Adik Ahok Protes Film A Man Called Ahok Tak Sesuai Realitas
Daniel Mananta sebagai Ahok dalam film A Man Called Ahok
Jakarta: Fifi Lety Tjahaja Purnama, adik perempuan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok enggan melihat hasil film A Man Called Ahok garapan Putrama Tuta, sutradara sekaligus penulis naskah film. Cerita yang diadaptasi dari buku berjudul sama dari Rudi Valinka (@kurawa) dianggap kurang menggambarkan sosok ayah Ahok di kehidupan nyata.

"Saya enggak tega nontonnya. Masa kecil kami dan papa, mama kami jadi beda. Bahkan sopir kami pun beda. Bukankah true story harusnya sama dengan cerita aslinya dan orang-orang yang diceritakan sebaik mungkin sesuai dengan karakter yang ada?" tulis Fifi pada keterangan tertulis di Instagram pribadi, Rabu, 7 November 2018.

Fifi bercerita, ada beberapa adegan dan gaya penokohan yang kurang sesuai dengan kisah nyata. Ia dan Ahok bahkan sudah memilah bagian mana yang sebaiknya diangkat ke film. Namun, dari tim produksi memberikan naskah jadi setelah film selesai melakukan syuting. Fifi sangat kecewa.


"Saya sudah berkali-kali mencoret transkrip meminta buang semua adegan bohong. Tetapi ternyata mereka sudah selesai syuting baru kasih kita baca transkrip dan baru minta kita support dan approved."

"Untung akhirnya BTP (Basuki Tjahaja Purnama) ikut campur minta dengan keras buang semua cerita bohong. Kalau tidak, enggak kebayang film jadinya seperti apa. Semua cerita bohong sudah dibuang, yang lain, ya sudah terpaksa diterima walaupun tidak sesuai," tulis Fifi.

Di samping itu, Fifi juga menyayangkan penokohan ayahnya yang tidak sesuai dengan realitas. "Saya tidak tega menonton gambaran tentang papa saya. Buat yang mau nonton silakan saja, ambil positifnya saja kayak Koko Yuyu (Basuri)," ujar Fifi.

Fifi kemudian menyematkan enam potongan video yang dirasa sangat mewakili kisah keluarganya dengan tokoh utama Ahok. Ia mengimbau agar penonton yang ingin mengetahui Ahok agar membaca buku dan menyaksikan cuplikan tersebut.

Sementara dalam unggahan lain, Fifi membandingkan beberapa elemen dalam film biografi Jenderal Soedirman dan A Man Called Ahok. Cerita itu dibagikan ketika ia melihat penumpang di sebelahnya menyaksikan film Jenderal Soedirman yang dinilai sudah tepat dalam penokohan.

"Di pesawat yang duduk di sebelah saya lagi nonton film Jenderal Soedirman. Di film ini bukan cuma tokoh utama yang diperhatikan. Dari pakaian, gaya rambut, dibuat sama juga untuk tokoh-tokoh lain. Sayang, di film A Man Called Ahok cuma tokoh Ahok yang penting dibuat sama gayanya. Bajunya dapet banget, bagus, happy lihatnya," tulis Fifi.

A Man Called Ahok dirilis di bioskop 8 November 2018. Fifi menyayangkan penokohan dalam film selain Ahok, terutama tokoh sang ayah yang diabaikan nilai faktanya.

"Tokoh lain diabaikan, contoh papa kami. Mereka bilang tokoh papa saya enggak penting. Ya sudah, tidak apa-apa. Papa kami tidak penting makanya baju karakter dan lain-lain tidak perlu disamakan dengan beliau."

"Buat saya kenangan tentang papa saya yang sudah meninggal sangat penting. Karakter orangtua saya seperti apa, bajunya juga, rumah, dan lain-lain itu semua memories saya yang indah," kenang Fifi.

Selain film Jenderal Soedirman, Fifi ikut menyandingkan A Man Called Ahok dengan film Habibie. Detail cerita pada film biografi Presiden Indonesia ke-3 itu menurutnya sudah sesuai pada zamannya. Fifi pun mengenang bagaimana sosok ayah dan ibunya dulu.

"Gaya papa pakai baju tambang khusus ciri khas beliau. Selalu pakai baju safari di setiap acara resmi juga acara ulang tahun saya. Setiap tahun barengan open house papa selalu pakai safari dan mama selalu cantik menghormati tamu-tamu yang datang."

"Papa pakai baju selalu dimasukkan, rapi banget. Rambut selalu disemir rapi. Mama pun selalu cantik. Baju bagus-bagus dan selalu dandan rapi. Ini memories kami yang indah," tutur Fifi.

View this post on Instagram

Buat yg kangen dan mau tahu kebenaran, nonton lah you tube ini dan bacalah Buku A man called Ahok.  Karena Waktu bikin Buku dan you tube ini masih jujur research dan buat cerita Yg benar2 berdasarkan bukti fakta Yg ada makanya kita approved.  Tetapi Ternyata setelah film jadi ....saya engak tega nontonnya  masa kecil Kami dan papa Mama kami Jadi beda bahkan sopir kami pun beda k???? Bukankah true story Harusnya sama dgn cerita aslinya dan org2 Yg Di cerita kan sebaik mungkin sesuai dgn karakter yg ada? Film2 bagus hasil karya Yg baik sampai baju pun Di sama kan dgn zaman dan tokoh tersebut.  Org Yg memerakan tokoh Yg Di perankan paling tidak pernah ketemu ya x Kalau masih Hidup orgnya ? Kalau uda meninggal paling tidak foto2nya kan ya ? Research gitu x ya ?  Kalau saja Saya tidak pernah membantu mrk tentu Saya tidak Perlu kecewa karena film ini tdk akan pernah ada.  Saya tidak bisa diam saja  karena ini cerita Papa saya Yg mrk buat namanya kejujuran dan kebenaran tetap harus Di utanakan Apapun alasannya kan mottonya juga BTP. Saya uda ber x2 mencoret transkrip meminta buang semua andengan bohong Ttp Ternyata mrk sudah selesai shooting baru kasih kita baca transkrip dan baru minta kita support dan approved.  Untung akhirnya BTP ikut campur minta dengan keras  buang semua cerita bohong, Kalau tidak Engak kebayang film jadinya spt apa. Well semua cerita bohong Uda Di buang Yg lain ya uda terpaksa Di Trima walaupun tdk sesuai Ttp ya uda lah Penting engak ada kebohongan dan tidak merugikan BTP.  Untuk film saya  Sudah minta ber x2 gambaran Papa saya Diisesuai kan dgn Papa saya Ttp karena mrk uda selesai shooting baru kasih liat transkrip ke kita ., ya jadi Sedih kok Papa saya kayak gitu cara pakaiannya gayanya semua beda. Untunglah semua bagian2  bohong tdk sesuai  aslinya Sudah Di cutt itupun setelah koko Ahok sendiri Yg minta baru mrk mau cutt bagian2 tsb.  Akhirnya keluarga terpaksa trima tidak sesuai dengan true story asal ada foto2 asli kami Di masukan di film tsb. Saya tidak tega nonton gambaran ttg papa saya dengan Gaya Yg bukan Papa saya.  Buat yang mau nonton Silakan aja ambil positipnya aja kayak koko yuyu ( Basuri ) ????????????

A post shared by Fifi Lety Tjahaja Purnama (@fifiletytjahajapurnama) on




 



(ELG)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id