya jika tidak menyampaikan sesuatu dengan cara biasa dan Triangle adalah upayanya yang patut diapresiasi agar masyarakat tak melulu bergejolak akibat kepolosannya dalam menelan mentah-mentah apa yang ditemuinya di media, apapun bentuknya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News