Proyek Dokumenter Filipina dan Indonesia Borong Hadiah Docs By The Sea 2018

Purba Wirastama 10 Agustus 2018 09:41 WIB
film dokumenter
Proyek Dokumenter Filipina dan Indonesia Borong Hadiah Docs By The Sea 2018
Pemenang forum film dokumenter Docs by The Sea 2018 (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)
Kuta: Forum dokumenter internasional Docs By The Sea 2018 telah usai digelar di Bali selama sepekan pada 2-9 Agustus. Dari 31 proyek film yang diajukan, ada 12 proyek dipilih untuk mendapatkan sejumlah hadiah dari enam mitra dokumenter internasional. 

Secara kebetulan, 12 proyek pemenang ini berasal dari para pembuat film Filipina atau Indonesia. Tiga proyek mendapat hadiah ganda, yaitu How Far I'll Go dari Ucu Agustin, The Songbirds of Aceh dari Aminda Faradila, serta Touch the Colour dari Baby Ruth Villarama. 

Seluruh hadiah ini adalah komitmen kerja sama dari sejumlah mitra Docs By The Sea sejak awal bergabung, meliputi IDFA Belanda, DOK Leipzig Jerman, AIDC Australia, Docs Port Incheon Korea Selatan, Current Time TV Rusia, serta Tribeca Film Institute AS. Lalu ada hadiah tambahan dari NHK Enterprises Jepang. 


Namun selain komitmen hadiah, semua proyek dalam DBTS sebetulnya punya peluang untuk mendapatkan kerja sama dengan 30-an mitra dokumenter lokal dan internasional yang datang. 

Tahun ini adalah gelaran kedua Docs By The Sea, yang dikelola oleh In-Docs dan Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf). Berikut daftar lengkap penerima hadiah tahun ini.

1. IDFA Prize

International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) hendak memberikan hadiah berupa undangan untuk mengikuti program bimbingan IDFAcademy dan kesempatan menyimak Forum IDFA dalam Festival Film Dokumenter Amsterdam 2018. 

Proyek terpilih adalah Under The Stars dari sutradara-produser Venice Atienza (Filipina). Film hendak mendalami kehidupan Reyboy, bocah 12 tahun yang besar di kampung nelayan dekat gunung yang akan pindah ke kota untuk melanjutkan sekolah.

2. DOK Leipzig

DOK Leipzig, festival dokumenter dan animasi tertua di dunia yang berbasis di Jerman, memberikan akses untuk bertemu dengan investor potensial lewat ajang DOK Co-Pro Market. Proyek terpilih adalah Miss Universe in Jail dari sutradara Max Canias dan produser Josef Gacutan (Filipina), mengikuti kisah lima pria yang justru menemukan kebebasan di penjara.

DOK Leipzig memberi satu hadiah tambahan berupa dukungan untuk menyelesaikan produksi. Hadiah diberikan kepada proyek An Elegy to Forgetting dari sutradara Kristoffer Brugada dan produser Cha Escala (Filipina), tentang perjuangan orang tua si pembuat film dalam menghadapi penyakit Alzheimer.

3. AIDC Prizes

Awalnya, Australian International Documentary Conference (AIDC) memberikan hadiah bagi satu proyek saja berupa undangan pitching ke forum AIDC 2019. Namun setelah menyimak 21 proyek yang diajukan, mereka memberikan hadiah bagi dua proyek terpilih.

Pertama adalah Sculpting the Giant dari Seeds Motion Bali (Indonesia), mengikuti kisah tim pematung Nyoman Nuarta dalam membangun sebuah patung besar selama 28 tahun. Kedua adalah Help is on the Way? dari sutradara Ismail Fahmi Lubis (Indonesia), mengikuti kisah sekolah TKI di Indramayu. 

4. Docs Port Incheon Prizes

Docs Port Incheon, pasar proyek dokumenter internasional di Korea Selatan, memberi akses bagi sejumlah proyek film untuk tampil dalam ajang tersebut edisi 2018. Ada tiga proyek terpilih. Pertama adalah The Songbirds of Aceh dari sutradara Aminda Faradila (Indonesia) dan produser Jean Chang (Malaysia), mengikuti kisah perjuangan kelompok paduan suara remaja. 

Kedua adalah Touch the Colour dari sutradara Baby Ruth Villarama dan produser Carlo Joel Gutierrez (Filipina), mengikuti kisah dua saudari yang merawat anak hilang selama setahun, tetapi dituduh menculik dan telah dipenjara 18 tahun hingga sekarang. Ketiga adalah Press Play dari Jayson Bernard Santos dan Kristoffer Brugada, mengikuti kisah sebuah keluarga kaya raya. 

5. Current Time TV's Best Pitch Award

Current Time, kanal televisi Rusia yang punya jaringan siaran dunia, memberikan hadiah bagi satu proyek berupa dana USD3.000 bersamaan dengan akuisisi film tersebut untuk siaran televisi mereka. 

Proyek terpilih yaitu Philosophy Gang: Your Fantasy Right Here! dari produser Alvin Yunata dan Maulana Aziz serta sutradara Gerry Apriyan (Indonesia), mengikuti kisah di balik album musik pertama Harry Roesli rillisan 1973. Atas saran para mentor, judul proyek ini diganti menjadi Don't Talk About Freedom. 

6. Tokyo Docs Prize

Ini adalah hadiah "dadakan" atau tambahan yang diberikan oleh NHK Enterprises pada hari terakhir forum DBTS 2018. Satu proyek terpilih mendapat undangan pitching ke forum Tokyo Docs 2018. Proyek ini adalah How Far I'll Go dari sutradara-produser Ucu Agustin (Indonesia) dan koproduser Juan Mayo (AS), mengikuti kisah dua remaja buta yang menantang diri untuk menjadi mandiri. 

7. IF/Then Prizes

Empat dari 20 proyek dokumenter pendek dipilih untuk menerima hadiah berupa dana penyelesaian produksi serta bimbingan dan dukungan distribusi. Keempat hadiah ini diberikan oleh In-Docs dan Tribeca Film Institute. Dua dari Indonesia dan dua dari wilayah Asia Tenggara selain Indonesia. 

Ada Diary of Cattle (David Darmadi dan Lidia Afrilita) tentang kehidupan tiga sapi di tempat pembuangan sampah, How Far I'll Go yang juga mendapat undangan pitching ke Tokyo Docs 2018, Bullet-Laced Dreams (Cha Escala dan Kristoffer Brugada) tentang anak-anak suku asli Mindanao, serta Songbirds of Aceh yang juga mendapat undagan pitching ke Docs Port Incheon 2018.

Selain itu, jaringan televisi Al Jazeera juga memberikan hadiah bagi satu dokumenter pendek untuk didanai secara penuh dan akan ditayangkan dalam program televisi Witness. Proyek terpilih adalah Touch The Colour (Filipina), yang juga mendapat hadiah undangan pitching dari Docs Port Incheon.

 



(ASA)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id