Produksi King Lear tersebut merupakan kolaborasi Suzuki Company of Toga (SCOT) dan Bumi Purnati Indonesia bersama The Japan Foundation. Pementasan ini menjadi bagian dari program Partnership to Co-create a Future with the Next Generation: WA Project 2.0.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya pertukaran antarmasyarakat atau people-to-people exchange antara Jepang dan negara-negara di Asia Tenggara. Kerja sama ini juga membuka ruang pertemuan antara metode teater Jepang dan perkembangan seni pertunjukan di Indonesia.
Dalam versi Tadashi Suzuki, kisah King Lear tidak hanya ditempatkan sebagai tragedi seorang raja yang kehilangan kekuasaan. Cerita Shakespeare tersebut diolah menjadi pengalaman tentang manusia lanjut usia yang berhadapan dengan ingatan, kesepian, kehilangan, dan perubahan dalam hidupnya.
Apresiasi Tubuh Indonesia
Seni pertunjukan tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membawa nilai edukasi, spiritualitas, dan kritik. Dalam perkembangan teater Indonesia, pengetahuan tentang metode akting sering kali lebih banyak merujuk pada tokoh-tokoh Barat. Mengenal Tadashi Suzuki menjadi penting, bukan sekadar mempelajari sebuah metode dari Jepang, tetapi yang paling utama adalah melihat kembali potensi ketubuhan yang lahir dari tradisi Indonesia.Metode Suzuki memiliki kedekatan dengan tradisi gerak di Indonesia: posisi tubuh yang rendah, kekuatan kaki, keseimbangan, serta kesiagaan instingtif. Tubuh tidak sekadar menjadi alat ekspresi, tetapi sumber energi yang perlu dikenali dan disadari.
Konsep pemikiran ini beresonansi dengan semangat Bumi Purnati Indonesia yang terus mengedepankan ketubuhan tradisi Indonesia dalam karya-karya kontemporer, baik yang diproduksi sendiri, maupun dalam sebuah kolaborasi dengan sutradara-sutradara internasional. Bahkan, dalam konteks yang lebih luas, proses pembelajaran dan pertukaran ini juga dapat dilihat sebagai salah satu bentuk diplomasi budaya.
Adaptasi King Lear Karya Suzuki
Dunia kerajaan Shakespeare dipindahkan ke sebuah rumah sakit atau ruang perawatan orang tua. Lear bukan hanya seorang raja yang kehilangan kekuasaan, melainkan seorang lelaki tua yang hidup bersama ingatan dan pikirannya sendiri. Kerajaan dapat dibaca sebagai ingatan, pengkhianatan anak-anaknya sebagai trauma, sementara badai menjadi kekacauan dalam tubuh dan pikirannya.Tragedi dibangun bukan melalui melodrama, melainkan melalui tubuh yang tertahan: gerak sedikit, ruang luas, dan suara yang muncul dari tubuh yang nyaris tak mampu menanggung penderitaan. Semakin sedikit tubuh bergerak, semakin besar kekosongan yang terasa. Pada akhirnya, yang tersisa bukan seorang raja, melainkan manusia tua dalam kesunyian.
Lakon King Lear setelah bertahun-tahun dimainkan oleh aktor Jerman, untuk pementasan di Indonesia kali ini, akan diperankan oleh Jamaluddin Latif. Ia telah menjalankan pelatihan Metode Suzuki selama bertahun-tahun di bawah payung kerja sama Suzuki Company of Toga (SCOT) dan Bumi Purnati Indonesia.
Perjalanan Jamal menjadi penting karena metode tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan yang dipelajari secara teoritis. Hasil bertahun-tahun latihan telah membentuk pengalaman ketubuhan yang kemudian dibawa ke atas panggung. Pengalaman Jamal menunjukkan bahwa penguasaan metode bukan hanya persoalan keterampilan, melainkan juga konsistensi, disiplin, loyalitas, dedikasi, dan kerendahan hati untuk menerima sebuah pembelajaran.
Kolaborasi SCOT dan Bumi Purnati Indonesia
Kerja sama antara SCOT dan Bumi Purnati Indonesia merupakan sebuah hubungan yang relatif langka karena mampu bertahan lebih dari sepuluh tahun. Kolaborasi yang bisa bertahan sedemikian lama ini bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan membangun hubungan yang memungkinkan adanya kepercayaan dan pembelajaran yang didasari sebuah pertukaran pengetahuan, disiplin, dan dedikasi yang menjadikan seni sebagai jembatan budaya Indonesia-Jepang.Pengalaman dan pembelajaran dari berbagai kolaborasi seperti inilah yang mendorong Bumi Purnati Indonesia untuk terus mencari, menggali, dan mengembangkan potensi kekayaan tradisi Indonesia.