Jumpa pers Siddharta the Buddha (Foto: Metrotvnews/Putu)
Jumpa pers Siddharta the Buddha (Foto: Metrotvnews/Putu)

Cerita di Balik Pembuatan Film Siddhartha The Buddha

Putu Radar Bahurekso • 21 Juni 2016 15:20
medcom.id, Jakarta: Sebuah film tentang sosok Siddhartha Gautama akan mulai ditampilkan di Indonesia. Film produksi Sri Lanka pada tahun 2012 ini berjudul Siddhartha The Buddha.
 
Selain diputar di negara asalnya, film ini juga sudah diputar dan berhasil memenangi beberapa festival. Seperti penghargaan Film Terbaik di Festival Film Internasional di New Delhi dan juga Film Terbaik dalam Festival Film Buddhis Internasional di Hanoi, Vietnam.
 
Berkat kerjasama dengan PATRIA (Pemuda Theravada Indonesia), sebuah organisasi pemuda Buddhis di Indonesia, film ini akan mulai dipertontonkan di Indonesia.

Namun, film ini tidak diputar di gedung bioskop. Untuk sementara, film ini akan diputar melalui PATRIA di beberapa daerah di Indonesia seperti di Jakarta, Palembang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan beberapa kota lainnya.
 
Navin Gooneratne selaku produser menjelaskan alasannya membuat film ini serta lamanya proses pembuatan film Siddhartha The Buddha.
 
"Cerita semacam ini cukup sensitif untuk diangkat. Saya harus membawakannya dengan baik. Saya antara bisa dipuji atau dihujat ketika akan memutar film ini di Sri Lankan," ujar Navin Gooneratne, di kawasan Rasuna Said, Jakarta.
 
Setidaknya enam tahun ia habiskan untuk membuat film ini, "Saya melakukan riset dan menulis cerita untuk film ini saja butuh waktu sampai 4,5 tahun. Kemudian mencari pemainnya saya casting banyak orang, sampai akhirnya saya ketemu Gagan Malik untuk memerankan Pangeran Siddhartha itu butuh waktu dua tahun."
 
Melalui film ini ada sebuah nilai-nilai universal kemanusiaan yang ingin disampaikan kepada para penontonnya.
 
“Melalui film ini di dalamnya diceritakan tentang perdamaian, kasih sayang, dan juga melayani orang lain. Ada pesan-pesan tersebutlah yang ingin kami sebarkan,” ucap Gagan Malik.
 
Proses Pembuatan Film dan Pemutaran Internasional
 
Kurang lebih sekitar enam tahun film Siddhartha The Buddha ini dibuat dari awal hingga kemudian tayang pada 2012 di Sri Lanka. Dalam melakukan penelitian saja dibutuhkan waktu hingga 4,5 tahun. Kemudian menemukan aktor untuk memerankan Pangeran Siddhartha butuh waktu hingga 2 tahun.
 
“Dalam mencari aktor ini saya casting banyak orang baik di Sri Lanka maupun di India,” ucap Navin.
 
Gagan Malik, aktor pemeran Pangeran Siddhartha kemudian melanjutkan, “Saya adalah orang yang terlahir di keluarga Hindu. Jadi saya diaudisi di Bombay, India. Cukup sulit bagi saya menjawab pertanyaan dari Pak Navin.”
 
Bahkan, untuk mencari aktris pendukung saja ada yang membutuhkan waktu hingga setengah tahun lebih. Seperti yang dirasakan oleh Anshu Malik, pemeran tokoh Ratu Maya dalam film ini.
 
“Saya tentu terkejut dan kaget waktu dihubungi dan dipastikan untuk memainkan film ini. Karena butuh waktu enam bulan untuk dihubungi lagi dari sejak perjumpaan awal,” jelas Anshu Malik.
 
Gagan Malik yang menjadi pemeran utama dalam film ini cukup banyak menceritakan pengalamannya saat memerankan Siddhartha Gautama.
 
"Tantangannya dalam memerankan tokoh Siddhartha adalah kamu butuh semacam berkat untuk bisa memerankan tokoh ini. Tantangan berikutnya adalah saya orang India, dan film ini ditayangkan di Sri Lanka dan saya tidak bisa bahasa Sri Lanka. Jadi saya harus belajar bahasa serta cara berbicaranya," tutur Gagan Malik.
 
"Dalam memerankan tokoh Siddhartha banyak yang saya rasakan dan saya pelajari saat mendalami tokoh ini. Saya belajar banyak mengenai kehidupan, terutama tentang inner happiness dari melayani orang lain," lanjut Gagan.
 
Sukses di negara sendiri dengan menembus puncak box office di Sri Lanka dan memecahkan rekor selama 60 tahun, film ini kemudian diputar di berbagai negara seperti di Jepang, Thailand, Vietnam, India, Perancis, dan juga Indonesia.
 
Selain diputar di berbagai negara, film ini juga diputar di berbagai daerah di Sri Lanka yang tidak terjangkau bioskop. Film ini diputar secara gratis hingga kurang lebih 200 hari.
 
Ketika film ini berhasil tayang dan juga berhasil diputar di berbagai negara, Navin menyatakan kepuasannya.
 
"Tentu saya puas. Kepuasannya adalah setelah enam tahun akhirnya film ini selesai. Kemudian kami menunggu tiga tahun untuk bisa dipertontonkan ke dunia. Kepuasan yang lain adalah ketika film ini bisa memecahkan rekor box office di Sri Lanka yang sudah bertahan selama 60 tahun, lalu kita bawa film ini ke daerah-daerah terpencil untuk diputar gratis selama 200 hari," pungkas Navin.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA