Film Pohon Terkenal (Foto: dok. humas polri)
Film Pohon Terkenal (Foto: dok. humas polri)

Ulasan Film Pohon Terkenal

Hiburan ulasan film
Purba Wirastama • 22 Maret 2019 16:55
Bara terpaksa mengiyakan permintaan untuk masuk Akademi Kepolisian setelah ibunya dirawat di rumah sakit. Semenjak lulus SMA, Bara (Umay Shahab) sudah setahun menganggur. Bagi sang ibu, pendidikan Akpol yang gratis adalah pintu untuk keluar dari beban ekonomi pas-pasan mereka di Jakarta.
 
Keterpaksaan itu menjadi beban pikiran Bara berlarut-larut. Setelah satu tahun menjadi taruna, dia tetap merasa diri terkekang. Akibatnya, dia menyepelekan pendidikan dan hampir selalu berusaha kabur setiap ada kesempatan. Namun meski enggan menjadi polisi, pemuda 19-20 tahun ini belum punya rencana lain.
 
Di sana, Bara bertemu dengan Johanes (Raim Laode), rekan taruna dari Papua yang sangat ramah kendati sulit punya teman, serta Ayu (Laura Theux), rekan taruna perempuan (taruni) yang diremehkan karena statusnya sebagai anak tunggal seorang petinggi Polri. Semula Bara enggan peduli perhatian mereka, tetapi nyatanya, hanya mereka berdua yang berusaha akrab dan memahami.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pelanggaran demi pelanggaran disiplin membuat Bara sering dihukum. Kadang Ayu dan Johanes ikut terlibat. Itu yang membuatnya dikenal sebagai "pohon terkenal" di kalangan akademi. Di sisi lain, Ayu dan Johanes mudah tertinggal dalam kemampuan. Lengkap sudah mereka bertiga sebagai underdog.
 
Namun bagi akademi, mereka tetap diterima sebagai taruna yang butuh didikan keras seperti lainnya. Bagi akademi, keterpaksaan Bara bukanlah masalah serius karena yang terpenting, kesediaan dirinya untuk ditempa sesuai nilai-nilai ideal akademi.
 
Melihat konteksnya sebagai film produksi Divisi Humas Polri, sejak awal film Pohon Terkenal memang hendak mengenalkan dinamika pendidikan Akpol yang barangkali tidak diketahui kebayakan orang. Seperti tampak dalam film, menjadi taruna adalah pilihan jalan hidup sejak remaja untuk bisa mengabdi kepada negara.
 
Perjalanan ini tidak mudah, sebagaimana ditampilkan lewat kisah Bara, Ayu, dan Johanes. Mereka harus menekan keinginan pribadi, menjunjung solidaritas tim, menjaga citra kepolisian, dan memisahkan ego dengan kepentingan yang lebih tinggi. Di sisi lain, mereka mendapat kesempatan aktualisasi diri lewat kegiatan seni dan kompetisi.
 
Bagi yang menyangka bahwa tempat pendidikan polisi adalah suatu arena yang kaku dan dingin, film ini mampu memberikan wawasan lain betapa taruna punya dinamika kehidupan seperti remaja-dewasa pada umumnya. Sutradara-penulis Monty Tiwa bersama rekannya Annisa Meutia membungkus drama ini dengan sentuhan komedi yang membuatnya mudah dinikmati. Performa akting Umay, Laode, Laura, serta Cok Simbara dan Adjisdoaibu adalah kolaborasi segar yang patut disimak.
 
Sementara itu, ada juga konflik percintaan Ayu dan Bara, hubungan romantis sesama taruna-taruni yang dilarang oleh akademi. Unsur drama ini mungkin terasa picisan, tetapi sebetulnya juga natural tanpa niat untuk menjadikannya sangat melankolis.
 
Sejumlah elemen cerita terasa ganjil dan kurang lengkap. Namun ini tidak terlalu menurunkan semangat film Pohon Terkenal untuk mengenalkan dinamika kehidupan para taruna dan taruni Akpol yang menyenangkan. Jangan lewatkan adegan ekstra khas film detektif setelah credit title.
 

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif