Melalui unggahan di akun Threads pribadinya, Arie Kriting menyampaikan sejumlah saran kepada pihak penyelenggara FFI.
Kritik Stereotip Karakter Indonesia Timur
Salah satu saran yang disampaikannya menyoroti kritik terhadap stereotip karakter Indonesia Timur di industri film nasional. Arie menilai penggambaran karakter dari kawasan tersebut sering kali hanya dipandang dari sudut pandang masyarakat perkotaan yang dangkal.“Apakah karakternya harus miskin, tersiksa, atau diperkosa dulu baru dianggap? Karena sepertinya hanya itu definisi yang hadir di kepala banyak orang kota ini ketika bicara tentang Orang Timur,” tulis Arie Kriting dalam keterangan unggahannya, pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Ia kemudian mempertanyakan keterbatasan sudut pandang tersebut.
“Memangnya kenapa kalau berperan sebagai Ibu pada umumnya seperti yang dimainkan oleh Irma Rihi di film Na Willa itu?” lanjutnya.
Arie mengaku terkesan dengan penampilan Irma Rihi yang membawakan sosok ibu dalam film Na Willa. Ia bahkan berharap sang aktris dapat masuk dalam jajaran nominasi FFI 2026.
“Cita rasa Indonesia Timurnya tidak hilang tapi bukan jadi menu utama. Sehingga saya bisa menikmati sekali akting dia sebagai seorang Ibu. Dan jujur saja, saya berharap besar dia bisa dipertimbangkan sebagai nomine di FFI tahun ini,” tulis Arie.
Kesetaraan Apresiasi Keberagaman Logat
Selain persoalan penokohan, Arie menyoroti perbedaan standar apresiasi saat aktor perkotaan menirukan logat daerah tertentu dibanding sebaliknya. Menurutnya, keberagaman logat dan dialek di berbagai daerah sepatutnya dihargai secara setara.
“Sebenarnya kami juga sangat sering merasa aneh dengar kalian logat Timur. Kadang suting di Sumba, dialek di Ambon. suting di Sulawesi, dialek di Papua. Tapi, harus tetap diapresiasi,” tulis Arie.
Mendorong Perluasan Perspektif Penjurian FFI
Arie menegaskan bahwa pemilihan nomine merupakan hak penuh dewan juri dan ia tidak bermaksud menggugat keputusan tersebut. Namun, ia berharap proses penjurian FFI dapat memperluas perspektif agar dimensi karakter di layar lebar tidak sekadar menyentuh lapisan permukaan.
“Jadi dalam kesempatan ini saya sekadar menyarankan saja apa tidak sebaiknya teman-teman yang berkaitan dengan penjurian FFI ini menggali lagi perspektif mengenai karakter, terutama yang juga berkenaan dengan karakter daerah tertentu,” tulis Arie Kriting.
“Menggali lagi, biar sudut pandangnya tidak dangkal dan berputar di permukaan lalu luput mengenali bentuk-bentuk lain dari karakter yang hadir di layar lebar,” lanjutnya.
Melalui masukannya, Arie berharap FFI ke depan dapat merangkul ragam karakter yang lebih segar dari berbagai latar belakang. Dengan demikian, wajah perfilman nasional dinilai mampu merepresentasikan keberagaman Indonesia dari Sabang sampai Merauke secara utuh.
Baca Juga :